Senyum Bayon dan tangisan di Ta Phrom

Begitulah adanya sentimentalitas yang saya rasakan sepanjang mengunjungi candi-candi selama setengah hari saja. Campur aduk. Tak mungkin juga jika disatukan dengan postingan sebelumnya. Terlalu panjang.

(gambar peta dari google)

Selesai mengitari  Angkor Wat selama 2 jam, kami melanjutkan perjalanan ke candi berikutnya melewati Bakhaeng Hill. Sebuah bukit yang menjadi objek tempat memandangi matahari terbenam. Kawasan Angkor memang paket lengkap, tempat mengamati sunrise dan sunset masih dalam satu lokasi. Tentunya kami hanya sekedar lewat. Tidak ada kesempatan untuk olahraga sore menanjaki bukit karena waktu tak memungkinkan di samping langit sudah mulai menangis. Gerimis.

Candi Bayon adalah salah satu candi yang spesial karena memiliki 54 buah menara yang dihias 216 buah patung besar kepala Bodhisatva Avalokiteshvara menghadap 4 arah mata angin dalam senyuman yang misterius. Teori lain menyebutkan bahwa patung-patung kepala berukuran raksasa itu sesungguhnya menggambarkan kepala dan wajah Jayavarman VII. Patung yang tersenyum tapi mengandung makna yang tak dapat diartikan oleh orang yang sepolos saya.. *apaaa? plis deh!*

dinasti masa lalu ternyata hebat ya..

Relief di seputar dinding luar lantai pertama secara jelas menggambarkan berbagai aspek kehidupan di Kamboja pada abad ke-12, termasuk gambar cerita perang tentara Khmer melawan pasukan penyerbu Champa. Berakhir dengan kemenangan tentara Khmer yang dipimpin Raja Jayavarman VII. Selain itu terdapat banyak relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat di masanya.

  

Candi Bayon juga didominasi berbagai relief gambar Apsara, para perempuan elok yang tengah membawakan tarian persembahan bagi para dewa. Apsara berarti bidadari. Dalam berbagai mitos Jawa, India, dan Kamboja ditemukan kesamaan tentang penggambaran apsara. Namun apsara disini lebih dititikberatkan pada para penari yang dengan lenturnya menyilangkan satu kaki seperti pose di bawah ini. Hayoo.. bisa ga?

Di pelataran candi, terdapat pula para muda-mudi yang berpakaian penari tradisional yang siap berpose dengan bayaran tertentu. Kami hanya sempat melihat sebentar. Setelah tak lebih dari satu jam bergegas mengitari Bayon *ehm.. avonturir macam mana pula ni?*, kami langsung melangkah ke Ta Phrom. Btw, jangan dikira lokasinya berdekatan ya? Perjalanannya lumayan jauh. Setelah memutar melewati Elephant Terrace, sebuah candi yang saya lupa namanya, dan melewati gerbang Angkor Thom kedua, kami dihadang banjir. Mobil tidak bisa lewat dan diharuskan memutar dengan arah lain. Sementara hujan mulai semakin deras. Kami disambut tangisan keras di Ta Phrom. Dengan berpayung sendiri-sendiri *ini yang bikin ga jadi romantis, halaah..* kami berjalan kaki dari gerbang untuk masuk ke kawasan Ta Phrom sekitar 10 menit. Hujan tak membuat saya menciutkan hati untuk berkelana dan memilih duduk manis di mobil. Hoho.. no way, udah jauh-jauh kok!

Lokasi ini tambah dikenal karena dijadikan tempat syuting Mrs. Brad Pitt dalam film Tomb Raider. Tidak seperti candi lain yang dipugar dan dibangun kembali. Di beberapa lokasi malah dibiarkan beradu fisik dengan pohon-pohon yang sangat besar, yang katanya disebut pohon Spung. Akar-akar pohon mencengkeram batuan candi dan menjadikan profil candi menjadi lebih eksotik, misterius, dan seram.  Pemerintah India bersedia menjadi donatur untuk rekonstruksi Ta Phrom mengingat keterkaitan budaya di masa lalu. Dari luar penampakannya seperti di bawah ini.

  

Setelah melongok ke dalam, mulailah eksotisme terekspos dengan indahnya. Para turis bergantian berpose di depan lokasi favorit yang menjadi tempat syuting tadi.

  

Menurut ensiklopedia, Ta Prohm yang dibangun pada masa Raja Jayawarwan ke VII pada tahun 1186 merupakan persembahan kepada orangtuanya. Semula bernama Rajavihara dan ditengahnya dibangun makam untuk sang ibu. Makam ini menurut sejarah dilapisi dengan perunggu, dihiasi dengan ratusan batu ruby, emerald dan berlian yang ditanamkan pada dinding makamnya.

Catatan pada batu peninggalan memgatakan candi ini dihuni lebih dari 12,500 orang, termasuk 18 orang pendeta tinggi, 2.200 rahib, dan 615 penari. Raja Jayawarman II memerintahkan suatu komunitas sekitar 80 ribu orang untuk mengurus Ta Prohm ini. Semua aktivitas dilakukan mulai dari kegiatan agama, memelihara candi dan menyiapkan pasokan makanan.

Tangisan hujan tak berhenti sampai kami memutuskan untuk bersegera kembali ke tempat parkir mobil. Sebenarnya sayang sekali kami tak sempat berlama-lama disana. Meski sedikit merasa patah hati karena tak bisa menikmati pemandangan secara khusyu, akhirnya saya kembali bangun ke alam realita dan melupakan mimpi untuk beradu akting dengan Angelina Jolie.

46 thoughts on “Senyum Bayon dan tangisan di Ta Phrom

  1. akar pohonnya udah segede itu… hii… tahan berapa lama lagi ya candi ditumpangi pohon2 raksasa itu

    mbak… cuma setengah hari di sana tapi kunjungannya lengkap banget

    • yang must visit versi aku emang 3 ini dulu mba.. *biar ada alesan datang lagi* ada 2 candi besar di Angkor Thom yang dilewati dan sekian candi kecil yang hanya kami lambaikan tangan. Banteai Srey pun tak bisa dikunjungi, jaraknya 20 km dr sini dan banjir, hiiks..

  2. waaah, perjalanan wisatanya cocok sekali nih buat aku—menjawab pertanyaan mbak ttg schoolarsip, dapat dar ford foundation utk master di asian studies university of hawaii at manoa. jadi ingat pelajaran sejarah asia tenggara, tentang kejayaan ayodya di sekitaran thailand n cambodia juga tarian apsara. sekilas lihat gambarnya, eksotismenya melebihi borobudur ya sepertinya … salam kenal ya, tulisannya kereeen!

  3. Peninggalan yang sangat bersejarah..
    Jadi tau deh,..
    Dari tadi nyobain posisi nari yang di gambar itu..
    aha..pengen ketawa ketiwi..lucu..
    *ngapain juga aku praktekin*
    tambah penasaran sya..
    dan ternyata aku BIsa..!! ha..ha..ha..

  4. Wah bagus banget review-nya mbak..lengkap, menarik..kayaknya kayak wisata candi di yogya dan jawa tengah yah mbak..
    Terus kemarin pas makan siang iseng juga diskus sama kawan yang hobby backpacker juga katanya kalo candi candi kita macam borobudur prambanan dan sekitarnya..nggak kalah bagusnya ma Angkor wat dan candi candi di kamboja…benarkah mbak?? Hmm pantes jadi penulis perjalanan nieh bunda Hilsya..mantap, lengkap, cantik banyak sisi menarik yang diungkap termasuk relief perempuan menari itu….:)

    • bener.. tapi kita kalah satu poin dengan kemajuan pariwisata mereka.. angkor bisa menarik turis manca berkali2 lipat dibanding borobudur & prambanan. moga2 kedepannya bisa dikejar

  5. ya ampun mbak…itu akar pohonnya sampe segitu yachhhh……biasanya pohon kayak gitu angker yach mbak….klo malam gimana suasananya??

    yach sayangnya hujan yachh….tp hebat euuuy liputannya lengkap…dan bisa nyaingin gaphe nech hehehe…..

  6. waduh, itu akar pohon sak guede gitu tho Hilsya ?
    untuk menopang candi gituh ?
    hedeh hedeh….kelihatan memang nuansa mistis dan misterius nya ya ….

    cuma setengah hari disana , tapi lengkap banget ini laporan pandang mata nya Hilsya …🙂
    salam

  7. Memasuki tempat bersejarah gini emang selalu menimbulkan perasaan gimanaa gitu ya. Antara mistis, mengagumkan seklaigus gak percaya gitu😀

    Selamat bersenang-senang, Hilsya, semoga langitnya sudah happy kembali😀

  8. Keren yah.. ya candinya, ya liputannya, ya orang-orang terdahulu…. hebat semuanya… Mbak, jadi tambah ngiri bin mupeng nieeeeyyy…..

  9. Kirain tangisan siapa mbak, ternyata hujan lebat banjir di Ta Phrom toh.. Apa kamboja jg krisis lahan resapan jg kah..?😛

    Jalan2 ke Ta Prohm serasa ikut maen film Tom Raider nih Mbak… Hehee…

  10. Liputan mamanya Hilsya emang super duper muantep deh! Walo hanya sebentar di situ, tapi lengkap banget!

    Beruntung banget yah mbak bisa ngeliat langsung lokasi syutingnya tomb rider itu, ternyata kerennya sama dengan yang di filmnya ya mbak😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s