Aneka rasa

Bertubi-tubi rasanya ketidaknyamanan menimpa. Mau bilang sekumpulan kesialan kok rasanya sangat tidak etis. Meski berusaha tidak terlalu ‘sakit hati’ tapi tetap saja terasa gelo’ (yang ini gelo’ bahasa jawa bukan bahasa sunda), hiiks..

Makan tak enak tidurpun tak nyenyak, apalagi ngeblog.. (btw, itu lagu apa ya?)

Sepulang dari perjalanan menangani kasus kemarin di Sumatra Utara ternyata masih menyisakan cerita pilu.  Rasanya saya sudah sempat mencuri-curi keluh (halah bahasanya) di postingan sebelumnya tentang betapa tak nyamannya kami selama berada di sana. Namun saya berusaha mengubah semua itu dengan memvisualisasikan nikmatnya berbagai makanan di sana (baca : aneka kue oleh-oleh khas Medan). Enak sih, tapi harganya lumayan..

Jadi ceritanya..

Perkara kesulitan toilet dan tak higienis menyisakan efek negatif buat kesehatan. Hati-hati ya teman-teman. Toilet kotor, hampir dipastikan bisa menyebabkan infeksi saluran kemih dan saudara-saudaranya. Dan itu akhirnya menimpa saya di sana. Kebayang dong seperti apa rasanya, mana di lapangan pula?

Tentang pekerjaan, saat kegiatan di lapangan akan berakhir pada jam 7 malam tiba-tiba kami didekati 4 orang lelaki besar  yang didalangi sang pengkomplen kasus. Ia langsung mengkonfrontasikan kegiatan kami. Kaget, pastinya! Untunglah mereka tidak berniat jahat, karena kami hanya berdua wanita dan seorang supir. Asli, deg-degan. Padahal perjalanan menuju hotel masih 2 jam lagi.

Belum lagi intrik pribadi teman-teman lelaki yang tidak sependapat dengan sebegitu iritnya ‘bos’ kegiatan kemarin, katanya tak sesuai janji. Ah, sambil lalu aja..

Lalu ketika pulang ke Jakarta, saat tiba di depan rumah baru saya sadari jika koper saya tidak ada di tempat. Komplen ke bagian lost & found, ternyata tidak ditemukan. Memang saat itu kami berlima membawa hampir 20 jinjingan baik berupa alat maupun milik pribadi, belum lagi koper berisi alat yang harus dibawa ke kabin.

Jadi ada dimana sang koper gerangan berada?

Lama-lama saya jadi tidak yakin. Saya jadi curiga, jangan-jangan koper itu memang tidak pernah terbawa ikut ke Jakarta alias masih tertinggal di bandara Polonia. Atau bahkan parahnya malah belum masuk conveyor, saking sibuk dengan kardus-kardus bika ambon ups.. Kopernya sih kecil dan mereknya hanya Polo-poloan, jadi tidak terlalu sakit hati kalau hilang. Tapi isinya itu adalah sekumpulan baju kotor selama 4 hari di lapangan, jilbab, rangkaian underwear, sajadah, mukena (hoho.. yang ini jadi inget seserahan, minta lagi kali yaa..), obat-obatan,  plastik isi duren, dan charger hape.

Duh, ga kebayang tuh koper bakalan semerbak wanginya. Antara bau duren dan pakaian kotor, haha..

Tapi inget charger hape, jadi gimanaaa gitu? Seharian itu saya berasa pilu, tak mampu berpikir banyak. Yang ada di pikiran saya hanya, masa sih kudu beli hape lagi? Belum lenyap rasa gelisah di hati akibat insiden hape anyar saya yang baru berusia 3 hari di akhir tahun lalu. Nokia baru itu tiba-tiba nekat ikutan diving selama hampir 15 menit dalam tas ponsel di pinggang. Tak disadari karena saat itu baju saya terguyur air saat melakukan ritual angkat-mengangkat peralatan berisi air di tempat kerja. Apes banget!

Ya ampun, betapa serunyaa…

Perasaan saya jadi aneka warna. Tidak keruan. Antara lelah, lapar, sakit gigi, sakit tenggorokan (yang ini gara-gara dikasih es krim di pesawat), sedih, marah, kesepian, dan lain-lainnya. Semua itu membuat saya ingin jadi kura-kura yang bersembunyi dalam cangkangnya. Jadi tidak bisa berpikir jernih.

Tapi sekarang sih, alhamdulillah sudah lumayan cenghar (kalau kata orang Sunda), sudah membaik. Sudah mulai beraktivitas melaksanakan hutang sisa-sisa kegiatan yang lalu. Meski masih disertai suara serak-serak batuk.

Yuk, semangat!