Cukup sudah..

(gambar diambil dari http://www.thewestpress.com) ga nyambung? biarin aja ya, daripada video klip glen fredly? hehehe 😀

Hm.. ketika semua orang turut serta meramaikan perhelatan pakde *karena baru sadar banyak judul wisata kuliner bertebaran dimana-mana*, saya malah berkutat dengan problema asisten rumah tangga. Jadilah postingan ini berupa curhatan ibu-ibu yang belajar ilmu kebatinan selama sebulan.

Prolognya ga usah ditulis ya? Namanya orang kerja lalu kenapa begini, kenapa begitu, resiko, dan hal-hal lainnya tidak akan diperpanjanglebarkan *ga jelas ini kosa kata yang benar apa bukan?*

Ceritanyaa…

Sebulan lalu si teteh sakit-sakitan dan ga masuk hampir dua minggu. Setelah itu hapenya sama sekali ga bisa dihubungi. Paniklah diriku ini. Waktu itu si kaka pas lagi ulangan kenaikan kelas.

Akhirnya kami mencari orang yang bisa menggantikan tupoksi si teteh di desa seberang *in case jika si teteh udah bosen kerja di rumah lalu resign.. hehe gaya*. Ngobrol basa-basi sama bibi yang kerja di tetangga, sambil cari orang baru. Moga-moga aja ada.

Satu dua hari berlalu, tiba-tiba keesokan harinya si bibi bawa tetangganya ke rumah. Katanya sang tetangga berminat untuk kerja. Si tetangga ini adalah perempuan sudah cukup berumur dan mempunyai cucu. Setelah dipikir-pikir, untuk menemani anak-anak di saat beban pekerjaan masih tinggi, bolehlah dicoba dulu. Pembayaran pun segera deal *jual mobil kalii*. Si bibi langsung bekerja di hari itu.

Setelah memberi instruksi kerja, saya perhatikan ternyata orangnya jarang bicara dan kurang bisa bersosialisasi dengan anak-anak. Sementara di sisi lain, saya masih bisa memaklumi cara kerjanya. Namanya juga orang tua. Pokoknya yang penting cuma buat nemenin anak-anak sepulang sekolah aja deh.

Tapi tiba-tiba saya menemukan keajaiban yang sebelumnya jarang terjadi.

  • Ternyata dia pulang saat saya belum pulang dari kantor. Padahal sebelumnya saya minta untuk menunggu, atau minimal jam 4 sore. Intinya pengen buru-buru pulang aja!
  • Jam masuk kerja 7.30 (masih ok buat saya) lama-lama beranjak jadi jam 8, hehe…. Alasannya kalo jalan kaki jauh. Padahal gaji sudah termasuk ongkos.
  • Bersikap cukup ‘kreatif’ dalam mengamankan makanan yang belum habis. Artinya tanpa disuruh langsung dibawa pulang tanpa bilang. Ini terjadi di awal-awal. Ga tau kalo sekarang sih, sepertinya dia ga pernah bawa sisa makanan. Tapi mana tau juga ya, soalnya dia sudah pulang sebelum saya pulang.
  • Tidak bersikap koperatif  dalam urusan anak dan tidak terlihat usaha untuk melakukan pendekatan. Anak-anak didiamkan saja, jarang mengobrol. Si kecil sampai menolak dibuatkan atau ditawari ini itu. Mungkin juga karena dipikirnya anak-anak sudah cukup besar (10 dan 6 tahun).
  • Saya mendapat laporan dari si kaka, “Ma, kalo siang bibi suka tidur di kamar mama.. di tempat tidur dede”. Whaaat?
  • Tiba-tiba kamar mandi pribadi saya yang di dalam kamar mendadak jadi bau pesing seperti di terminal bis atau stasiun kereta. Padahal di situ ada kloset duduk. Bahkan paling parah, suatu hari kamar mandi saya bau jengkol. Aaargh..  saking marahnya saya ngambek ga jelas dan jadilah si ayah yang nyikat kamar mandi.
  • Baru seminggu kerja, udah berani pinjam uang *kaget*. Sejujurnya ga tega sih karena saya tau mereka kekurangan.
  • Berani meminta ini itu. Memang barang itu sudah tidak terpakai, tapi ga sreg aja rasanya orang yang baru sebentar bersama kita sudah berlaku seperti itu. Walaupun akhirnya barang itu saya berikan juga. Misalnya, ketika suatu hari dia bilang mau minta baju bayi untuk cucunya. Lha saya kan bingung? Lupa. Wong si kecil aja udah 6 tahun. Tapi tiba-tiba dia datang kembali sambil membawa bungkusan baju bekas bayi yang memang sudah saya packing untuk diberikan pada yang membutuhkan. Reaksi saya? Akhirnya bilang, silakan *masa bilang ga punya?*.
  • Saya dapat bocoran dari tetangganya, bahwa sehabis lebaran ia akan berhenti bekerja. Ya ampuun, sebenarnya niat kerja ga sih?
  • Saya yang biasa percaya sama teteh-teteh yang sebelumnya bekerja, mendadak seperti ada sesuatu yang menghalangi untuk bersikap seperti itu pada orang ini.

Begitulah…  daripada nanti ilmu kebatinan saya melebihi Ki Joko Bodo. Akhirnya dengan berat hati, kontrak kerja dengan si bibi tidak diperpanjang lagi.

Cukup sudah! Saya mau lanjut ilmu kanuragan yang lain aja ah. Permisi…