Neak Sre’ (Rice People)

Pernah melihat film asing non English produksi Asia Tenggara? Selain film-film Thailand yang saat ini merajai bioskop XXI dan Megaplex, rasanya saya hanya bisa menggelengkan kepala *karena tidak terlalu suka menonton film*. Namun setelah sesenggukan lebay  karena sedih tiada tara akibat tanpa sengaja menonton film Thailand di saluran RED, saya jadi sedikit berselancar di dunia maya. Dan tanpa sengaja kesasar ke film Kamboja *aah, jadi kangen lagi* edisi jadul berjudul Neak Sre’

File:Rice People DVD cover.jpggambar dari wiki

Neak Sre’ kurang lebih diterjemahkan sebagai Rice People, sebuah film produksi tahun 1994 yang disutradarai Rithy Panh. Menurut wiki, film berdurasi 125 menit ini diadaptasi dari novel Malaysia tahun 1966 yang berjudul Ranjau Sepanjang Jalan. Lokasi diambil di distrik Kien Svay dan area Boeung Thom, propinsi Kandal di tepian sungai Mekong. Film ini merupakan film pertama Kamboja yang turut dinominasikan dalam kategori Best Foreign Language Film di 67th Academy Awards tahun 1994 namun gagal jadi pemenang.

Rice People menceritakan kisah perjuangan sebuah keluarga Kamboja yang bangkit dari masa kelam komunisme Khmer Rouge sebagai petani padi. Saat itu anak-anak hanya mengetahui bahwa beras yang mereka makan berasal dari truk kemanusiaan PBB, bukan tumbuh di sawah.

Sang ayah, Pouev sangat peduli terhadap istri dan 7 anak perempuannya. Ia merasa takut tidak dapat menghidupi keluarga karena melihat lahan sawahnya semakin sempit.

Sang ibu, Yim Om merasa khawatir melihat kerja keras sang suami dan memutuskan untuk turut mencangkul lahan di sawah beserta putri tertuanya, Sokha. Om menjadi tulang punggung keluarga terutama setelah Pouev menginjak duri beracun dan kemudian tak lama meninggal karena infeksi.

Om tidak siap mental menghadapi kematian suaminya. Ia merasa tertekan ketika harus beralih status menjadi kepala keluarga. Ia pun tak mampu mengolah lahan sawahnya dengan baik. Sokha menjadi tumpuan harapan keluarga, setelah ibunya menderita gangguan jiwa dan menjadi bahan ejekan masyarakat desa.

Agar segera sembuh, Om dirawat di rumah sakit. Namun usaha itu tak berhasil. Akhirnya ia dibawa pulang ke rumah. Di sana ia dijebak untuk masuk ke dalam sebuah kurungan yang diisi berkarung-karung padi. Adegan ini memperlihatkan emosi kekecewaan sang ibu saat melihat hasil panen yang gagal dan berhasil mengaduk-ngaduk perasaan saya akan perjuangan keras mereka dalam menjalani hidup paska perang.

Bagi saya yang hobi memforward film, alur cerita ini terasa lambat. Tetapi cukup detil memperlihatkan betapa sederhananya kehidupan mereka di masa itu. Banyak sekali hal-hal serupa yang sama-sama kita lakukan di Indonesia. Budaya tolong-menolong, acara kerokan badan *gue banget*, dan beberapa kosakata seperti kampong (kampung), psar (pasar), sarong (sarung), kanoh/kanah (sana), atau kanih (sini). Jujur saja menonton film ini terasa menyenangkan karena  saya bisa kembali mendengar dialog bahasa Khmer yang unik. Tetapi juga membuat saya meneteskan air mata karena terharu melihat kesengsaraan mereka. Saya merasa masuk lorong waktu untuk mundur 30 tahun lalu *setting lokasi seperti di kampung halaman*.

Berhubung saya memang selalu tertarik dengan Kamboja, maka saya berikan apresiasi positif terhadap isi keseluruhan film. Yang jelas film ini tidak akan menampilkan budaya hedonis, kehidupan modern atau impian setinggi langit seperti kebanyakan film. Entahlah, mungkin saya merasa sedih melihat betapa miskin dan sulitnya kehidupan mereka setelah rezim komunis jatuh.

Oh iya, jangan berharap melihat aktris cantik atau aktor ganteng berkeliaran di sini. Mereka benar-benar berakting seperti para petani di kampung ataupun memang orang lokal sesungguhnya.  Dan jangan lupa, ini adalah film 17 tahun silam. Saat sekarang, para wanita muda di sana umumnya terlihat sangat modis dan modern. Cantik-cantik dan berkulit putih *ehm.. sadar diri langsung ngaca*