Jalan-jalan Jepara

Ini adalah kali kedua singgah di Jepara. Dahulu tahun 2008, saya menuju Jepara via Kudus. Kemarin bablas langsung dari Demak atas rekomendasi tukang parkir di masjid agung Demak dan ternyata ditempuh lebih cepat. Mungkin sekitar 27-an km *kalo salah tolong dikoreksi*. Hehe.. baru ngeh dari peta.

Sebenarnya tugas utama kami berada di daerah Demak. Setelah menyelesaikan observasi lapangan dan tetek bengeknya, kami bersegera makan siang. RM Rahayu di dekat masjid agung menjadi pilihan untuk menikmati menu spesial kota Demak, antara lain asem-asem, garang asem, bothok telur asin, atau nasi terik. Ada pula warung-warung swikee, namun karena yang terpatri di otak itu jika swikee identik dengan kodok, maka pilihan ini diabaikan. Padahal swikee bisa berbahan daging lainnya, seperti ayam. Agak sulit menemukan restoran di area kota, mungkin karena kami juga tidak mengerti medan. Sepanjang jalan menuju Kudus banyak warung makan yang disinggahi truk ataupun mobil-mobil, enak dan lumayan terjangkau.

Mendekati kota Jepara, kami melewati kawasan tenun Troso. Tapi berhubung para bapak tidak menunjukkan minat, maka hasrat para ibu untuk berbelanja kain tenun diabaikan. Kami memilih menuju Jepara saja, tanpa tahu hendak kemana.

Sebelumnya jam 2 siang di depan mesjid Demak, saya memutuskan untuk meng-sms jeng Susindra, mengabarkan bahwa kami akan jalan-jalan ke Jepara. Dalam perjalanan, saya baru sadar jika perjalanan dahulu hanya sampai Tahunan, belum ke pusat kota. Ga salah.. wong waktu itu udah keburu magrib, dan kota sudah lumayan sepi.

Tadinya jeng Susi meminta langsung bertemu di alun-alun kota. Sempat berputar-putar pula karena tidak mengerti arah. Akhirnya kami memilih ke pantai Kartini terlebih dulu, untuk melihat apakah ada kapal yang akan membawa kami ke Karimun *ngarang*.

  

Suasana pantai cukup sepi, mungkin karena bukan waktu liburan. Sayangnya saat mencoba mengabadikan momen pantai, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Maka kami segera kalang kabut berlari kembali masuk ke dalam mobil, dan memutuskan untuk tetap bertemu di alun-alun saja.

Tak lama dari memarkirkan kendaraan, saya bisa mengindentifikasikan sosok jeng Susi yang datang dengan formasi lengkap. Sedikit kagok karena sama-sama pendiam *halaah..*, akhirnya kami memilih masuk ke museum Kartini saja dengan membayar karcis Rp 2000 per orang.

Di dalam museum, saya menderita penyakit horor karena tiba-tiba diserang penyakit berdiri bulu kuduk sepanjang ruangan, dimulai dari pintu masuk. Tidak mengherankan, karena sepanjang ruangan dipenuhi berbagai gambar-gambar dalam ukuran besar. Namun saya bergaya sok cuek, dengan tetap menjeprat-jepret koleksi peninggalan ibu Kartini. Padahal bawaannya udah pengen kabur aja.. hiyyaa…

  

Setelah berkeliling museum, jeng Susi mengajak kami mengunjungi sentra ukir dan patung khas Jepara, di Tepus. Disini ia menjelaskan banyak hal tentang ukiran dan kayu kepada kami. Kios-kios di sana berfungsi sebagai display produk. Kabarnya di Tepus inilah sentra kerajinan kayu jati dan melingkupi pangsa pasar yang luas sejak dahulu kala. Harga yang ditawarkan pun masuk dalam kategori tidak terlalu mahal *yang buat saya tetep aja terasa mahal, selain ga cocok jika dimasukkan ke dalam rumah biasa-biasa saya*

  

Menjelang sore, kami ‘dihasut’ untuk menikmati sunset di pantai favorit jeng Susi. Lantas saya baru sadar juga jika ia punya wishlist untuk naik mobil Strada merah nan kekar itu, akhirnyaa.. kesampean juga ya? hihi.. Cukup jarak pendek aja ya, kalo jarak jauh.. dijamin pegel 🙂 Ruang buat kaki panjang di bangku belakang kurang memuaskan.

  

Pantai tak berbayar yang belum dinamai ini rupanya cukup cantik dan sederhana. Tidak berombak, tenang, dan cukup dangkal. Kami bisa memandang pantai Kartini dari sini. Namun sedikit harus diwaspadai, jika pantai ini menjadi tempat untuk reparasi kapal nelayan hati-hati dengan limbah yang dihasilkan. Tapi overall, berdiri sesaat di tepi pantai terasa sangat menenangkan.

Sayangnya, hari segera menjelang magrib. Kamipun harus berpisah. Kasihan pada Binbin yang masih setengah hati karena harus dibangunkan untuk bertemu kami. Sementara Destin tetap malu-malu bertegur sapa pada tantenya *keukeuh ga pengen dipanggil bude*, meski terdengar cerewet sekali jika berbincang dengan mamanya.  Termasuk obrolan lucu tentang punya dua mama, haha..

Rekomendasi tentang jajanan Jepara terpaksa dilewatkan, karena kami harus harus kembali ke Semarang. Kami harus menyiapkan energi karena pekerjaan belum dimulai. Tapi sungguh menyenangkan, bisa bertemu seseorang yang baru dan mau menemui kami untuk berbagi cerita.

To Jeng Susi, makasih udah nemenin ya.. salam sayang buat D&B