Anggaran belanja bulanan : hitungan kasar

Dulu.. dulu bangeet, demi bersikap disiplin saya berangan-angan untuk selalu mencatat setiap pendapatan dan pengeluaran per bulan. Tapi pada kenyataannya, saya tidak pernah menyempatkan diri untuk sekedar mengingat apa yang sudah dibayarkan dan peruntukannya. Ah, apakah ini disebabkan karena saya tidak suka pelajaran matematika? ūüė¶

Dengan prinsip asal yang penting tetap bisa menyisihkan sedikit (kalo bisa sih banyak) pendapatan di awal penerimaan sebagai simpanan yang tak dapat diganggu gugat, semuanya mengalir begitu saja. Tapi tidak sepenuhnya boros lho! Masih tetap penuh perhitungan.  Ada pos pengeluaran tertentu yang telah dipisahkan. Mata elangnya masih awas kok. Dompet tetap dilirik setiap saat. Memang, ada konotasi jika masih ada lembaran merah di dompet, artinya masih bisa leluasa. Tapi jika tinggal yang ungu, apalagi yang abu-abu.. walaah, alamat kokoreh (mengorek-ngorek : bahasa Sunda) deh!

Sebenarnya hal tersebut bukan kebiasaan yang baik. Saya tau apa sulitnya sih menulis? Kadang jika segala detil sampai terlalu diingat kok rasanya malah gimana gitu ya? Tapi mungkin ini cuma perasaan saya (dan kemalasan saya) saja. Yang lain tetap menjalankan tugasnya kan?

Soal pencatatan tetek bengek buku kas, ibu saya jagonya. Rapi sekali beliau menuliskan tiap kegiatan penerimaan dan pengeluaran. Lengkap sampai hal terkecil. Sampai-sampai saya suka tersenyum sendiri melihat coretan beliau. Maklum yang harus dipertanggungjawabkan bukan uang pribadinya. Selama bertahun-tahun ini dengan senang hati, beliau menjadi bendahara yang tak digaji bagi keluarga besar saya.

Pada kesempatan ini, dengan pedenya saya mencoba menghitung anggaran belanja bulanan yang sudah dikondisikan oleh Pakdhe. Seperti biasa, hitungan kasar. Dan aslinya dari tadi saya bolak-balik bertanya berapa harga ini itu atau nyari contekan tagihan di mbah google (jujur)

—————

Tagihan listrik dengan daya 1300 volt (moga-moga sekringnya ga suka ngejepret sendiri)   Rp 200.000.

Meliputi penggunaan alat-alat elektronik yang dimiliki sang pemilik rumah yaitu 2 unit AC, kulkas, rice cooker, dispenser, komputer, 2 laptop, serta kebutuhan rutin lainnya.

Kebutuhan dapur   Rp 915.000

1 tabung gas 12 kg @Rp 75000,  beras 10 kg    Rp 90.000,   lauk pauk/sayuran 30 hari x Rp 25000  Rp 750.000

(Anggaran dibuat  sedikit, karena di rumah hanya berdua  dan kompor gas yang dipakai hanya satu saja. Jika ingin makan di luar atau mentraktir tamu, biaya dimasukkan ke dalam anggaran lain-lain)

Kebutuhan belanja bulanan   Rp 500.000

Perlengkapan mandi, air mineral galon, detergen, pembersih lantai, kosmetik pria dan wanita (tidak perlu beli setiap bulan kan?), dan lain-lain

Tagihan PDAM   Rp 100.000

Telkom  tagihan tetap  Rp 65.000

Langganan Speedy  Rp 295.000

Tagihan Pulsa   Rp 300.000

Mobil (bahan bakar premium)  Rp 500.000

Biaya lain-lain (digenapkan)   Rp 1.125.000

Jadi total anggaran bulanan adalah  Rp 4.000.000

Bagaimana?

Mudah-mudahan pas ya..  Dasar saya tidak mau ribet. Semuanya digenapkan saja. Tidak ada angka puluhan atau ribuan (kalo di tempat saya biasanya uang recehan itu suka langsung habis dipakai jajan anak-anak). Saya asumsikan hidup di Surabaya itu tak jauh berbeda dengan di Tangerang. Fleksibel deh, bisa kurang bisa lebih!

=========

Artikel diikutsertakan pada kuis Anggaran Belanja Bulanan di Blogcamp