My new year

Nuansa pergantian tahun di tempat saya sendu. Semenjak tanggal 31 kemarin hujan turun tak henti, bahkan sedari pagi tadi masih tetap setia. Awet. Saya tambah merana, kedinginan.

Bukan, saya tidak merana karena turun hujan. Tetapi karena tiba-tiba tergeletak lemas tak berdaya *tsaah.. bahasanya*. Baru saya sadari, jika asam lambung makin naik dan rasanya menyodok-nyodok bagian dada. Nyeri. Pasti itu karena saya tidak disiplin makan, karena sibuk berat menyiapkan syukuran sederhana buat si kecil. (Psst, padahal yang capek sih si teteh-teteh yang bantuin di rumah!) Malas makan juga disebabkan karena tiba-tiba muncul sariawan yang berjejer di setiap bagian rongga bibir plus gigi yang ngilu. Aduh.. mayday.. mayday. Lapar!

Masalah sariawan sudah teratasi dengan salep Kenalog. Perih tapi mantep. Meski belum semua hilang, tetap saja ada yang datang dan pergi terutama di bagian yang bersentuhan dengan kawat.

Rupanya selain itu saya diberi bonus lagi. Kali ini gantian, saya yang kena gondongan. Searching dimana-mana obatnya hanya antibiotik, asupan makan dan istirahat cukup. Selain ke dokter, saya memilih memakai ramuan obat tradisional. Bukan diolesi blao, tapi daun belimbing wuluh, daun, dan batangnya dicampur dengan bawang merah lalu dihaluskan. Diletakkan di tempat gondongan. Efeknya lumayan ampuh. Mendinginkan suhu badan. Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, tidak panas lagi. Tapi rasa ngilu di seluruh bagian tubuh masih terasa. Cuma saya yang rada aneh, jika mengalami panas tinggi biasanya muncul pendarahan (hm.. bahasanya), keluarnya bisa dari berbagai sumber. Benar-benar kecapean rupanya.

Jujur saja, sakit seperti ini membuat saya jadi terharu karena teringat waktu si kaka menderita sakit yang sama. Terbayang rasa berdenyut-denyut di kepala sementara ia harus menyelesaikan soal-soal ujian kemarin. Tambah terharu juga, karena si kaka jugalah yang lebih heboh mengurusi saya ini itu. Membuatkan teh manis dan bubur oatmeal. Menyuapi saya bubur kue marie. Menyimpankan kompres di kening dan ramuan bobok ¬†di leher. Sementara si kecil sibuk memegang-megang kepala saya. “Ih, mama panas banget”

Ah, diam-diam air mata saya menetes..

note : maaf belum bisa bw yah.. masih ngilu