Hang out

Tema yang diusung untuk hang out setelah selesai menguli kali ini adalah berburu tempat makan yang enak. Setelah makan apa saja yang ditemui sewaktu makan siang, tentunya kami harus mendapatkan makan malam yang lebih berselera. Lalu saya sibuk mencari rekomendasi dari orang-orang yang tinggal di Semarang dan membuat janji dengan salah satu anggota CS -Elvi- yang ternyata asli Jakarta.

Elvi mengajak saya untuk menikmati kuliner masa lalu di restoran Semarang yang terletak di depan hotel Ibis. Walaah.. kok saya ga tau ya kalo makanan disana enak dan lumayan terjangkau. Dan atmosfer masa lalunya terasa banget. Pilihan makanan kami antara lain nasi langgi, lontong balap, dan nasi timlo solo. Menu ringan yang paling berkesan adalah es rujak serut Puspa seharga Rp 5000. Tadinya sempat ragu-ragu untuk memesan, tapi nyatanya enak banget! Menu lainnya ludes dilahap. Kelaparan kayaknya…

  

Selesai menikmati makan malam,  saya diajak untuk menemui teman CS lain dari Singapura dan Rusia yang kebetulan singgah di Semarang, dan meeting point-nya ternyata tempat karaoke di dekat stasiun Poncol. Halaah..

Wah, kayaknya saya salah masuk nih. Secara, mereka ternyata anak-anak twenty something yang selera musiknya Linkin’ Park, Bruno Mars dan Lady Gaga. Sementara saya? Bengong sambil kedinginan dan keberisikan gara-gara volume mic-nya banter banget. Wah, saya terjebak. Tiba-tiba muncul sms dari senior saya yang mengingatkan besok harus kerja pagi-pagi. Kebetulan! Sms itulah yang mengantarkan saya untuk pamit dan pulang duluan karena takut kalo lewat jam 10 nanti berubah jadi labu *bergaya Cinderella*

Akhirnya saya pulang sendirian dengan menumpang becak. Menikmati tiap sudut suasana kota yang masih terbilang ramai dan terasa segar di waktu malam, tidak sepanas siang hari. Asli, baru kali ini melihat kota di malam hari.

Sore selanjutnya setelah pulang dari Demak kami melewati nasi goreng babat pak Karmin di kawasan kota lama tapi teman-teman menolak untuk singgah karena takut kolesterol. Akhirnya memutuskan untuk makan sate ayam di tempat lesehan sepanjang jalan Gajah Mada. Satu porsi dengan lontong dihargai Rp 13000, tapi jika sate telur atau jeroan jatuhnya lebih mahal. Saya? Ga makan. Soalnya ga suka bumbu sate yang full kacang.

Saya memutuskan untuk bertemu anak-anak CS lagi di Pusat Kebudayaan Belanda di Widyamitra, Jalan Singosari untuk melihat pemutaran film. Saya geli sendiri, karena biasanya saya ga suka nonton film. Tapi daripada suntuk seharian kerja panas-panasan dan rada-rada harus mendengarkan ocehan senior yang ga berhenti, malamnya harus sedikit having fun-lah. Untuk makan malam, kami singgah di warung Adi’s yang menyediakan masakan western dan chinese dengan harga lumayan murah. Letaknya berdekatan juga.

Keesokannya kami berburu kuliner masa lalu lagi. Kali ini pilihannya restoran Pesta Keboen di jalan Veteran. Atmosfernya juga sangat bagus. Interiornya, selain dipenuhi foto jaman baheula juga dihiasi dengan pajangan replika sepeda dan vespa. Suasana saat kami datang lebih ramai dari restoran Semarang dan dipenuhi pengunjung asing. Di depan kasir juga banyak menjual jajanan masa kecil. Sambil menunggu orderan, biasanya pengunjung disuguhi welcome drink berupa beras kencur dingin dan keripik singkong. Harganya? Lumayan euy..

  

Sebenarnya banyak sekali nuansa masa lalu di kota ini, terutama untuk di daerah Pecinan. Ada toko Oen di Jalan Pemuda atau banyak toko pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Di hari jum’at malam saya juga menyempatkan diri untuk melewati warung Semawis (Semarang untuk pariwisata) yang buka sejak juli 2005 pada hari jum’at – minggu di daerah Pecinan. Saya berputar-putar di jalan Beteng dan Wotgandul. Banyak warung jajanan yang digelar dan kebanyakan pengunjung adalah etnis tionghoa. Tapi karena keburu capek, akhirnya kami malah putar balik cari makanan seketemunya aja di dekat hotel *balik lagi ke habitat lama*

Sebelumnya kami juga mengunjungi area dug der 2011 di daerah Pasar Johar. Event ini diselenggarakan guna menyambut datangnya bulan puasa selama sepuluh hari yaitu tanggal 21-31 juli 2011. Semacam pasar malam yang dipenuhi arena permainan rakyat dan  kios pedagang baju, sepatu, ataupun makanan. Sementara di sisi jalan lainnya dipenuhi oleh para penjual gerabah. Saya hanya sekedar berlalu dan  melewati saja tanpa tahu harus melakukan apa. *apakah daku terjebak lagi?*

Tapi lumayanlah, seminggu ini jadwal hang outnya cukup banyak. Meski capek tapi setidaknya saya tidak harus ngendon dalam hotel yang bersuhu dingin seharian.

Makasih buat temen-temen yang udah nemenin🙂

38 thoughts on “Hang out

  1. mbak. ada tempat makan enak di deket simpanglima, rame bangeeet.
    tapi aku lupa namanya apa.
    warung pinggir jalan itu. yang kalau parkir jalannya ampek 30meteran, yah lumayanlaah.
    tapi enak loh makanannya🙂

  2. nasi langgi, lontong balap, dan nasi timlo solo

    (aaarrrggghhhh sore-sore begini …)
    (membuat histeris saja …)
    🙂

    Salam saya Mama Hilsya

  3. Mak janggggggg…nggak ku ku nahan ngiler lihat photo kulinernya…lagi lagi ngiri ngiri ..hehehehe…walah bun…..enaknya yah…ingat ati ati kolesterol…:) walah langsing kayak bunda hilsya dont worry lah yah….makan sebanyak apa pun kayaknya langsing aja tuh..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s