Rupa-rupa galau

Hm, edisi galau kembali melanda.

Sebenarnya sih ga ada apa-apa, cuma kebetulan lingkungan sekitar aja yang kurang mendukung suasana hati.

Nomer 1, saya ‘tertinggal’ seorang diri di ruangan bersama pekerjaan yang seabrek-abrek (yang ini lebay). Eh, tapi ada sih yang banyak membantu saya, masih ada anak PKL. Kalo ga ada dia, saya bisa nangis kejer kali (yang ini lebih lebay).

Pengen kabur dan jalan-jalan. Tapi kalau saya ga ada di kantor siapa yang beresin dong?

Masalahnya bukan karena kerjaan yang belum selesai. Tapi lebih kepada ‘keanehan-keanehan’ atas hasil pekerjaan yang saya dapatkan.

Kenapa bisa begitu? huhu…

Saya yakin ini bukan murni kesalahan saya, tapi memang kebetulan segala aspek pendukung yang tidak bisa bekerja 100% maksimal. Hasilnya jadi ‘ajaib’.

Oke, lupakan saja! Laporkan apa adanya dengan penuh catatan pertimbangan ini itu.

Nomer 2, tadi sore si sulung lapor kalau nilainya anjlok. (Asli) saya rada kecewa. Meski saya bisa maklum karena sepanjang ulangan kemarin, ia menderita penyakit gondongan dan panas tinggi. Walau sakit ia bersikeras tak ingin menunda ikut ujian. Saya cuma khawatir jika sebenarnya ia tidak konsen belajar karena terlalu asyik dengan dunia maya. Saya juga mendapatkan laporan yang sama dari orangtua yang punya anak sebaya, yang mengeluh anaknya anteng dengan hape. Si sulung juga idem, bukan hape tapi ia sedang maniak jadi Sone dan rajin ngegame Ameba Pico.

Wis, lupakan lagi! Tadi ia berjanji akan berusaha lebih baik lagi, insya Allah katanya…

Nomer 3, saya sedang kebingungan mencari pilihan antara netbook atau laptop. Mau merek apa, spek-nya apa, buat apa (lha?). ¬†Aneh kan? Padahal ‘bank dunia’ sudah mengucurkan dana. Bayarnya bisa dicicil. Kalau galau, semua harus dimaklumi. Semua masih serba kurang jelas. Semakin banyak mencari referensi, malah semakin bingung. Yang ada, saya malah beli hape (tapi ga mahal kok).

Aiih, ini malah lebih ga jelas..

Nomer 4, saya masih penasaran dengan seringnya kehilangan uang. Entah di rumah atau di kantor, semua masih belum ada titik terang. Tapi itu juga karena salah saya, kurang apik sama barang pribadi.

Uh, agak nyesek. Tapi gimana dong ya? Belum rejekinya.

Nomer 5, saya dikejutkan dengan keinginan si kecil yang bersedia disunat pada hari Kamis besok. Serius? Ya ampun, gimana atuh? Kok malah saya yang jadi nervous sih. Ayahnya sih kurang setuju, karena ia masih kecil. Tapi saya pikir juga banyak kok anak-anak yang lebih kecil yang sudah disunat. Ditambah pula, metode apa yang akan dipakai masih bingung. Mau konvensional, electric cauter, apa dengan klamp? Makin banyak membaca artikel, malah emaknya yang keder. Sementara yang bersangkutan sibuk membuat wishlist.

Hwaduuh, kumaha ieu teh?

Asli kepala saya berdenyut-denyut dan hilang selera makan (ditambah masih ribet ama kawat). Btw, tadi habis nimbang badan ternyata sudah turun 2 kg euy!