Seperti orang bilang : surga tersembunyi

Edisi belum bergairah untuk cerita panjang lebar, narasi menyusul kapan-kapan.  Ada yang tau ini dimana?

Tanjung Layar, icon paling ngetop di Sawarna

sunset yang nanggung di Ciantir, awan minggir dong

Heuheu..  sok-sokan ngasih tebakan yah? Baiklah, mood menulis saya sudah kembali kok!

Yup, kali ini setelah bertahun-tahun silam berkeinginan, akhirnya tercapai jua hasrat hati untuk melangkah ke Sawarna. Deuh kamana aja, mpok?

Pantai Sawarna terletak di desa Sawarna. Sekitar 15 km dari kecamatan Bayah, dan masuk ke dalam kabupaten Lebak, Banten. Lokasi ini makin komplit dengan gelombang spektakuler yang sempurna bagi para pencinta olahraga selancar. Tidak heran, pantai yang dibuka untuk publik ini menjadi surga baru bagi para peselancar.  Salah satu spot favorit peselancar mancanegara adalah Ciantir (tempat saya mengambil sunset nanggung tadi).

Perjalanan menuju Sawarna bisa dilakukan dalam dua jalur. Jalur pertama yaitu Jakarta – Tangerang – Rangkasbitung – Malimping – Bayah – desa Sawarna yang memakan waktu 5 – 6 jam perjalanan. Jalur kedua yaitu Jakarta – Pelabuhan ratu – Bayah – desa Sawarna yang memakan waktu 7 – 8 jam perjalanan (belum ditambah bonus macet  menuju arah Sukabumi). Karena perjalanan dimulai jam 9 malam, sopir kami memilih rute nomer 2 dengan mengambil jalan pintas jalan Cikidang – Citarik langsung ke arah Pelabuhan ratu. Kami berhenti sejenak di Karanghawu sebelum akhirnya tiba di Sawarna jam 3.45 pagi. Medan tempuh perjalanan cukup mendebarkan. Kelokan, naik turun dan tikungan tajam selalu setia menemani di sepanjang jalan. Untung para penumpangnya terlelap, jadi tak terlalu mendebarkan. Salut buat bapak sopir.

Untuk masuk ke desa Sawarna ini setiap orang harus melewati jembatan kayu seperti lintasan outbond yang menghubungkan jalan utama dengan Kp Cikaung. Jembatan yang menimbulkan sensasi bergoyang-goyang karena ditopang kawat besi (kuat pastinya). Selain orang hanya sepeda motor yang bisa melintas. Meski sedikit dilematis (menjaga kemurnian suasana Sawarna), namun tetap saja merefleksikan sebuah potret ironi kesenjangan pembangunan. Selama bertahun-tahun penduduk setempat hanya dijanjikan jembatan permanen yang tak kunjung terealisasi.

Setiap turis yang masuk ke melewati jembatan, biasanya dimintai uang restribusi sebesar Rp 2000. Jarak dari tempat parkir mobil menuju tempat menginap sekitar 10 menit perjalanan. Suasananya asri. Masih dikelilingi sawah dan pepohonan. Dilihat dari bentuk visual rumah-rumah di perkampungan, kehidupan penduduk juga relatif sejahtera karena hadirnya industri pariwisata. Tempat menginap biasanya berupa bangunan wisma atau pondokan yang lumayan bagus. Bangunan dengan tembok keramik atau dinding bambu dengan lantai kayu. Di belakang wisma terhampar sawah menghijau. Satu kamar dihuni 4 orang. Setiap orang dikenai Rp 100 – 120 ribu plus makan 3x.

Jarak pantai Ciantir sekitar 200 m ke arah kanan dari tempat kami menginap. Sementara untuk melihat kokohnya dua karang tangguh  yang disebut Tanjung Layar, kami harus berjalan kaki lurus menyusuri jalan setapak sepanjang 700 m saja. Puas berlenggang kaki sambil menikmati sisi pantai di sebelah kanan dan perkebunan di sebelah kiri dan diikuti oleh 3 anjing kampung, akhirnya kami disuguhi sesuatu pemandangan yang lazim bertebaran di dunia maya. Dua batu karang besar. Awalnya sih biasa saja, tapi lama-lama mempesona.

Dari sisi pantai ini pengunjung bisa melintas menuju ke arah batu besar, tetapi jalannya cukup licin. Permukaan air sangat jernih. Tingginya hanya sebatas mata kaki sampai setengah betis. Kadang ditemukan ikan-ikan kecil. Sementara setelah batas batu karang itu, ombak tinggi menggerus deras. Menimbulkan sensasi luar biasa saat gumpalan air itu takluk ditahan kokohnya pertahanan bebatuan. Aku terdiam sendiri dalam keheningan. Membisu (aiih, bahasa gue?).

Hm, rupanya inilah salah satu surga tersembunyi di laut Selatan seperti kebanyakan orang berpendapat. Lainnya masih ada. Menyusul ya..

62 thoughts on “Seperti orang bilang : surga tersembunyi

  1. btw picnya bagus banget, tapi kok gak ketahuan lokasinya dimana yak…..🙂 benar-benar surga yang tersembunyi, soalnya susah nemuin lokasinya (baca karena narasi belum ada)🙂 peace

    salam kenal dari endipiran, dukung persamaan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Ditunggu kunjungan baliknya ya……………

  2. asyik yah kykna wisata di banten dan sekitarnya, dulu cuma pernah singgah dan tinggal sebentar di cilegon,tp dah lama sekali. wisata indo memang beragam, semoga bs lebh diberdayakan😀

  3. aduuh. ngiri lagi sama mama Hilsya…
    udah main ke Sawarna, aku masih dalam batas niat aja…. belum lama adik ngajak ikut tur ke sana,
    pas lagi ada acara pulak .. sayang banget

  4. Asli baru tahu pantai ini. baguuuusss…. apalagi jika untuk kesana harus berpetualang dulu melewati jembatan kecil seperti itu. Pemda-nya kemana, nih? potensi sebagus itu terlewat.

  5. wah kalo rute dari pelabuhan ratu lebih jauh yachh…hmm jalanan yg berliku itu loch yg bikin aku serem dan takut kalo kemana-mana hiks….aku ini parno klo dijalan…..

    tapi ngga sia-sia yach…pemandangannya bagus benerrr…..

    • mungkin ada 2 pendapat, turis asing pengen tetep seperti sekarang supaya terjaga.. penduduk ingin supaya akses keluar masuk kampung mudah tp dg resiko cepat kotor.. *ah, maksud gue apa sih?*

  6. gile asri banget yah tempatnya. dodolnya ekye sebagai orang banten baru denger mengenai tempat ini hiks! *kemane ajeee mpookkk???*

    btw gw mah takut jeng kalo disuruh nyebrang pake jembatan itu. ga bisa berenang soalnya🙂

  7. setuju Hilsya, ini benar2 surga yg tersembunyi
    begitu indah dan pastinya bersyukur sekali Hilsya bisa langsung datang kesini🙂
    ngeliat jembatan gantungnya , kok jadi deg deg an yaa….
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s