Pekanbaru : semua rencana gagal total

Ada yang kangen saya? hihihi…*geer*

Baiklah, 3 hari tak menyentuh internet artinya saya sedang beraktivitas di dunia nyata dan tidak punya waktu untuk berselancar di dunia maya. Saya memang sedang ada pekerjaan di Pekanbaru, melakukan kerja sama dengan kantor pemda setempat. Tadinya di rencana awal kegiatan kami terlihat akan sangat menyita waktu. Ada enam kabupaten di sekitar Pekanbaru yang akan kami datangi. Saya sudah membayangkan perjalanan melelahkan kami. Atas alasan tersebut kami bersiaga dengan memilih penerbangan paling pagi agar dapat melaksanakan tugas dengan seksama.

Tapi dalam perjalanan menuju bandara, ada sedikit miskomunikasi dengan kolega. Saya dan pak supir menanti hampir 40 menit dari jam 05.10 dengan perasaan dag dig dug karena waktu take off  jam 7 WIB. Padahal saya saja dijemput paska subuh. Sementara perjalanan menuju bandara baru setengah jalan. Kebayang kan bagaimana jika jalanan macet dan kami tidak bisa terbang gara-gara terlambat? Mana tiketnya mahal pula. Duh, muka saya sudah tegang banget. Sehari sebelumnya saya gagal melakukan web check in, karena ada kesalahan proxy *weiss.. embuhlah*. Lalu ketika saya minta teman yang sudah datang terlebih dulu untuk melakukan self check in di kios Garuda, ke empat mesinnya tidak dapat dipergunakan. Di lain sisi antrian di counter desk luar biasa. Last 45 minutes, alhamdulillah tiba di bandara. Ya ampun, lagi-lagi saya beralih profesi menjadi sprinter gadungan. Nekat menyerobot antrian mesin X-ray dengan menundukkan kepala sambil menebar segudang permintaan maaf kepada penumpang lain demi menuju boarding gate tepat waktu. Untungnya mereka mengerti. Asli, pagi-pagi udah sport jantung plus mangkel.

Oke, mari kita lupakan kejengkelan awal yang sudah terjadi. Impian untuk bisa menikmati pengganjal perut punah sudah setelah melihat menu yang ditawarkan ternyata croissant dan tuna sandwich yang tidak bisa saya makan *perkara selera plus ga bisa ngunyah*. Lalu diperburuk dengan acara kedinginan di dalam pesawat. Biasanya sih saya suka minta selimut, tapi rupanya si mbak pramugari lupa meminjamkan sampai pesawat menjejak turun. Walhasil, seharian maag saya kambuh dan bersendawa terus menerus. Hadeuuuh…masuk angin, mbah? Dan rupanya hal ini diperparah dengan makanan Melayu/Padang yang cenderung kurang cocok karena terasa pedas di lidah saya. Mantep kan perjalanan kali ini?

Tiba di Pekanbaru, kami segera menuju kantor tujuan. Setelah prolog ini itu, akhirnya diketahui bahwa kami tidak dapat melaksanakan tugas sesuai rencana. Pihak yang diserahi tanggung jawab baru saja keluar dari rumah sakit karena menderita gejala tipus. Meski ia masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan urusan administrasi dan teknis, tanpa dinyana setelah bertemu kami sakitnya malah bertambah parah. Rencana untuk pergi ke kabupaten Pelalawan esok harinya gagal, karena ia kembali ambruk ditambah menderita cacar. Saat itu tak ada staf lain yang bisa menghandle pekerjaan ini karena sedang berbenturan dengan kegiatan lain. Akibatnya kami hanya melakukan demo pekerjaan kepada para staf yang tersisa tanpa survey lokasi. Untungnya ini suatu pekerjaan yang mudah. Akhirnya kami ‘terkatung-katung’ sambil menanti jadwal pulang di Pekanbaru, mungkin lebih tepat bila dikatakan kami hanya berpindah lokasi tidur.

Ya begitulah, kadang dalam suatu perjalanan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana yang tak bisa kita elakkan. Di luar kuasa manusia dan hanya bisa kita nikmati. Maka setelah diantar ke hotel di pusat kota, kami memilih tidur siang untuk mengistirahatkan seluruh badan ditemani hujan deras yang mengguyur kota.

zzzzzz…..