17 Agustus 2011

gambar : dari webnya btcfashionmall

Ada yang menarik di hari kemerdekaan ke 66 ini. Saya dan banyak teman lainnya diundang dan harus hadir dalam penyematan penghargaan di kantor pusat di Jakarta Timur. Para peserta pria memakai jas sedangkan peserta wanita memakai pakaian nasional.

Sebelumnya saya ceritakan the story behind the scene dulu ya, dimana para ibu-ibu jarang dandan dan ga modis ini tiba-tiba kelabakan menyadari bahwa stok pakaian nasional mereka terbatas. Mulanya kami kompakan akan memakai seragam batik, tapi dilarang karena khawatir saltum malah jadi memalukan. Saya hanya punya satu kebaya warna putih bekas akad. Kalo sarungnya sih lumayan ada pilihan. Teman lainnya ada yang punya baju kurung tapi sempit, atau selendangnya ga ketemu atau banyak deh printilan ga jelas lainnya. Yang lain lagi memilih untuk meminjam ke tetangga yang memiliki jasa riasan pengantin. Karena itu sebelum hari H akhirnya kami memutuskan untuk fitting baju atau tukar pinjam sana-sini supaya matching.

Di hari H jam 3 pagi saya bangun, mempersiapkan sahur, dan lain-lain. Selesai subuh, langsung mengenakan kebaya pinjaman (songketnya milik pribadi) plus kerudung modifikasi yang dipelajari via youtube di hari sebelumnya. Jam 5.30 berangkat ke kantor (maklum tinggalnya di desa, jauh banget). Upacara dimulai pukul 7 pagi.

Begitu sampai di meeting point, mulailah kami cengar-cengir ga keruan melihat penampilan teman-teman. Si cantik imut yang hobi dandan emang biasa dandan, jadi tetep aja kelihatan cantik. Temen satu lagi biasa aja, hanya dipoles sedikit. Satu lagi, miss sotoy yang suka heboh tiba-tiba tampil dengan riasan model penganten.. *ngakak pas pertama kali ngeliat*. Temen lain, cuek abis pake kebaya dan sarung tapi sepatunya boot. Lainnya, tampil cantik dengan dandanan hendak menjalani sesi pemotretan prewedding. Saya hadir dalam nuansa sangat perempuan, yang sepertinya bukan gue banget. Berangkat ke kantor masih pake jeans, tanpa make up, dan sepatu teplek. Kalo pake high heels suka diprotes  teman yang lebih pendek 😀

Karena tampil terlalu pucat, si cantik berniat untuk melakukan make over pada saya. Berhubung waktunya terbatas, akhirnya ia menemplokkan dempulan sana-sini saat mobil berhenti di pom bensin guna membuat wajah saya lebih merah merona, halaah.. Yang seru ketika ia menggarisi kelopak mata dengan eyeliner saat lampu sedang merah. Tanpa sadar saat lampu berubah hijau, karena hentakan mobil yang akan melaju ia mencoret ujung mata saya sehingga tampilannya jadi lebih tebal. Dipikir-pikir jadi kayak Deddy Corbuzier deh.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam kami memasuki lapangan upacara. Para peserta telah berkumpul. Rada malu juga sih melintas di depan khalayak ramai dengan tampilan lenong gini, tapi teteplah harus pede. Para peserta penerima penghargaan lumayan banyak, hampir 300 orang.  Ada yang menjelang pensiun berupa penghargaan 30 tahun, 20 tahun, dan yang paling banyak tentunya yang 10 tahun sekitar 200-an orang. Dan Bapak Menteri menyematkannya satu per satu.

Nah, cerita seriusnya..

Bicara tentang upacara, ini adalah kali ketiga saya ikut upacara sepanjang bekerja 13 tahun. Rekor yang memalukan memang. Kadang terbersit dalam hati “wong ga perlu ikutan berperang lawan penjajah, disuruh upacara aja susah”. Seperti biasa, urutan tata laksana upacara bendera tidak berubah dan jauh lebih singkat. (Tak) Belum ada yang menyentuh.

Ketika penyematan penghargaan kepada para pensiunan dimulai sambil diiringi musik instrumentalia “Padamu Negeri”, tiba-tiba terasa ada sesuatu yang membuat saya meneteskan airmata diam-diam sambil berharap tidak membuat eyelinernya belepotan. Mereka bekerja dalam kurun waktu yang cukup lama. Lalu negara juga tak lupa memberikan penghargaan berupa piagam lengkap dengan Keppres RI dan pin satya lancana karya satya.

Dan artinya?

Saya seperti diingatkan untuk berhenti mengeluh tentang banyak ketidakpuasan yang terjadi. Mulai untuk bekerja sepenuh hati dan lebih baik lagi. Pengabdian tidak hanya semata harus dibayar dengan uang namun juga dibalik semuanya ternyata ‘mereka’ juga memperhatikan kehidupan kita.

Saya dan teman-teman di sini pastinya lebih beruntung karena mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik dibanding ribuan orang yang tinggal di pelosok dan serba kekurangan. Atau dibanding banyak para veteran yang berjuang nyata mempertahankan kemerdekaan lalu kehidupan di hari tuanya seolah-olah diabaikan atau memang terabaikan. Komparasi dengan mereka, membuat saya jadi malu hati sendiri.

Perasaan saya campur aduk. Bahagia, bangga, sedih, malu jadi satu.

Dan meski bukan pejuang akhirnya saya mulai bisa menyadari perasaan, semangat, kebanggaan, dan keseriusan para veteran yang diundang dalam upacara kenegaraan. Sebuah apresiasi bisa menggiring rasa ke tahap eksitasi. Merasa dihargai. Teman-teman bisa mengerti apa yang saya maksud?

Mungkin kita bisa sama-sama mulai jadi bagian kecil untuk ikut berjuang. Semangat!

============================================================================================

Dirgahayu Republik Indonesia ke 66. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayah kepada bangsa Indonesia dan seluruh anak negeri.  Serta pengampunan dan surga bagi para pejuang bangsa. Amiiin

Iklan

54 thoughts on “17 Agustus 2011

  1. haduh… heboh dengan dandanan ya…., aku juga pasti kelabakan kalau harus tampil berkebaya ha..ha.., untung berjilbab nggak harus kondean sebelum sahuar ya..

    semangat mbak, berjuang bisa dengan cara apa saja ya, setuju

  2. lah jeng, kenapa hasil dedempulannya nggakk diekspos disini sih?..
    btw cieeee yang dapet penghargaan ni yeeh.. berarti udah banyak berjasa padamu negeri ini mah!..

    salutee salutee

  3. Tadi pagi, saya juga ikut upacara bendera pake kebaya, Hilsya…di sebuah tempat yang lumayan jauh dari pusat kota, sederhana pasti, apalagi bila dibandingkan dengan upacara di istana negara.

    Tapi entahlah, saya terharu dengan keseriusan petugas dan peserta upacara selama mengikuti semua acara. Semua dilakukan sungguh-sungguh dan penuh senyum.

    Ah, kembali saya bangga.
    Ternyata keterbatasan itu tidak membuat mereka protes sana-sini, tapi justru melakukan yang terbaik sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi. Hebat!

    Hilsya, baik-baik kan?

    • iya mba Irma *pasti cantik pake kebaya*.. jadi lebih mengerti bahwa kita bisa merasa bangga dan bahagia jika diapresiasi.. meski tidak dalam bentuk materi..

      baik mba.. cuma lemes aja, abis puasa sih..hihihi

  4. mempersiapkan diri dengan kehebohan untuk menerima penghargaan karena pengabdiannya, itu termasuk berjuang melawan kebiasaan juga kan.
    semoga tetap setia dengan janji pengabdiannya 🙂

  5. terbayang deh mbak, pasti panassss banget yaa upacara pake dandanan seheboh itu?? huuuhh tapi bersyukur deh mbak masih bisa ikut upacara, lah saya sejak melepas seragam putih abu2, sejak saat itu juga nggak pernah upacara lagi #miris. btw, MERDEKA mbak!! dirgahayu untuk Indonesia kita 🙂

  6. entah kenapa, jadi ikutan terharu ngebayangin nasib veteran-veteran itu, mantan pejuang itu. mereka dulu tidak akan berpikir mengenai tanda jasakan? iyah tidak sih? *agak gak yakin, tapi logikaku meyakinkan ku lagi
    hahahahha

    mereka membayangkan gak sih generasi penerusnya terus-terusan memprotes berbagai kebijakan, mengeluh berbagai keadaan yang tentu sudah jauh lebih baik dibandingkan pada jaman mereka?
    ahhh sungguh sedih rasanya..
    btw, kirain ada foto gerombolan lenongnya Mbaaak
    😀

    • ya ampun, baru kali ini aku baca Ais serius.. pasti karena lagi ulangtaun yah? *huss*

      tanda jasa sih ada, tapi mungkin ga semua kebagian. tapi percaya deh mereka ga pernah berpikir ttg itu.. hanya kita aja yg seharusnya bisa balas budi

  7. Yey, ga ada fotonyahhhh, hoax berarti 😛
    Tapi berhasil membuatku jg malu hati Teh, lah wong diriku kemarin itu cuma tidur-baca buku-nonton tipi wungkul, sore2an doang nonton upacara penurunan bendera. Ihiks..

  8. membaca tulisan diparagraf paragraf awal..ngakak.ngakak..apalagi soal kayak dedy corbuzer itu..hehehe…giliran sampai Pada cerita “lagu padamu negeri” ikutan terbawa suasana..haru..mesti tak ikut langsung saya juga merasakan haru….hmm..kadang nuansa seperti inilah yang membuat kita bangun dan bangkit semangat untuk pengabdian pada bangsa..:)
    Dirgahayu Indonesiaku…semoga samakin jaya dan merdeka untuk semua rakyatnya..sejahtera, adil dan makmur..semoga para koruptor segera insaf..dan memilih pengabdian yang sebenar benarnya…*amien..

  9. Dulu sebelum maknya anak2 pake jilbab, saya harus bangun jam 4 , dan pada jam 5 antar ke salon untuk acara jam 9. Ampyun, ini mau undangan atau mau nyopet kok pagi bener.
    Sekarang dah pake jilbab jd gak perlu kesalon lagi.

    Jadi ingin lihat fotonya yang kayak Kang Dedy deh.

    OOT : 2 buku sudah saya kirim jeng,semoga bermanfaat

    Salam hangat dari Surabaya

    • tuh kan terbukti..bude aja dulu heboh nyalon 🙂 sekarang mah lebih simpel, lebih enak buat semuanya

      Pakde, matur nuwun sanget.. kok jadi berbunga ya? padahal itu opsi lho.. *aduuh.. jadi sungkan*

  10. Penasaraaaannn liat temennya yang pake kebaya + sarung + boot itu..jadinya kek mana bentuknya??? 😀

    Ho oh, emang mesti bersyukur sih, kita hidup di daerah yang masih terbilang baik lah, fasilitas ini-itu ada. Lha bayangin dong yang hidup di pedalaman dan daerah perbatasan. Mo beli beras aja susah..hiikksss… *jadi ikut terharu*

    • seru sih.. tapi mereka pada cuek kok..
      kita aja geng miss rumpi pada heboh sendiri ampe dandan ke salon.. yg kantornya di jakarta malah biasa-biasa aja.. jadi malu banget iih.. untung 10 tahun sekali 🙂

  11. Iya, kalau 17 Agustusan, biasanya pemerintah ramai memberikan penghargaan satyalancana karya satya kepada PNS yang telah bekerja selama 10, 20 dan 30 tahun. Tapi kaalu di kantor tempat aku bekerja biasanya diserahkan pada waktu hari ulang tahun berdirinya instansi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s