Tersirap jejak nasionalisme negeri tetangga

“Apaa? Mengunjungi museum? Melihat sisa-sisa perang? Ga salah tuh? Kita ke sini kan buat jalan-jalan!”

Aku bersungut-sungut, mencoba menyetarakan daftar keinginan pribadi dengan skedul yang tertera pada perjalanan kami. Membayangkan di siang hari yang terik kami harus rela berpanas-panas menyusuri komplek sisa perang dengan segala ketidaktertarikan yang sudah dipasang sejak awal. Sesuatu yang tak menyenangkan. Membosankan.

Tapi susah payah aku mengelak, rupanya tak berguna. Kami berada dalam satu grup perjalanan dengan jadwal yang sudah disepakati. Akhirnya aku memilih untuk berkompromi, belajar berempati. Malu rasanya jika harus menomorsatukan ego hedonis yang tak jelas. Lalu dengan pasrah aku duduk manis di sebuah mini van yang membawa kami ke tempat tujuan, terowongan cu chi.

Ketidaktertarikan membuatku mengenyahkan segala informasi tentang sejarah perang di negeri tersebut. Bagaimana perang dimulai, apa saja yang terjadi, lalu kapan perang berakhir. Semuanya berlalu begitu saja, tanpa kesan. Hatiku sedang beku. Aku benar-benar keras kepala.

Aku menelusuri jalanan setapak yang memang sudah dipersiapkan untuk para pengunjung tanpa semangat, mengikuti instruksi sang tour guide. Aku memperhatikan keadaan sekeliling komplek cu chi yang terawat.  Dengan enggan kuabadikan setiap momen atau tempat yang dianggap penting. Saat itu aku sedang tak ingin membandingkan ini itu. Apalagi dengan negeriku.

Mereka mengemas sisa peninggalan perang dalam paket tur yang menarik. A must place to visit. Tepatnya mengemas penderitaan di masa lalu sebagai salah satu objek wisata yang menghasilkan devisa. Dalam perjalanan menuju terowongan, kami juga disinggahkan di industri kerajinan yang dikelola oleh para korban cacat perang. Di dalam komplek cu chi yang gersang itu terdapat beberapa jejak perangkap, koleksi senjata, bangunan perang, tempat pengungsian, terowongan, dan tank-tank perang. Hampir serupa dengan puluhan tahun lalu. Segalanya dijaga dalam kondisi maksimal dan bersih tentunya. Ditambah dengan eksotisme hutan negara Asia yang akan mengundang rasa penasaran para pengunjung mancanegara. Tapi tidak denganku. Apa menariknya saat sang guide tour menunjukkan kepada pengunjung bahwa mereka memiliki banyak pohon nangka? Atau makan beberapa potong singkong tidak pulen di akhir rute perjalanan di komplek terowongan? Nangka di negara kami berlimpah. Singkong di kebunku lebih enak.

Hoho.. sepanjang jalan aku masih tak berhenti berpikir sempit. Dangkal sekali.

Tapi rupanya aku belum berubah menjadi batu. Tanpa disadari, tiba-tiba aku merasa sedih dan malu. Bagaimana tidak, bangsa Vietnam ‘hanya’ berperang dengan Amerika selama 35 tahun. Namun kesadaran mereka untuk menjunjung patriotisme bangsa yang dikemas dalam sebuah wisata ternyata telah berhasil mengaduk-aduk emosi dan rasa nasionalisme seorang warga negara yang selama ini ongkang-ongkang karena merasa hidup di Indonesia adalah suatu suratan takdir. Tanpa pernah memikirkan dengan seksama berapa juta jiwa yang hilang untuk membela negara karena dijajah selama 3,5 abad.

Iya.. bukan 35 tahun, tapi 3,5 abad lamanya.

Aku meneteskan air mata. Aku malu pada sesosok diri yang sangat arogan. Sosok yang hanya pandai menghapal untuk mengisi soal dalam ujian sejarah. Sosok yang tak pernah memberikan sumbangsih sedikitpun pada negara. Sosok yang tak pernah berterimakasih dengan wujud nyata pada para pelaku sejarah. Aku merasa sangat tidak nasionalis. Kemana peduliku pada sejarah bangsa dan peninggalan perjuangan selama ini?

Hatiku seperti tambah merasa dikoyak-koyak saat harus melewati berbagai gambar bentuk kekejaman perang yang dipajang dalam etalase  museum war remnants. Jutaan nyawa melayang, ribuan jiwa menjadi cacat permanen, dan kerusakan di semua wilayah negeri membuat tubuh ini tambah bergidik.  Momentum perjuangan bangsa Indonesia terbayang kembali. Aku mencoba sedikit merenung. Ya..mungkin kita bisa sedikit bersyukur karena bisa dikatakan tak ada generasi yang cacat permanen karena agent orange. Tak ada korban kejahatan perang akibat bahan kimia mematikan seperti dioxin.

 

Apa yang ‘miss’ dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia? Mengapa jiwa patriotisme dan nasionalisme sebagian besar orang Indonesia -oh, sepertinya aku harus menunjuk diri sendiri saja- seperti berada di angan-angan? Mengapa tak pernah ada bukti untuk mengemas sejarah budaya dalam bentuk yang lebih apik dan tertata? Apakah karena perjuangan bangsa kita berabad-abad? Perjuangan yang terlalu lama membuat sulit bagi generasi penerus untuk memfokuskan keingintahuannya?

Misalnya saja, mari kita bicara tentang peninggalan perang bangsa Indonesia.  Dimanakah tempat itu berada? Hanya sedikit yang tersimpan di museum nasional. Sisanya? Mungkin beberapa kawan tahu, bagaimana cerita tentang kebanyakan kendaraan perang peninggalan jaman Belanda ataupun Jepang yang harus berakhir di tangan tukang besi loakan. Atau banyak artefak peninggalan sejarah yang akhirnya dikirim ke luar negeri.  Dijual hanya untuk memenuhi ketamakan dan kebutuhan dasar hidup manusia.

Lalu jika sudah begitu, siapa yang salah? Siapa harus bertanggungjawab? Pemerintah? Pihak tertentu?

Rasanya tak perlu melimpahkan kesalahan pada oknum sana-sini demi menutupi kebrobrokan penghayatan perjuangan bangsa. Segalanya harus diupayakan dari diri sendiri. Membangkitkan nasionalisme dan emosi patriotik bangsa dari hal sederhana.

Tapi sayang sekali, ternyata aku tak tahu seperti apa jawaban paling detil. Segalanya seperti sudah sangat terlambat. Kita tertinggal jauh.

Namun satu hal yang aku tahu. Tak perlu malu mencontoh usaha negara tetangga agar generasi kini bisa lebih memahami arti perjuangan bangsanya sendiri.

Ah, iya.. punya kesempatan berada di tempat orang lain membuat aku menjadi sangat cinta Indonesia, sungguh! No matter what. Terserah orang mau bilang apa tentang Indonesia.

Para pejuang bangsa, maafkan aku. Maafkan aku karena tak pernah secara nyata menghargai jerih payah kalian selama ini. Hanya sedikit doa yang kupanjatkan, semoga Allah menerima amal ibadah kalian yang telah berjihad membela negara dan memberikan kelapangan di sisiNya.

*mendapat inspirasi saat merasakan galau disela-sela mengunjungi cu chi tunnel dan war remnants museum*

============================================================================================

Artikel ini disertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Sponsored By :

44 thoughts on “Tersirap jejak nasionalisme negeri tetangga

  1. hemmm.. kalo ke Vietnam, emang salah satu tempat wajib kunjung ya di cu chi tunnel. konon katanya tinggi minimum 160 cm buat masuk kedalam dan nongolin kepala. kurang dari itu, siap-siap nggak keliatan.. hihihi.

    seandainya di tempat kita wisata museum dikemas keren kayak diluar negeri yah?
    goodluck, moga menang

    • terowongan yg kita masukin udh diperbesar dari aslinya.. itupun terasa sempit karena harus menunduk sepanjang jalan.. ga kebayang hidup seperti itu..

      seandainyaaa…

      no need to win, just wanna share (aah, gaya..hihi)

  2. jadi pengen posting waktu ngajakin fauzan jalan2 ke beberapa museum perjuangan di bandung, ada satu yg kondisinya gak terawat, yg ada malah serem, pengen buru2 keluar ruangan ..

  3. tahun berapa perang padri terjadi?
    tahun berapa perang Diponegoro terjadi?
    dan sebagainya dan sbagainya…

    asli saya lupa.. hahahah,, payah bener lah saya…..
    harus baca2 lagi sejarah Indonesia,
    semoga menang bun..😀

  4. hmm….membaca dengan serius,,,benar juga dimana rasa patriot kita,,mungkin benar Kak kita hanya bisa menghafal sejarah² negeri ini tanpa meneruskan perjuangan mereka,,,terima kasih postingannya telah memberi semangat pada generasi muda saat ini (saya)

  5. Wiiii…tulisannya kereeeen. Hmmm..saya akui, saya paling gak tertarik dengan pelajaran sejarah karena banyak hafalannya. Beda 180 derajat dengan suami, yang oke banget kalau ngomongin sejarah *muji suami sendiri heheh*. Tapi walaupun demikian, I love my country, Indonesia kok🙂

  6. Mantap..mantap…sip sip mbak..semoga sukses dengan perhelatan ditempat trio…
    Wah ternyata semangat patriotisme warga vietnam perlu diacungi jempol yah mbak..jadi ingat film film yang ditonton tentang heroisme warga vietnam saat melawan US…hmm..jadi pembelajaran buat kita yah mbak🙂 nice story..

  7. saya selalu ngeluh kalau jalan-jalan bareng keluarga ke museum~😦
    tapi kalau udah masuk ke dalamnya, seakan-akan jadi merasa tertarik seketika! :Dya, seakan-akan jadi merasa tertarik seketika!😀

  8. Kisah sebuah perjalanan yang menarik hingga meluluhkan hati untuk senantiasa menyadari betapa pentingnya menghargai orang-orang yg telah berjasa.
    Salam!

  9. Kalau orang barat, justru “jalan-jalan” itu adalah melihat tempat2 bersejarah (seperti museum), bukan “jalan-jalan” ke tempat hiburan atau ke tempat wisata.😐

  10. Sepertinya semboyan “bangsa yg besar adalah bangsa yang menghargai sejarah” hanya semboyan saja ya… buktinya museum2 masih sepi… padahal bnyk sekali pelajaran yg bisa didapat dari sana yah…
    goodluck kontesnya Mama Hilsya… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s