Pesona Palangkaraya I

Dalam sejarah, Palangkaraya merupakan salah satu kandidat ibukota negara Republik Indonesia. Kesan pertama yang ditujukan pada kota ini adalah panas dan gersang,tetapi saya suka Palangkaraya. Kotanya bersih,  tertata rapi, dan agak sunyi. Jalanan lebar dan beraspal bagus. Banyak taman atau bundaran. Menurut pendapat saya, bagus deh.

  

 lagi ngebayangin.. kalo jalan di Jakarta seperti ini

Ini kali kedua saya kembali ke sini. Perjalanan diawali dengan delaynya pesawat yang membawa kami, untung hanya 30 menit. Usai menikmati landing yang rada-rada bikin loncat, kami bersegera menuju pusat kota. Biaya taksi dalam kota dari bandara seharga Rp 60 ribu untuk maksimal penumpang 3 orang. Saya pede meminta diantar ke hotel Grand Global di jalan Tjilik Riwut karena merasa sudah membuat reservasi dengan pihak hotel 10 hari lalu. Namun nyatanya, ketika sampai hotel tidak ada reservasi atas nama saya ataupun instansi. Whuaaa… mana bawa barang lumayan banyak lagi? Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang yang sangat terlambat terlebih dulu di warung terdekat di pinggir jalan Tjilik Riwut, menunya makanan jawa timuran. Lahap!

Berlanjut dengan usaha mencari hotel kembali. Dengan alasan strategis mencari oleh-oleh karena terletak dekat pasar, akhirnya hotel Lampang di Jl. A.Yani jadi pilihan. Dulu hotel ini menjadi  favorit setiap pergi ke sini. Ya sudahlah, toh esok kami akan pindah ke hotel yang lebih gres, yaitu Luwansa di Jl. G.Obos. Biarin aja, meski jalanannya sepi yang penting baru.. hehe. Paling strategis sih jika menginap di hotel Aquarius, namun kebetulan penuh.

Banyak yang unik yang kami temui disini. Misalnya tentang angkot yang hanya beroperasi sampai maghrib. Ada sampai jam 9 malam itupun hanya satu dua. Angkot disini kerap disebut taksi, kadang melayani jalur yang berbeda bisa direquest oleh penumpang untuk masuk ke dalam jalan selain jalan utama, dengan membayar 2x lipat. Ongkos angkot jauh dekat hanya Rp 3000. Penumpangnya kosong. Kadang serasa milik pribadi. Sedangkan yang disebut seperti taksi sendiri baru berjumlah 4 armada, mereka menyebutnya taksi argo.

Yang lucu sewaktu kami memutuskan pindahan dari hotel di Jl. A.Yani ke Jl. G. Obos. Seperti biasa, ibu-ibu langsung merasa sok kenal sok dekat langsung memutuskan untuk bertukar nomor hape dengan sopir angkot asli betawi guna memudahkan transportasi. Jadilah kami menyewa angkot butut (tolong dibaca : mercedes) untuk berputar-putar dari satu lokasi ke lokasi lain. Bolak-balik seperti setrikaan dari hotel ke tempat kerja lalu pindah hotel baru, kami sewa seharga 120 ribu untuk 4 orang. Sewaktu masuk area parkir hotel baru itupun langsung dicegat satpam, hehe..

Oh, iya kemarin saya juga sotoy menyebut-nyebut G.Obos menjadi Gunung Obos (konslet kayaknya) padahal aslinya itu nama orang. George Obos. Halaaah..

Banyak cerita menarik, tapi kali ini cukup disini dulu. Inetnya lemot.
Foto dan cerita lainnya menyusul.