Semarang : for sure

Setelah beberapa rahasia masa lalu terungkap sedikit demi sedikit, maka saya putuskan untuk menetapkan hati. Akhirnya saya menerima Semarang dengan lapang dada. Perjalanan kemarin membuat saya mau tak mau jatuh cinta pada kota ini.

Bukan. Bukan karena berjumpa dengan cinta pertama, kekasih masa remaja *halaah*. Tetapi karena saya disodori buku disela-sela memesan makan malam di restoran Semarang. Sebuah buku yang berjudul Kota Semarang dalam Kenangan, karya Bapak Jongkie Tio. Membaca sekilas saja, membuat saya merasakan sekali kejayaan kota ini di masa lalu. Harusnya buku ini saya khatamkan terlebih dulu supaya bisa menghasilkan artikel yang bagus ya? Bukan yang ecek-ecek model postingan kali ini. Tapi setidaknya inilah rekomendasi saya.

Meski didera panas yang amat sangat, hampir setara dengan Jakarta dan Surabaya. Air minum yang rasanya agak beda buat lidah saya *maklum biasa minum air minum yang langsung dari sumber mata air di Sukabumi*. Beberapa jenis makanan yang terasa asing di lidah orang Sunda *maaf atuh yah..kesalahan memang terletak pada lidah saya* Tapi lama kelamaan saya semakin bisa menghargai keindahan kota dibanding berperang dengan keterpurukan dan sakit hati. Saya bisa membedakan dunia nyata dengan dunia fantasi nostalgik. Artinya saya sudah dewasa.. horeee!

Berhubung sudah beberapa kali ke kota ini, maka perjalanan terlihat seperti dejavu. Oh.. sepertinya saya pernah lewat sini, pernah kesana, atau ini itu.  Tapi rute yang dilewati mungkin hanya sebatas bandara, hotel, kawasan simpang lima, tempat oleh-oleh.. hehe. Dari dulu setelah keluar dari bandara sebenarnya saya penasaran dengan museum Jawa Tengah “Ronggowarsito”. Ga pernah punya keinginan kuat untuk masuk ke dalamnya, hanya sebatas angan. Ada yang bisa bantu cerita? *males searching di google*

Paling seru ketika mendapati gedung Lawang Sewu yang ternyata sudah dipercantik. Tidak seperti tahun 2008 silam atau bahkan akhir April lalu saat saya menuju Karimun Jawa. Kabarnya beberapa waktu lalu juga dijadikan tempat penyelanggaraan pesta musik jazz di malam hari. Di hari kamis malam ada event uji nyali untuk memasuki gedung yang kondang dengan dunia lainnya. Untuk masuk ke dalam gedung, harus membayar jasa guide sebesar Rp 50.000. Jika tanpa guide, maka tidak diperbolehkan masuk. Tiket masuknya saya lupa, karena keburu keder duluan. Lagian ogah banget ah.. udah bayar mahal cuma numpang ngerasain merinding disko doang. Mendingan karaoke, hihi.

  

Di malam hari spot ini menjadi tempat favorit anak muda untuk nongkrong dan menyalurkan hobi fotografi

Dari buku di atas itulah saya mendapati banyak kenyataan, bahwa seperti lazimnya kota tua di Indonesia yang tidak dirawat dengan baik oleh pemerintah, nasib bangunan masa lalu juga seperti menjadi terlunta-lunta. Salah satunya adalah sebuah stadion olahraga yang diperkirakan akan tahan selama 100 tahun ternyata berakhir menjadi sebuah pusat perbelanjaan ngetop di kawasan Simpang Lima. Belum lagi kawasan kota lama yang kebanyakan dihuni etnis tionghoa dan berada di dekat pantai yang rawan banjir rob semenjak dahulu kala. Seperti saat saya memutari kawasan gereja Blenduk, bangunan-bangunan lama di sekitarnya seperti gedung asuransi, bank mandiri, (btw : ada RM ayam bakar Cianjur yang nyempil disitu) dan volder Tawang.

Area volder, folder, atau polder? (embuhlah..) di depan stasiun Tawang merupakan salah satu spot cantik untuk keperluan fotografi. Berfungsi sebagai sistem untuk proteksi air limpahan dari luar kawasan dam agar dapat mengendalikan muka air di dalam kota lama. Namun sayangnya kebersihan area ini kurang dijaga. Terbukti dengan banyaknya sampah berserakan. Sementara banyak pula tunawisma yang tidur-tiduran di kawasan tersebut. Paling parah ketika saya mendapati seorang yang tidak waras sedang buang hajat di kolam penampung. Aduh horor banget!

Selain itu titik lokasi lain yang saya sambangi yaitu Mesjid Agung Jateng dan Klenteng Sam Po Kong, tapi untuk sementara foto-fotonya diskip dulu ya. Bukan jepretan perjalanan kemarin tetapi dua sesi di tahun 2008. Moga-moga saja kedua bangunan itu tidak berubah secara signifikan. Dalam buku Bapak Jongkie Tio, disebutkan bahwa Sam Po Kong yang sekarang sudah berubah sama sekali dari bentuk aslinya. Ketika punya kesempatan pergi kesana untuk numpang mejeng di hari terik agar serasa berada di negeri Cina, tiba-tiba saya punya feeling.. sepertinya ia berada di sekitar sini. Ternyata setelah ngobrol ngalor ngidul baru ketahuan bahwa dia tinggal berdekatan, di Sampangan. Hayoo.. curcol lagi! Sejarah mengenai Sam Po Kong bisa diakses disini. Terakhir kemarin rekan saya berkunjung, tiket masuknya Rp 20000.

Perjalanan menuju masjid Jateng tadinya hanya diniatkan untuk melakukan sholat, namun ternyata saya terkagum-kagum dengan arsitekturnya. Mesjid Agung Jateng merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Masjid dengan arsitektur indah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai tahun 2006. Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 m2 dan halaman seluas 7.500 m2. Masjid Agung Jawa Tengah terletak di jalan Gajah Raya, Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari. Untuk masuk ke area masjid tidak dipungut bayaran , hanya saja jika ingin naik ke menara untuk melihat view dari atas dikenakan biaya.

masjid dan payung elektrikGambar dan info lebih lengkap bisa diakses ke sini ya..

Jika ingin mengeksplorasi lebih lanjut silakan rajin-rajin berselancar di dunia maya. Tapi saya pastikan Semarang direkomendasikan untuk dikunjungi. Simpang Lima, Kota Lama, klenteng, mesjid, kuliner semuanya worth it!