Siapa suruh datang ke Kamboja?

Perjalanan ke Kamboja merupakan sebuah pengalaman yang melelahkan  bagi jiwa dan raga (lebay). Dimulai dengan undangan kolega ministry yang sudah lama belum pernah dipenuhi. Disertai rasa penasaran yang amat sangat karena begitu banyak turis asing yang berkunjung ke sana. Akhirnya setelah hampir 10 tahun kemudian tawaran itu saya iyakan juga.

Aslinya kami kebingungan dengan perjalanan ke sana, karena tak ada penerbangan langsung ke Phnom Penh (PNH). Pilihannya transit di Kuala Lumpur, Singapura, atau Bangkok. Setelah menimbang, memilih, dan memutuskan dalam jangka waktu yang tak jelas, maka ditetapkan untuk memilih penerbangan murah AA dengan transit di KL selama pulang pergi. Harga tiket yang dipesan secara nekat tanpa itinerary yang matang 9 bulan lalu sekitar 700rb PP. Murah banget kan? Hehe.. jangan ge-er dulu.

Kolega saya semasa mengikuti pelatihan adalah orang-orang yang cukup mempunyai posisi di instansinya. Bukan kroco model saya yang bisa minta cuti kapan saja. Ketika kami bertukar kabar, bahwa kami akan berkunjung minggu ketiga bulan September, mereka merasa surprised dan waswas. Katanya kami datang pada momen yang salah. September adalah musim hujan, dan minggu ketiga ini mereka mempunyai acara seremonial bagi keluarga (Pchum Ben Day 2011) dan dijadikan libur nasional selama 3 hari. Waduuuh.. gimana juga? Tiket (baik yang murah maupun yang mahal) sudah kadung di tangan dan rasanya akan sulit jika kami ubah di lain hari. Selain ga punya duit lagi, saya juga bingung bagaimana minta ijin dari kantor. Pokoknya judulnya it’s now or never deh. Terserah mau ada guide atau tidak, yang penting jadi berangkat.

Bicara tentang tiket, tadinya kami hanya akan berada di PNH saja. Sehingga kami merasa cukup dengan 3 hari termasuk pulang pergi di Kamboja, sisanya kami singgah di KL (di sini saya juga punya kolega yang bersedia menampung kehadiran sang penggembala..hehe, baca : bilang aja kalo ga punya duit banyak buat tinggal di hotel). Tetapi setelah dipikir ulang, rugi rasanya jika ke Kamboja tanpa pergi ke Siem Reap untuk melihat sisa kemegahan masa lalu dinasti Angkor. Berpikir keras bagaimana caranya supaya bisa pergi ke SR dan PNH dalam waktu 3 hari rasanya sangat tidak mungkin. Maka dengan sok kaya bin ngenes, kami bersedekah kepada maskapai AA untuk perjalanan pulang PNH-KL-JKT. Kami membeli tiket baru dengan maskapai MAS dari PNH ke KL lalu dilanjut dengan KLM untuk tujuan KL ke Jakarta di hari yang sama dengan total harga 3x lipat *hiiks* sambil melupakan keinginan untuk raun-raun di KL.

Dewi fortuna masih mengiringi kedatangan kami, karena ternyata ‘kakak Khmer’ saya -yang dipanggil Bong (artinya kakak laki-laki/perempuan)- bersedia menjemput kami di bandara, lalu mengantar langsung ke Siem Reap di hari yang sama. Perjalanan dari PNH ke SR yang berjarak 314 km akan memakan waktu selama 5 jam. Disopiri sendiri oleh lelaki pendiam yang wajah babyfacenya tak berubah semenjak kami bertemu pertama kali, membuat saya sangat berterimakasih akan kebaikan dan kebersediaannya.

Awalnya saya janjian dengan sahabat baik si Bong yang juga teman satu ministry, satu kursus, lebih cuek dan lebih enak untuk diajak mengobrol. Saya memanggilnya deer (bukan dear). Tapi yang bersangkutan malah tiba-tiba tidak muncul sampai saya pulang. Ia ditugaskan bosnya pergi keluar kota lalu dilanjut dengan upacara keagamaan mereka tadi. Sejujurnya meski dulu antara saya dan Bong lumayan dekat karena terpaksa berdekatan setiap saat, tetap saja saya merasa sungkan jika harus meminta mahluk tanpa kata -yang punya nama panggilan sama dengan saya- ini untuk mengantar kesana sini. Namun tanpa disangka, ia malah menawarkan untuk mengantar jemput kami dan menepati janjinya. Ah ternyata ia malah masih begitu peduli terhadap kami (karena ada saya tentunya *kedip-kedip*)

Saya juga cukup beruntung karena pertanggal kedatangan saya kemarin warga negara Indonesia dibebaskan dari membayar visa untuk masuk ke Kamboja seharga 20-25 USD *lucky me*. Ditambah pembebasan biaya airport tax sewaktu meninggalkan Phnom Penh airport seharga 25 USD. Lumayan banget, bisa mereduksi pengeluaran.

Saya tambah beruntung karena bebas dari biaya tuktuk dari bandara ke kota seharga 5 USD, biaya perjalanan dari PNH ke SR dengan bis Mekong Express seharga 13 USD, menginap di hotel bintang 4 Allson Angkor gratis (si Bong bayar cuma 15 USD karena dapat harga spesial, aslinya menginap disana seharga 45-50 USD per malam), makan siang buffet seharga 8 USD untuk turis. Hahaha… *maaf sedang tertawa bahagia*. Senengnya punya abang ganteng dan baik hati😀

Tapi sungguh saya masih ga enak hati karena merepotkan si Bong yang matanya minus dan plus karena usianya sudah 41 lebih untuk berkendara ke SR. Perjalanan yang sangat mendebarkan karena di malam hari ternyata tidak ada lampu penerangan di pinggir jalan, ditambah dengan hujan yang tak berhenti turun. Kadang deras kadang gerimis. Dingin menusuk sampai ke tulang. Kecepatan mobil tidak lebih dari 40-60 km/jam karena kondisi jalan yang kurang baik. Baru setelah melewati Kampung Thom (yang baru setengah jarak dari PNH ke SR), ia melajukan kendaraannya sampai 100 km/jam agar segera sampai di tempat tujuan. Tanpa kata. Sepanjang jalan kami melewatinya dengan susana hening. Kebayang kan, gimana perasaan saya jadi ga keruan. Antara enak dan ga enak hati. Susah emang kalo jalan dengan mahluk pendiam. Waktu saya tanya kenapa ia diam saja padahal kami baru bertemu lagi setelah hampir 10 tahun, ia cuma bilang “you knew me”. Ah, mati kutu deh gue!

Untungnya kendaraan yang dipakai cukup nyaman. Di sana Toyota Camry adalah mobil yang paling populer bagi kalangan menengah. Bong bilang Camry itu buat orang miskin seperti dia, kalo orang kaya pakenya Lexus. Halaah?? Tapi semasa di perjalanan, angkutan umum terlihat sangat jarang ditemui. Jika adapun, dapat dipastikan isinya penuh sesak. Mobil yang dipakai sejenis colt mini Elf jurusan Bogor-Sukabumi. Isinya? Di deretan supir bisa diisi 5 orang (bingung kan ngebayanginnya?). Belum lagi di jajaran tengah ada dua baris yang berhadapan, masing-masing berisi 4-5 penumpang. Di bangku belakang pun sama. Ditambah bawaan penumpang, kadang kardus bahkan motor. Jika masih tak cukup, bagasi diletakkan di atas kap mobil.  Pokoknya total penumpang semobil pasti sekitar 20 orang lebih deh. Mau saya ambil fotonya, saya ga enak hati. Takut si Bong tersinggung.

Yang jelas, akhirnya kami tiba dengan selamat di hotel hampir jam 11 malam. Tanpa banyak bicara, kami segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Lelah rasanya mendapati badan kerempeng yang harus bepergian mulai dari jam 5 pagi, totalnya sekitar 20 jam lebih. Tidur di kamar yang cukup nyaman membuat kami berharap bisa menikmati tujuan berikutnya di esok hari. Angkor.. I’m coming!

50 thoughts on “Siapa suruh datang ke Kamboja?

  1. walah mak nyamannya jalan jalan lagi..masak sih remuk redam jiwa raga..saya yang mbacanya aja antusias..:P
    eh btw aku pernah dengar dari kawan dulu yang pernah ada project disana, katanya kamboja jaman tahun 2007 waktu itu, kayak jakarta tahun 70-an atau 80 an..bener katanya…
    apakah iya ?? terus kata kawanku yang barusan tahun kemarin traveling ke 3 negara deket deket kamboja dan termasuk kamboja, katanya barang barang souvenir disana murah murah banget..benarkah mbak??

    • hihihi..kerasanya baru sekarang mam…
      iya, bener.. ga bermaksud merendahkan.. di sana seperti Indonesia tahun 80-an. Ada beberapa bagian yang sudah modern, tapi pariwisatanya well organized kok

  2. Waahhh…kerennya yang habis jalan2 lagi ke Kamboja. Mupeeenggg…hehehe…. Setuju sama mama Kinan, masak sih remuk redam, lha wong yang baca aja kesenengan kok bacanya😀

    Di sana camry untuk kalangan menengah ya?? gileee…..kalo gitu di sana penghasilannya gede2 ya mbak😀

    • Hatiku tertinggal disana Lis… halaah. Meski sederhana tapi banyak yang menarik.
      Penghasilannya biasa kok, tapi living cost-nya agak mahal dibanding kita..
      yang kaya..ya kaya.. yang ga punya, ya ga punya..

  3. wuidiih, mantaabh… yah kadang emang perubahan rencana dadakan tuh bikin cost membengkak yah.. sama kayak saya ini, gara2 cancel pindah hari buat perjalanan dinas buat operasi gigi malah nambah biaya buat revalidasi tiket.. huks…
    ditungguu deeh kisahnya di angkor. hahaha🙂

  4. Wah mbak ternyata habis jalanjalan ke kamboja toh.. wah senengnya.. klo ada temen dinegara tujuan emang bisa ngurangin biaya banyaj yak mbak..

    Ditunggu cerita angkor plus fotofotonya😀

  5. wahh asyik yach bisa jalan2 ke kamboja…jd penasaran…..soale gak ada foto2nya jd ngga bisa mbayangin suasanya dsana seperti apa ehhehe…..alasan… padahal pengen lihat fotonya mbak hilsya hihihi….

  6. Baca yg Angkor Wat duluan baru yg ini.. Ooh ternyata spt itu cerita dibalik kunjungan Mbak ke Kamboja…
    Biar capek yg penting menyenangkan ya Mbak.. Apalagi udah punya sohib org Kamboja..
    Aku dlu jg punya sahabat org Kamboja tp skrg gak tau lg dmn rimbanya.. Hehehe…

  7. Huwaaaa…. lamaaa gak baca blog hilsya… ternyata si empunya malah udah nyampe Kamboja aja niey… pengeeeennn…… ah, aku semangat banget bacanya……

  8. Waaaa..senengnya jalan2 muluuuu…itu dibayarin kantor atau mbayar dhewe mam?? hehehe Ha?? Camry buat org miskin kl di sana…..?? Direkturku aja pakenya camry hehehe😀

    • disana perbedaan kastanya jelas banget.. abang eike *ngaku-ngaku* org govt employee yg punya anak 4 dan istrinya ga kerja.. gaji dia katanya abis buat sehari-hari aja..
      mungkin Camry disana setara dengan Kijang di sini kali ya.. bukan harganya lho, tapi populernya

      sama Neng, dirikyu juga udah beres nangis sesenggukan gara-gara ga punya mobil.. lebaaayy

  9. suka banget kalau baca ttg jalan jalan,
    pingin tau negeri orang kayak apa ?
    apa kebiasaan disana?
    dan apa aja yg pantes dan seru utk dilihat?
    kulinernya kayak gimana?
    tempat2 belanja yg ok( murah meriah maksudnya) dimana?
    waaaahh………..dah gak sabar baca lanjutannya🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s