Batikkan Harimu : Selalu eksis dengan batik

Batik saat ini telah menemukan statusnya kembali. Setelah sekian lama sepanjang hidup saya melihat batik hanya digunakan pada upacara sakral dan menjadi pakaian sehari-hari mbah-mbah di tanah Jawa, saat ini kain bermotif batik tiba-tiba menjadi trend fashion di berbagai kalangan. Dari mulai anak-anak sampai orang dewasa. Acung jempol!

Geliat kebangkitan batik rupanya sedikit banyak dipicu oleh rasa nasionalisme bangsa Indonesia ketika ada pihak lain yang mengklaim batik itu berasal dari tempat mereka. Wah..apa pula ini? *langsung menyingsingkan lengan dan baju dan narik celana panjang sampai ke lutut*. Hm.. mungkin memang sudah suratan bahwa kita harus sedikit ‘disenggol’ terlebih dahulu agar bangsa Indonesia yang kaya raya akan budaya ini jadi lebih peduli pada harta warisan nenek moyangnya.

Dulu.. dalam imajinasi masa kecil, saya selalu berkhayal bahwa kain panjang yang bermotif kuno milik nenek saya  itu bisa digunakan sebagai baju sehari-hari saya. Tapi di kala itu, mana ada cerita bahwa kain samping (begitu biasanya orang Sunda menyebut kain motif batik yang dipakai untuk bawahan padanan kebaya) didesain sebagai baju anak-anak? Bener-bener out of date banget. Bisa-bisa dibilang nini-nini. Namun diam-diam saya tetap berkreasi sendiri dengan memotongi kain samping milik nenek untuk dijadikan baju boneka.. hehe, baduung!

Jujur saja, saya mulai memiliki koleksi pakaian batik setelah mendapatkan lungsuran baju batik dari tante saya sekitar tahun 98-an. Si tante yang koleksi busananya lumayan banyak biasanya menghibahkan baju-baju baik yang masih bagus maupun yang sudah dipakai kepada saya. Alasannya karena saya adalah keponakan paling tua yang dirasa sudah pas memakai baju ibu-ibu, hihi..

Karena adanya perbedaan ‘kelas’ antara saya dan tante, dengan gaya bercanda biasanya teman-teman lebih mudah mengidentifikasi darimana asal baju batik yang saya pakai. Jika mereka mengomentari baju yang terlihat tidak relevan dengan level saya (maksudnya.. surprised aja kali ye, orang kayak saya pake baju kinclong) saya langsung bilang jika itu adalah hasil lungsuran. Ketara banget bedanya. Alhamdulillah deh, masih bisa diberi baju atau kain dengan kualitas yang bagus banget dan awet selama belasan tahun seperti ini.

Beberapa tahun lalu sambil berkilah demi menyalurkan hobi belanja, biasanya saya membeli batik dengan jumlah grosiran di pasar Klewer atau Beringharjo. Jatuhnya lebih murah jika dibanding eceran. Tapi yang namanya kedua pasar itu harga-harga barang disana memang terasa nyaman bagi orang luar Yogya Solo. Selain digunakan sendiri sisanya saya tawarkan kepada teman-teman di kantor. Harganya dibandrol masuk akal karena saya tidak berbakat berjualan. Batik yang saya beli umumnya produksi massal yang murah meriah. Batik cetak dengan motif Yogya, Solo, dan Pekalongan menjadi favorit kami di saat itu. Baik di rumah, ke kantor, atau pergi kemanapun di acara santai dan resmi. Selalu batik. Karena belum mempunyai seragam akhirnya setiap berangkat kerja, saya memakai baju batik dagangan sambil melakukan promosi terselubung. Berhubung modelnya oke banget (maksa) maka setiap baju terasa pas, enak dipandang, dan membuat orang untuk tergoda membeli.

Sebagai mantan pedagang, senang rasanya jika melihat teman-teman kebetulan memakai baju yang saya jual dan terlihat indah dipandang baik model dan warnanya. Mungkin karena teman-teman saya juga cantik-cantik ya? Ah, gimana gitu rasanya. Saya aja yang cuma numpang menjual bisa sebegitu bangga, apalagi yang membuat ya? Nah, ada beberapa cerita lucu dibalik baju batik yang saya miliki. Beberapa kali batik yang saya pakai diminta teman dan diganti harga baru saking mereka naksir berat dengan baju itu. Dan serunya, baju yang sama yang dimiliki teman saya itu juga diminta oleh saudaranya di kampung halaman. Walaah.. ada-ada aja!

Ini dia sebagian baju sehari-hari, yang dengan pedenya selalu saya pakai ke berbagai acara. Daster seksi yang adem dan nyaman karena selalu bikin semriwing, ga akan ditampilkan. Soalnya ga ada yang mau jadi modelnya ūüôā

Emak-emak nyaru jadi model pro, gimana gayanya? Hehe, meski rada aneh karena pake batik di pantai tapi saya sih cuek bebek aja. Lha.. wong lupa ga bawa swimsuit je? Alasan kenapa pake baju warna-warni di pantai adalah supaya pencitraan gradasi warna yang dihasilkan dalam foto menjadi bagus. Baju motif hitam bunga oranye ini juga salah satu koleksi saya yang diminta teman, selain motif yang sama dengan warna biru tosca. Maklum baju grosiran.

Lihatlah batik murah meriah motif yang sama dengan warna & model berbeda, sudah dibawa ke manca negara lalu berakhir di kampung halaman saudara (mintanya pake ditarik-tarik disuruh lepasin, hihi).

Konsistensi saya dalam memakai batik juga termasuk di kala harus bepergian ke berbagai kota. Biasanya saya memilih yang berbahan katun agar terasa nyaman di badan.

hiyaa.. biar kata pindah kota pindah negara, batiknya masih yang itu-itu juga

Namun seiring perkembangan suasana hati, saya tidak lagi ‘berbisnis’ baju batik produksi massal. Saat ini saya lebih memilih kain batik tulis untuk koleksi pribadi. Berhubung harganya lumayan merogoh isi kantong, jumlahnya masih terbatas. Batik Madura dan motif jawa timuran lainnya menjadi incaran, karena saya lebih suka kain yang berwarna-warni. Namun setiap ada waktu untuk pergi keluar kota, saya selalu sempatkan untuk berburu batik atau kain bermotif batik khas tiap daerah. Hayoo…belanja aja terus!

Perawatan batik tulis memang terlihat lebih ‘merepotkan’, karena tidak boleh dicuci dengan sabun dan terkena sinar matahari langsung. Untuk pencucian cukup dengan shampo dan dilakukan secara terpisah. Namun hasilnya lebih menakjubkan. Peralihan selera menuju batik tulis bukan karena masalah terjadinya peningkatan kesempatan untuk membeli. Tapi seiring kesadaran akan peran aktif instansi kami dalam turut serta berkecimpung di bidang industri kecil dan menengah. Karena interaksi dengan para pengrajin itulah, akhirnya saya mengerti bahwa yang dimaksud dengan batik adalah batik tulis, yang dikerjakan oleh para pengrajin selama berhari-hari. Sementara batik non tulis lebih tepat disetarakan sebagai kain yang bermotif batik. *CMIIW*

Tapi lepas dari perkara apakah kain yang dipakai itu batik tulis, lukis, cap, cetak atau apapun yang penting adalah usaha kita dalam melestarikan warisan bangsa. Kesediaan kita untuk selalu tampil dalam balutan busana nasional di berbagai event terutama jika berkesempatan tampil di ajang internasional. Melihat mereka berdecak kagum akan keanekaragaman budaya negeri ini  akan membuat kita begitu bangga menjadi orang Indonesia.

=============================================================================================

NB : Ini memang bukan postingan serius karena ngalor-ngidul ga jelas, tapi tetap aja akan diikutsertakan dalam Kontes Batikkan Harimu yang diselenggarakan oleh Nia, Puteri dan Orin

oh, iya.. met ulang tahun buat Mama’ sehat selalu yaa..