Tiket dan uang

    

Idealnya blog yang bagus itu hanya mewakili satu tema mungkin ya? Misalnya tentang kuliner, perjalanan, bidang pekerjaan, tumbuh kembang anak, resensi buku/film/lagu/sinetron (whatever deh).. tapi ya hanya satu itu aja. Jadi sifatnya spesifik dan fokus. Tadinya sih ingin membuat postingan semacam itu, tapi kenapa sekarang isinya malah jadi gado-gado ya?

Kenapa kebanyakan tentang curhat ga penting dan ga jelas gini? *siigh*

Lama saya pikirkan.. apa untungnya berkeluh kesah di dunia maya? Sempat sih baca beberapa postingan di blog-blog -yang sudah saya lupakan alamatnya- yang menurut saya ga pantas dikemukakan. Tapi balik lagi, apa hak saya buat menilai dalam skala pantas atau tidak? Ga ada. Itu sudah mencakup privasi seseorang. Mau jungkir balik, loncat-loncat juga terserah yang punya gawean kan? Paling aman, kalo suka silakan lanjutkan, kalo ga suka ya tinggalkan. Beres.

Ya begitulah. Karena saya penganut apapun yang saya tulis di tempat saya adalah hak saya. Sepanjang tidak mengganggu atau menyebut nama orang lain dengan jelas. Maka sesi curhat ga penting ini saya lanjutkan. Haha.. dasar emak-emak anggota klub galau!

Namanya juga kehidupan *mulai berfilosofis*. Pasti punya dinamika rasa supaya tetap hidup. Tinggal bagaimana menikmatinya bukan?

Darimana mulainya ya? Seliweran begitu banyak…

Dulu saya pernah cerita kalau saya ikutan bisnis semacam punya link menuju airlines. Saya bergabung dengan alasan efisiensi, untuk memudahkan pesan tiket karena mobilitas saya lumayan -meski belum pernah dapat upgrade kartu GFF *cuciaaaan*-. Ga seperti bos-bos yang hari ini di Batam, lusa di Yogya, besok di Makassar. Setahun mungkin saya bisa pergi ke lima kota, belum ditambah pulang kampung. Ya hanya efisiensi aja. Kalo menghitung profit mah.. beuh, kapan tau atuh?

Nah.. semenjak di kantor memilih pesan ke agen travel, rejeki saya -yang berada di angka 2-5ribuan per tiket itu- masih mengalir dari teman-teman lainnya. Ada lah barang satu dua. Tapi saya mengamati fenomena yang lucu.

Tentang seorang customer yang hobi banget bepergian. Kadang saya bingung, padahal kondisinya tidak fit 100%. Saya sering mendapati sms-nya meminta saya mencarikan tiket ke sana-sini tanggal sekian. Ada yang deal, ada juga sebatas penawaran. Ah, nevermind.. Ga mentang-mentang saya sudah ngabisin waktu dan pulsa untuk memberi reply lalu yang bersangkutan harus jadi beli. Namanya juga pelayanan.

Tapi kadang saya juga geleng-geleng kepala ngadepin customer. Misalnya saja dengan tiba-tiba dia meminta untuk pembatalan pergi, padahal tiket sudah diisued. Inilah ribetnya, umumnya jika kita akan membatalkan penerbangan kan biasanya diurus agen dalam waktu yang lama. Si agen saya ini, memang sudah bikin statemen dari awal teken kontrak bahwa kita setuju dia tidak mau mengurus pembatalan apapun alasannya. Jadi pemesan harus terima konsekuensinya. Kalo batal ya tiket hangus. Tapi saya sih ga sesadis itu. Biasanya saya usaha langsung ke kantor airlines di bandara atau menghubungi call center. Karena waktu itu saya sedang tidak di Jakarta, maka saya minta dia untuk langsung menghubungi call center. Dia terbelalak, mengetahui saat pembayaran tiket yang 1,6 juta itu hanya akan dikembalikan 450ribu saja bila dibatalkan. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi..

So you got the point?  Kalo ogah-ogahan pergi ya jangan pesen tiket.. apalagi musim liburan seperti sekarang.

Ada juga yang ngutang tiket. Ini sih kombinasi antara saya aja yang terlalu percaya orang, tidak pintar (mau bilang tolol, ga tega sendiri), dan tidak bussiness minded. Dipikir-pikir mana ada, travel yang ngutangin beli tiket dan baru dibayar setelah ditagih terlebih dahulu. Yang sekarang ini kali kedua, dengan alasan keuangannya sedang seret. Tapi sampai sekarang saya masih bersikap gapapa. Memaklumi. Memang belum dibayar juga, dan tidak ada berita dari yang bersangkutan. Wadoooh… Btw, temen-temen kalo pesan tiket ke saya jangan sambil ngutang lho ya? Kasihanilah daku, hiiiks..

Tetapi masalah saya tidak berhenti sampai situ saja. Sedang enak-enaknya tidur *subuuh.. subuuh*, tiba-tiba saya dikejutkan dengan telpon dari seberang pulau. Dia mengabarkan bahwa saya salah mengissued tanggal penerbangan. Tanggal keberangkatan dan kepulangan menjadi sama dan sebangun. Oh.. tidaak! Ya begitulah, akibat permintaannya yang bolak-balik minta dicek semua penerbangan dan dicarikan yang paling murah, akhirnya saya yang ceroboh. Saya ga sadar hari dan tanggal. Semua salah saya.

Minta diganti dong? Jelas. Saya merasa bersalah karena telah membuat calon penumpang gagal berangkat. Akhirnya pagi hari itu saya harus merelakan uang sebesar 3x lipat dari harga semula untuk 2 orang, mana penerbangan harus hari itu, jauh, dan jarang pula. *Hm.. rejekiku*

Penggantian memang harus dilakukan. Saya ikhlas. Merasa biasa saja. Itu sejumlah uang yang cukup banyak buat saya. Melebihi satu bulan gaji. Saya harus meminjam uang itu dan akhirnya jadi punya tambahan cicilan. Tapi entahlah, saya seperti kehilangan sesuatu yang biasa saja. Bukan perkara nominal, tetapi tiba-tiba merasa tersadarkan.

Allah tidak akan memberikan ujian saat kita tidak mampu menghadapinya. Saya belajar banyak dari kecerobohan saya. Lagipun Ia sedang membersihkan harta saya, karena selama ini pastinya saya lalai untuk berdisiplin memberikan sebagian kecil dari yang saya miliki. Dan saya percaya bahwa Ia sedang dan akan memberikan ganti rejeki yang lebih baik. Halalan thoyyiban. Amin!

Ayo.. bersemangat mencari rejeki!