Jalan-jalan Sabtu

Dari seminggu lalu saya disms temen dunia maya, katanya mau ngajak ketemuan. Berhubung bukan orang Jakarta dan ga tau lokasi, akhirnya saya manut-manut aja waktu diminta janjian di kota tua. Kebetulan, jadi bisa bawa krucil untuk menikmati panasnya suasana di kota tua Jakarta karena sejujurnya saya juga belum pernah ke sana. Duh, hari gini?

Oke, baiklah.. Janji untuk belajar mencintai museum di negeri sendiri akan saya mulai. Titik pertama, tentu saja Museum Fatahillah. Dengan tiket masuk dewasa seharga Rp 2000 dan anak-anak Rp 1000, kami menyusuri isi museum dengan penuh hikmat. Berbarengan dengan para siswa SD dan SMP ikut serta menikmati guide gratisan.  Tepat juga pilihan kami karena begitu melihat prasasti, si kaka langsung berceloteh panjang lebar bahwa prasasti-prasasti itu telah ia pelajari di sekolah. Seperti biasa, larangan untuk foto-foto diabaikan oleh seluruh pengunjung *termasuk saya karena ga melihat tanda larangan*. Banyak sekali abg labil bergaya alay di seluruh penjuru ruangan.

Usai berkeliling, kami keluar untuk menyambut tamu jauh dari Pontianak yang sedang tugas ditambah plesir plus kopdar, di area sekitar taman lokasi patung Hermes dan meriam si jagur berada. Sosok fisik meriam tak lepas dari tangan usil abg yang ingin mengenang kehadirannya dalam bentuk grafiti tip ex.

Ga usah cerita kopdarnya ya.. Dengan mudah saya bisa mengidentifikasi sosok yang dimaksud. Ada Irni dan Divia. Yang jelas saya jadi ngerasa tuwir abis diantara para gadis belia itu. Daripada kepanasan sambil minder, maka saya mengajak mereka berkeliling Museum Wayang. HTM-nya sama juga, masih murah meriah. Di sana kami memandangi berbagai jenis wayang yang berasal dari segala pelosok nusantara. Dominasinya tetap dari Jawa berikut kisah silsilah Pandu Dewanata yang *cuma itu* saya kenal.

Kelaparan di siang hari? Jangan khawatir. Di area museum dan sekitarnya terdapat gerobak tukang jualan tanpa pelindung alias makan di bawah terik matahari langsung *bisa sambil sun bathing* maupun Cafe Batavia *yang harganya lumayan*. Ya sudah.. akhirnya kami memilih menu soto padang sambil melakukan proses tanning. Sedangkan saya berkeliling mencari bubur ayam *masih ngilu kalo buat makan daging dan kacang..hihi*

Tak lama kemudian, tamu dari Jakarta Timur akhirnya tiba juga setelah terjebak kemacetan di jalan tol. Dan kembali, saya berhasil mengenali sosok Tia beserta balatentara termasuk si imut lucu yang putiiiih banget, Vania. Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat ber-AC di seberang jalan. Tujuannya Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri. Masuk kedua museum ini gratis. Interior bangunan museum terlihat sangat indah dan informatif.

Namun setelah dari sini kami berpisah, Irni turut serta dengan Tia sekeluarga. Sementara saya dan Divia lanjut ke museum Mandiri. Saat melongok ke seberang jalan, Divia menunjukkan bahwa di kolong dan seberang jembatan itulah letak pasar Asemka. Hahay, senangnya.. akhirnya tau juga eike dimana Asemka berada 🙂

Pasar Asemka terkenal dengan barang-barang fancy dan aksesoris terutama untuk kebutuhan grosiran. Setelah berpisah dengan Divia yang akan pulang ke Depok, kami berputar-putar sana-sini untuk mencari aksesoris bros, kalung, gelang, atau peniti jilbab yang sedang in. Saya yang ga tau mode ini akhirnya menyerah tanpa hasil karena kebingungan memilih. Si kecil sampai minta digendong, mogok jalan karena kecapean. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam toko mainan. Hwaa… surga banget tuh toko. Barang-barang jauh lebih murah dan lengkap. Sayangnya si kaka udah besar ya.. jadi udah ga pantes kalo beli boneka dan main pasaran. Akhirnya pilihan untuk permainan bersama jatuh pada papan scrabble dan sudoku, sementara untuk si kecil seperti biasa mobil remote *dipilih yang paling murah aja*, untuk keponakan saya memilih fun block dan writing block, dan untuk si kaka ditambah playdough demi menyalurkan hobi berkreasinya.

Tak disangka, pada pukul jam 4 disinari mentari sore demi menunggu feeder bus yang tak kunjung datang akhirnya membuat kami memutuskan untuk banting setir memakai angkutan lain, yaitu metromini dan taksi. Belum lagi kemacetan Jakarta diiringi panas terik yang aje gile membuat saya geleng kepala. Ditambah busway berjejalan penumpang, pintu tol penuh kendaraan, dan bus kota yang tak kunjung datang. Saya jadi sedikit kapok jalan-jalan di hari Sabtu.

Jadi anak-anak, apakah kalian senang jalan-jalan di Sabtu ini? Jawabannya.. senang. Senangnya pasti bukan karena diajak ke museum deh, tapi karena dibeliin mainan kan? 🙂