Dukungan untuk sebuah e-book

‘membaca catatan perjalanan Gaphe, serasa berada di TKP’

Hehe, mantap! Tapi kok kayaknya kurang menyentuh ya? Kurang maknyus, kurang mendramatisir, kurang berkesan gimanaa gitu.. *masih memutar otak, mencari ide di antara denyutan sakit kepala*

Wis lah, endorsement-nya seadanya aja. Sesuai gambaran jiwa yang memang lempeng, tidak romantis, dan jarang berbunga-bunga. Sementara bagian utamanya harus ditulis dulu sebelum keburu lupa.

Sejujurnya…

Saya membuat blog juga awalnya karena tertarik melihat banyak orang yang membuat catatan perjalanan kesana kemari *hihi, apakah sambil mencari alamat palsu? ah.. garing!*  Entah tulisan dengan gaya serius seperti gaya bahasa edisi terbitan majalah yang penuh dramatisasi, puitis, dan dengan EYD. Atau apakah dengan gaya bercerita secara ringan dan kocak yang membuat betah untuk membaca setiap postingan. Atau malah dengan gaya bertutur biasa-biasa, seadanya, mau mau nggak nggak (niat nggak sih nulisnya?) dan cenderung membosankan *ini mah gue banget ya?*

Booming berbagai catatan perjalanan di blog mungkin dimulai sejak 2-3 tahun lalu. Sebelumnya juga pasti banyak orang yang giat membuat travel blog, hanya saja konsumsi internet tidak sedahsyat saat ini. Masih kalangan terbatas. Rasanya demam Trinity-lah yang membuat banyak orang menjadi ikut-ikutan rajin menulis kisah perjalanan.

Beberapa tahun lalu sebuah perjalanan apalagi ke luar negeri hampir identik dengan ‘kemewahan’. Segalanya harus ditopang dengan dana yang memadai. Seri petualangan backpacker di Indonesia -di kalangan muda umumnya- baru-baru saja menjamur. Fasilitas komunitas couchsurfing sangat mendukung kegiatan ini. Ditambah dengan adanya low budget airlines yang sangat membantu memangkas dana, akhirnya melakukan perjalanan liburan bukan saja terbatas pada kalangan berduit belaka.

Sebelumnya bagi saya pribadi, sempat terbersit rasa tidak percaya diri ketika mendapati banyak tulisan orang yang berhasil melukiskan perjalanannya dengan baik dan benar serta tidak membosankan. Rasanya jadi rada-rada jiper gitu. Bagaimana jika tulisan kita terlihat monoton, dibumbui candaan tapi terkesan garing, terkesan hedonis, menggurui, norak, kampungan, atau malah jadi sedikit pamer?

Aduh, nggak banget deh! Tidak ada niatan sedikitpun. Kalaupun tulisan saya terkesan norak, ya mohon dimaklumi, dimaafkan. *itu emang salah gue.. salah gue, sambil getok kepala*

Menulis dengan porsi yang pas itu ternyata tidak mudah, saudara-saudara!

Apalagi tulisan dengan tema dan setting sama yang ternyata pernah disajikan sebelumnya oleh orang lain. Kalau saya, bawaannya pengen nulis silakan intip di link ini aja 🙂

Tapi tentunya kita tidak boleh gentar oleh postingan orang lain. Karena pada dasarnya meski obyeknya sama tidak ada tulisan yang sama. Pernah mendengar quote? “menulislah, jika anda tidak menulis maka orang lain yang akan melakukannya” atau “tulislah apapun yang ada dalam benak anda karena orang lain tak akan bisa menirunya kecuali ia seorang penjiplak”

Belum pernah mendengar? Hehe, saya juga jadi ragu. Jangan-jangan itu memang quote karangan saya ketika ide mulai mengalir atau bukan. Ah, lupakan!

Baiklah setelah melantur panjang lebar, mari kita kembali kepada poin pertanyaan sang pemilik giveaway saja. Secara singkat, mengapa layak dibuat e-book?

Saya balik bertanya ya, memang tidak layak?

Kalau ada yang bilang tidak layak, saya deh yang pasang badan. Deuh.. lebay!

Sejujurnya (lagi) saya adalah salah satu pembaca setia catatan perjalanan Gaphe, meski kebanyakan posisi saya sebagai silent reader. Saya mensupport niatnya untuk membuat e-book atau bahkan dalam bentuk buku, karena bagaimana ia bertutur jauh lebih baik dari salah satu buku traveling ajaib yang pernah saya punya. Asli, saya tidak bohong!

Bocoran sedikit ya tentang buku tadi, memang sih sang penulis banyak memberikan trik dan tips perjalanan serta membuka wacana tentang komunitas couchsurfing yang membuat perjalanan bisa ditekan dalam jumlah seminim mungkin. Caranya dengan menumpang di tempat seorang kenalan dan agak ngegembel (bukan dalam arti harfiah lho ya). Sebatas membuat kita bisa survive namun tetap hemat. Bukan dengan gaya bawa koper geret dan naik turun bus pariwisata. Sebuah perjalanan dengan sisi yang menarik.

Tapi seiring waktu karena terlalu sering melihat status fesbuknya, saya kok malah melihatnya seperti apa ya.. hm jadi sulit menjelaskannya. Takut salah sangka dan menuduh yang tidak-tidak. Maaf, mungkin ini cuma perasaan saya saja. Jangan-jangan rasa tadi muncul karena saya iri melihat ia bisa berkeliling dunia dalam jangka waktu berbulan-bulan dengan merdeka. Sementara saya mau ke Madura saja, belum tercapai juga.

Ah sudahlah.. curcol banget sih! Saya juga tidak terlalu mikirin. Ambil sisi positifnya saja. Ia punya banyak pengalaman untuk dibagikan!

Kembali ke topik ya! E-book, perkara nantinya akan diunduh dan dibaca banyak orang atau bahkan tidak dilirik sekalipun adalah aspek lain, yang penting harus yakin dan percaya diri. Memenuhi kaidah-kaidah penulisan yang berlaku secara universal. Dan kalau bisa berlaku untuk segala umur. Minimal remaja deh!

Untuk isinya bagi saya bebas. Pastinya tentang berbagi pengalaman tanpa berkesan menggurui, yang down to earth-lah. Mau perjalanan di luar ataupun di dalam negeri, sama saja. Mau serius atau dengan gaya kocak, yang penting bisa bikin betah sampai halaman terakhir.

Oh iya, ada tambahan sedikit nih. Tentang pengalaman pribadi menyangkut catatan perjalanan saya. Bagi orang-orang yang merasa mendapatkan sesuatu yang baru dari tulisan saya biasanya akan memberikan komentar positif yang intinya thanks for sharing. Tapi bagi orang yang pernah berada di lokasi sama dan kebetulan lagi bad mood pas baca tulisan itu terlontarlah pandangan agak sinis sambil berseru ndeso (yang ini hiperbola tapi kurang lebih intinya sama). Maka berkaca dari pengalaman itu, akan lebih baik jika kita bisa menulis dalam porsi sepadan antara kisah dan keeksisan diri. Semoga…

Halaah, diminta menulis barang satu paragraf aja jadinya malah kemana-mana. Maklum emak-emak! Mudah-mudahan terjawab deh pertanyaannya.

So buat Gaphe, keep writing ya..

================

Tulisan disertakan dalam Giveaway : Warisan Oleh-oleh