Interview

Baru siang tadi saya mengalami deg-degan gara-gara sebuah wawancara (lagi). Rasanya complicated. Entah karena kedinginan dan lapar jadi grogi pengen bolak-balik ke toilet, takut tidak bisa menjawab pertanyaan, atau masih lemas gara-gara belum 100% pulih dari sakit seminggu kemarin. Wis, komplit deh!

Pertama masuk ruang tunggu, saya bertemu 5 orang kandidat lain. Masih muda-muda. Kami berbincang sejenak. Aslinya ada 8 orang yang terjadwal untuk wawancara final. Meski berusaha tenang, tetap saja saya keder. Mereka masih penuh semangat, tidak seperti saya yang menderita penurunan daya ingat rada parah dan sok kepedean tidak membawa berkas atau belajar apapun. Antara pasrah dan nekat.

Benar saja, begitu masuk saya diingatkan para penginterview  untuk come closer and talk louder. Halaah.. baru kali ini saya tambah sadar bahwa English saya ternyata kacau balau. Aduh, bagaimana dan bagaimana dong? Meski mereka mengerti apa yang saya katakan, tetap saja jika akan mengungkapkan sesuatu yang bersifat ilmiah saya harus terdiam dan berfikir cukup lama. Mendadak kehilangan kata-kata. Apalagi saat sang profesor bertanya hal-hal teknis yang menjadi dasar ilmu kali ini. Malu rasanya ketika saya benar-benar don’t know what to say. Mati kutu dan tidak ingat apapun. Pada saat itu mendadak saya menyalahkan diri yang sudah beranjak tua dan pelupa, haha..

Tapi setidaknya, interview kali ini adalah sebuah langkah besar dalam hidup saya.  Meski bukan 100% hasil usaha sendiri, saya tidak terlalu membuat malu sang pemberi rekomendasi. Saya mampu melewati tahap diwawancara dengan jawaban yang cukup membuat mereka tersenyum (entah mereka puas atau malah menertawakan betapa onengnya saya tadi). Yang jelas mereka memberikan statemen, “from now on you have to study the basic thing (again)!”

Artinya?

Kita lihat saja nanti! *pake gaya lagunya Sophia Latjuba.. hihi, jadul banget yak?*

Apapun hasilnya, pasti akan saya lewati.