Pekanbaru : dari mal ke mal?

Oke, mari kita lupakan rencana yang gagal. Saatnya menikmati hari yang menyenangkan, maka sesi menghabiskan waktu luang harus segera dimulai.

Kami menginap di hotel Grand Zuri di pusat kota. Akses untuk berbagai fasilitas sangat mudah. Dikelilingi mal Senapelan dan mal Pekanbaru yang letaknya berdekatan. Fasilitas karaoke terletak di seberang hotel, minimarket tersedia 24 jam, warung jajan tersebar di berbagai sudut. Jika menyebrang jalan Sudirman terdapat plaza Sukaramai dan berbagai toko yang berjejer sepanjang jalan.  Membuat kami tak perlu naik angkot ke sana kemari, cukup berjalan kaki. Sementara di sisi lainnya, mal yang lebih besar, lengkap dan baru pun bertebaran. Tapi apakah kami mengekplorasi tiap mal? Bisa bolong kantong..hiks

Sebelumnya karena tak mengira akan menganggur, kami tak sempat mencari info tentang wisata Pekanbaru. Setelah mengobrol dengan staf pemda dan sopir taksi, kebanyakan mereka bicara dalam satu versi. Hiburan orang Pekanbaru terletak di mal. Sopir taksi bercerita pada kami, bahwa setiap weekend pengunjung mal dan hunian hotel akan meningkat karena banyaknya pegawai yang tinggal di luar kota tumpah ruah di sini untuk berwisata belanja atau sekedar cuci mata.

Pekanbaru kali ini sedang berbenah guna menyiapkan diri menjadi tuan rumah PON tahun 2012. Pembangunan jalan layang dan hotel sedang marak dilakukan di berbagai sisi kota. Kota ini terlihat asri dan unik karena bentuk bangunan artistik yang mencirikan cita rasa Melayu yang kental. Taman kota pun tersebar di banyak sudut. Namun bangunan yang paling menarik perhatian adalah kompleks bangunan mesjid agung An-nur yang sangat luas. Kami ambil dari sudut jalan Hang Tuah. Sedangkan gambar berikutnya diambil dari situs http://www.pekanbaruriau.com. Indah banget! Fotonya keren. Salut ama fotografernya…

   

Selain itu saya juga terpesona pada arsitektur gedung Balai Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi yang terletak satu jejeran dengan kompleks kantor gubernur Riau yang juga terlihat megah. Oh, ya di kota ini seluruh papan penunjuk bangunan kantor pemerintah selalu disertai dengan huruf arab yang diromanisasi di bawahnya.

Tetapi kembali lagi magnet utama Pekanbaru memang ternyata terletak pada wisata belanja. Barang-barang impor dari Malaysia, Singapura, Korea, Taiwan, dan China bertebaran dimana-mana. Setelah 3 mal terdekat disambangi, akhirnya kami melangkah ke area pasar wisata yaitu pasar bawah. Di tempat ini banyak sekali barang-barang berupa tekstil impor, makanan dan aksesoris dari Malaysia, bahan keramik dan pecah belah, tas, dan segala rupa. Tak lupa emak-emak galau ini akhirnya menghibur diri dengan berbelanja makanan printilan titipan teman-teman sejawat sehingga menghasilkan tambahan bagasi. Aneka biskuit, buah kalengan, permen, kacang, coklat, dan kuaci.. OMG!

nb : yang difoto cuma segini.. aslinya 2 kardus bo!

Satu lagi, sebagai pemburu batik berbagai propinsi kami pun tak lupa berburu batik Riau. Sang penjual menyebutnya batik tabir Riau. Sayang sekali harga untuk batik Riau tergolong lumayan, rata-rata di atas Rp 50 -60 ribu per meter untuk batik non tulis *wuih.. saya menggelengkan kepala karena masih cinta batik tulis*. Namun hal itu cukup wajar, karena mereka menggunakan kain semi sutra kualitas bagus. Untuk kualitas bahan non katun di bawahnya ditawarkan seharga Rp 25 – 40 ribu. Yang membuat kurang sreg, mungkin karena bahannya bukan katun dan tidak menyerap keringat. Tapi secara keseluruhan bermotif flora dan berwarna cerah, pokoknya jreng deh. Keren!

Ungu yang unyu… lupa nanyain nama motifnya 🙂