Man and the moon : goodbye..

Jujur saja, saya membuat postingan ini demi melatih pembuatan tulisan berdasarkan suatu tema.  Hal itu disebabkan karena pikiran saya yang rasanya kok tiba-tiba keseringan mandeg dan kusut. Jalan di tempat atau bahkan diam. Disertai rasa malas yang kabina-bina (kalo kata orang sunda).

Saya mengenal sosok alkahfi  secara random. Kebiasaan buruk saya yang jarang bersosialisasi di dunia maya alias blogwalking kecuali ke tempat yang itu-itu saja, membuat saya tidak terlalu punya banyak “pengomentar” atau “berkomentar”. Saya memang harus mengistirahatkan mata setelah hampir 12 jam penuh bekerja di depan komputer. Sekarang saya sudah tua, harus eman-eman dengan segala indera. Sayang aja kalo ga bisa menikmati wajah cantik dan ganteng para artis Korea, haha…

Lha kok malah jadi curcol sendiri?

Kembali lagi kepada alkahfi yang sedang mengadakan give away tentang isi blognya. Sekedar praduga tak bersalah jika dilihat dari alamat urlnya, ia adalah seorang lelaki (lajang?) yang lebih muda dari saya. Sebelumnya maaf jika salah persepsi, tetapi banyak tulisan-tulisan di awal yang menyiratkan suatu kegalauan mendalam. Sebuah ungkapan yang wajar saja bagi seseorang demi meringankan resah hatinya. Seperti biasa menulis adalah suatu terapi penyembuhan. Jika tak mampu berlisan atau melakukan tindakan nyata, menulis adalah solusinya.

Banyak yang ingin saya baca di blognya tetapi karena mata saya kurang jeli (haha, perkara usia lagi nih..) dengan kombinasi background dan warna tulisan yang terpampang di sana, sehingga isi postingan jadi kurang jelas terlihat. Jika terlalu lama menatap layar komputer, mata langsung memerah dan terasa perih. Harap maklum ya.. nini soalnya! Dan jujur saja kadang jika secara sekilas saya melihat suatu isi blog yang bersifat terlalu personal, saya tidak akan membaca secara detil. Karena saya merasa seperti sedang mengintip buku harian seseorang. Padahal rata-rata hampir semua blog isinya personal ya? Termasuk punya saya 🙂

Dari sekian banyak postingan, saya memilih ini. Untuk lebih jelasnya, silakan melihat langsung karena saya hanya akan sedikit mereview.

Bermula dari kegamangan dan rasa nyeri yang masih tersisa, disertai segala uneg-uneg yang masih terasa dalam dada akhirnya ia memilih untuk  melangkah maju dengan mengucap selamat tinggal pada kenangan. Kegetiran itu terasa sekali. Sebelumnya saya tak pernah menyangka bahwa seorang lelaki bisa begitu terpuruk. Karena selama ini biasanya hanya saya yang berurai air mata dalam suatu perpisahan.. *cuciaan banget*

Kalimat-kalimat di awal masih bertumpangtindih. Terlihat jelas bahwa semuanya mengalir begitu saja tanpa proses penyuntingan. Tentang berbagai pengalaman pertama, rekaman, dokumentasi, takdir, dan akhirnya kemampuan mengatasi rasa sakit. Kemudian di sesi akhir tulisan, ketika hatinya telah merasa lega ia melukiskan berbagai harapannya dalam kalimat yang sangat bijak.

Saya memilih sebuah postingan yang pernah mewakili perasaan saya. Meski tidak terlalu persis tapi banyak mengalami kesamaan. Saya merasa mempunyai ‘teman berduka’. Entah berapa lama semua rekaman itu akan menghilang dengan sendirinya. Dalam jangka waktu bulanan bahkan tahunan, kita tidak pernah mengetahuinya. Dalam masa itu kita memasrahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Mengikhlaskan segala rasa. Meski awalnya terasa berat, namun lama-kelamaan beban yang mengganjal itu serasa diangkat dari hati. Plong! Dan ketika kita sudah melewatinya terlebih dahulu, kita bisa berbagi kepada orang lain. Meyakinkannya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Yang lalu akan berlalu dan biarkan saja, karena waktu adalah obat terbaik. Goodbye!

Artikel disertakan dalam Give Away Al Kahfi – Man and the Moon