Panen

Berhubung sedang miskin ide untuk menulis, maka kali ini saya hanya akan posting hasil panen tanaman yang tumbuh di halaman rumah.

 

penampakan lengkeng pingpong *sayang, buahnya kurang asoy*

Lengkeng pingpong ini saya beli dengan semangat 45 di pameran tanaman dan buah-buahan yang diselenggarakan tiap tahun pada bulan Agustus di lapangan Banteng. Dibeli tahun 2006, saat masih setinggi 50 cm seharga Rp 50.000 di konter Trubus. Waktu itu varietas pingpong merupakan jenis yang  paling ngetop seantero dunia perlengkengan. Rasanya manis buahnya tipis tapi bijinya besar. Tanaman kami ini kurang memuaskan. Si pingpong jarang berbuah, mungkin karena terlalu banyak tanaman di sekitar dan juga kurang kena sinar matahari. Sekarang sih pingpong kalah pamor. Saya sudah tidak terlalu mengikuti varietas yang paling cihuy. Gampangnya tinggal beli aja deh!

Mangga di halaman rumah kami jadi topik ngetop kali ini. Mangga ini ditanam sejak rumah kami masih berupa lahan kosong oleh tetangga depan rumah. Entah jenis apa. Bentuknya hampir menyerupai mangga apel, bulat dan kecil. Yang jelas jika masih muda rasanya masam sampai membuat kita meneteskan air liur. Tapi jika sudah matang, buahnya berwarna kuning oranye, berair, kadang berserat kadang tidak, dan manis luar biasa.

Karena letak rumah kami di hook, buahnya menjulur sampai ke jalan. Bahkan anak-anak sering iseng menyundul-nyundul buah mangga saking lebatnya. Tahun ini adalah tahun terbaik. Kami panen sampai 5 sesi (masih kalah sih ama sinetron cinta fitri). Tiap kali panen sebanyak 2 ember bekas kaleng cat 25 kg. Mungkin berkahnya juga, karena dibagi ke tetangga sekitar, yang lewat, yang ditawari, atau yang minta, buahnya jadi banyak sekali.

Alhamdulillah, tahun ini kami tidak perlu membeli mangga.