Di sebuah tempat pengasingan

(Seharusnya) saya bisa menjadi salah satu saksi mata untuk langsung menikmati pesona pulau Bangka karena jadwal tugas sudah disusun. Namun karena kabarnya medan di sana cukup sulit untuk perempuan, maka petugas digantikan oleh para lelaki. Sebenarnya yang disebut medan cukup berat berada di kabupatan Bangka Selatan. Kabarnya (lagi) di sana agak sulit menemukan warung makan, penginapan  sehingga harus tidur seadanya (di tenda atau menumpang di rumah penduduk), jauh dari mana-mana, dan di tengah perkebunan sawit.

Di Bangka Barat selain bisa menikmati keindahan pantai putih, tim kami juga berkesempatan berkunjung sekaligus menempatkan peralatan di salah satu situs sejarah Wisma Menumbing (yang sejujurnya baru saya ketahui sekarang).

Awalnya sang penjaga wisma agak berberat hati mengijinkan tim kami memasang peralatan di sekitar wisma bertepatan malam  1 syuro. Jangan tanya kenapa ya? Namun setelah “berkonsultasi” sejenak, beliau kembali lagi dengan membawa berita baik. Alat diijinkan dipasang. Ketika selesai pemasangan dan baru saja ditinggal tidak sampai 30 menit, tiba-tiba sang penjaga menelpon dan mengabarkan bahwa alat yang kami pasang tiba-tiba mati. Jadi .. balik lagi deh!

Saatnya menikmati suasana sendu di Menumbing karena sepanjang hari diselimuti kabut.

Ini adalah foto repro penampakan sebuah gedung megah yang disebut Wisma Menumbing. Terletak di puncak gunung Menumbing, sekitar 450 meter dari atas permukaan laut dan didirikan pada tahun 1927. Dalam foto tertulis wisma menumbing 1948-1949, anno : oktober 1928. Gedung ini merupakan salah satu situs sejarah di pulau Bangka, tepatnya di Muntok (Mentok) kabupaten Bangka Barat.  Tempat ini pernah dijadikan tempat pengasingan para tokoh nasional seperti Bapak Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. Moeh Roem, Mr Assaat, dan lain-lain

Gambar di atas merupakan perwujudan Wisma Menumbing di awal bulan Desember 2011. Dilihat tampak depan, dari sisi samping kiri belakang, dan dari lantai atas. Masih dengan sisa kekokohan dan peninggalan masa lalu yang sama, namun terlihat kurang terawat. Juga sedikit dibayangi terjadinya keruntuhan akibat eksplorasi timah di sekitar lokasi.

Di sekitar Wisma Menumbing dikelilingi oleh berbagai jenis pohon, luasnya sekitar 2 hektar. Dibagi menjadi satu bangunan utama (ada 6 kamar) dan 2 paviliun (masing-masing terdiri dari 6 dan 7 kamar). Di dalamnya terdapat ruangan yang memajang berbagai peninggalan para tokoh bangsa antara lain ruang kerja Bung Karno, tempat membaca, kamar tidur, berbagai catatan para tokoh, dan juga kerangka sebuah mobil volkswagen hitam.

Di dinding banyak  tulisan tangan para tokoh yang dipajang seadanya. Hanya berbekal tulisan mesin tik yang sudah tintanya sudah aus atau tulisan tangan yang dimakan usia. Dilapisi plastik biasa dan ditempel dengan lakban merah atau memakai paku payung. Semua itu koleksi pribadi keluarga Bapak Djoiosoemarto (alm) yang dahulu melayani para tokoh. Meski hanya lewat foto, miris rasanya melihatnya. Tidak adakah usaha yang lebih lagi?

Ketika hal-hal lain berisi tulisan maupun catatan perjuangan bangsa, maka ada satu hal menarik dari Bung Karno yang terlihat sangat humanis,  sederhana, dan apa adanya.  Tentang penampilan Bung Karno. “How do I look, Fat?”

Isi surat BK : Fat, ini adalah gambar Mas pada waktu sehari di Mentok. kurus ataukah gemuk?

Beberapa postingan tentang wisma Menumbing dapat dilihat di sini, di sini, dan banyak lagi.