NANTA (Cookin’)

Apakah itu?

Bagi orang yang pernah melihatnya, Nanta show pasti akan direkomendasikan sebagai a must see performance di Korea. Dulu saya datang ke pertunjukan ini tanpa mengerti hendak kemana dan mau melihat apa. Maklum kabayan saba kota, gratisan pula🙂

Tadinya saya sudah hampir melupakan betapa menyenangkan bisa hadir untuk menyaksikan pertunjukan itu. Maklum sudah lebih dari 5 tahun lalu, saat belum berjiwa ‘penulis’. Semua kisah seperti berlalu tanpa kesan. Tapi gara-gara menemukan kembali pamflet Cookin’ Nanta di tumpukan meja kerja, tiba-tiba terbersit ide untuk menulis postingan di blog yang sepi ini.

Nanta merupakan performa non verbal sebuah grup yang mengintegrasikan samulnori dalam konsep drama yang dibumbui komedi. Samulnori sendiri adalah permainan perkusi tradisonal Korea yang terdiri dari 4 jenis alat. Suaranya khas. Meriah dan cukup berisik. Para pemainnya menggunakan pakaian tradisional berwarna-warni. Menabuhkan alat musik sambil menari-nari, membuat penonton terkagum-kagum.

Contohnya seperti di bawah ini:

Sementara Nanta adalah modifikasi samulnori yang dikemas dalam bentuk lebih modern. Debut pertama mereka dimulai pada tahun 1997. Menurut info turisme Korea, teater Nanta dibuka pertama kali tahun 2000 di Jeongdong (tempat kami menonton). Selain itu masih ada 2 tempat di Seoul dan 1 lagi di Jeju. Tiket bervariasi seharga 40-60 ribu won, sekitar Rp 300 ribuan lebih. Dulu pastinya lebih murah.

Pertunjukan ini tidak hanya hadir dan laris manis di negara asalnya saja, namun sudah sering melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Mereka juga sempat mempunyai pertunjukan sendiri di Broadway tahun 2004-2005. Bahkan kabarnya pernah juga singgah di Indonesia? Apa belum pernah? *yee.. malah balik nanya?*

Di samping menggunakan alat musik tradisional, mereka juga mengalihfungsikan berbagai perkakas dapur. Jangan heran jika para penonton menemukan panci, pisau, talenan, penggorengan, tabung air, atau rantang makanan berikut sayuran dan buah-buahan berada di atas panggung. Dalam hati sayang rasanya melihat sayur dan buah dicacah sedemikian hingga lalu dibuang begitu saja. Mubazir. Pear Singo kan mahal ya?

Belum percaya? Yuk, saksikan saja sedikit cuplikan performa mereka via youtube. Lumayan, (sementara) tidak perlu jauh-jauh pergi untuk menyaksikan aksi panggung mereka.

Konsep cerita dikemas dalam bentuk drama komedi tanpa kata. Dialog yang hanya sedikit itu diucapkan dalam bahasa Inggris, karena umumnya penonton berasal dari negara asing. Alur cerita menggiring kita untuk memahami ‘perjuangan’ 4 orang chef yang dikejar tenggat untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Pemainnya terdiri dari 3 orang lelaki dan 1 orang wanita, beserta 1 orang yang bertindak sebagai manajer. Nah, ceritanya si manajer ini agak menganut paham nepotisme karena mengikutsertakan sang keponakan yang kurang kompeten dalam tim chef.

Dalam keseluruhan cerita terdapat gabungan antara trip sulat, akrobat, pantomim, komedi (biasanya sih bagian manajer dan keponakan yang beraksi) yang dipersatukan dengan improvisasi perkusi perkakas dapur tadi. Semuanya dibalut dalam tata panggung yang sangat bagus. Tapi dengan catatan ya itu tadi, berisik. Dapat dibayangkan bagaimana energi yang dikeluarkan para pemain demi menghasilkan ritme yang cepat dan kencang hampir tanpa henti. Mereka seperti mempunyai tenaga ekstra. Saya dapat melihat bagaimana keringat bercucuran dari tubuh mereka. Jadi tidak heran, jika tiba-tiba sang agasshi (si nona chef) yang tadinya berpakaian lengkap mendadak tampil lebih seksi. Atau bahkan pemain prianya bertelanjang dada. Alasannya ya karena mereka keringetan!

Lama pertunjukan kurang lebih satu jam. Rasanya ada beberapa grup dengan format dan konsep yang sama untuk bergantian tampil di panggung. Kebayang dong, jika orangnya itu-itu saja? Kasihan, pegel!

Performa para pemain itu memang luar biasa. Hal ini dibuktikan saat mereka berinteraksi dengan penonton untuk turut serta menjadi bagian dalam pertunjukan. Isinya jadi penuh gelak tawa, karena penonton memang tidak punya keahlian sama sekali. Meski hanya diminta mengumpulkan rantang makanan atau mengiris kol, pastinya tetap bisa dilakukan oleh penonton tapi tidak dalam ritme cepat. Susah juga ternyata.

Melihat Nanta, dalam pikiran iseng ini jadi terbayang dramatisasi piring terbang atau tabuh-tabuhan panci di dapur saat ada perang dunia tiga. Asal jangan ada kejadian lempar pisau aja kali ya? Berabe! Hihi…

Catatan : semua gambar dan video diambil dari google. Dulu sih rasanya tidak diperkenankan membawa kamera atau video saat pertunjukan di dalam teater sedang berlangsung.

62 thoughts on “NANTA (Cookin’)

  1. yes, ini adalah must visited attraction kalo ke Korea. Banyak rekomendasinya dan dikelola secara profesional, saya pengeeen banget ntar kalo ke Seoul bisa liat Nanta Cooking ini. Perkusi ala-ala perkakas dapur? pasti seru banget yaaa

  2. Korea emang banyak pertunjukan gt yak.. seperti klo nonton kdrama yg settingan waktunya jaman dahuku kala.. pasti setiap upacara kekerajaan ada model pertunjukan taritarian gt..

    Waahhh kapan yak aku ke korea.. hehehe

  3. Nanta..nama ponakan ku hhee..
    Kayanya seru banget ..
    Ikut mbayangin kalo penggorengan,panci piring,di lempar2 hihi..
    *siap2 kapas buat dumpel telinga* haha..

    Tapi sayang ya,ko ga boleh di foto ya..

  4. hi mbak…aduh nanta..tak kira lek soal nama..soalnya ingat ada nama kawanku yang namanya Nanta…panjangnya Ananta..:) * nggak nyambung yah..hehehe..
    wah kayaknya aku pernah melihat ulasannya disebuah TV swasta waktu itu…show yang menarik dari chef chef..gimana mereka momotong kubis/ kol dengan semangat 45…seru kayaknya..*kapan saya bisa jalan jalan ke korea yah??? semoga one day…*amien

  5. Aku juga baru tau tentang Nanta ini dari blogmu mba… maklum kurang gaul.. hihi..

    sayangnya ga bisa lht videonya karena ‘this URL is blocked’ di kantorku…

    tulisanmu cukup jelas kok mba…. dipahami dengan baik sih menurutku, so keep writing and be confidence atuh….🙂

  6. waduh kapan daku bisa ke sana ya mbak🙂
    tapi yang jelas, sepertinya yang berkaitan dengan masak memasak beberapa tahun terakhir ini jadi trend ya.. diangkat dalam drama musikal maupun pertunjukkan seperti ini… kereeeen

  7. mba Hilsyaaaaaa….
    kereeeeeen….
    emang pada kreatif ya mereka….

    Tapi denger denger gosip biasanya suka rada susah kalo mau perform di Indonesia…soalnya disini mah jarang ada gedung pertunjukan yang memadai dan sesuai standard internasional….
    Mall doang yang dibanyakin siiiiih…sigh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s