Malang Part 6 : Makan-makan

Janji deh.. ini postingan terakhir untuk yang di Malang. Kalo bersambung terus, bisa-bisa nyaingin sinetron Cinta Fitri 😀

Sebenarnya semua teman saya memilih untuk wisata kuliner saja. Tapi ya begitulah, kami tidak mendapatkan ide cemerlang untuk mencicipi kuliner khas kota Malang. Mungkin karena yang ditawarkan sudah ngetop sampai di ibukota. Jadi auranya biasa-biasa saja, kurang menimbulkan tantangan untuk mencoba.

Hal pertama yang dipromosikan oleh semua teman kami tentu saja bakwan Malang, dengan berbagai brand. Ada Cak Man, President, duh apalagi ya.. kok jadi lupa sih? Tapi yang jelas semua bakwan Malang di kota Malang (katanya) rasanya enak. Yo embuh.. karena saya ga suka jenis  bakso-baksoan gitu, jadi pendapat saya pasti tidak obyektif dan tidak dapat dipercaya.

Berhubung katanya belum ke Malang kalau belum pernah ke bakso President yang letaknya di pinggir rel, maka kami diantarkan ke sana untuk makan malam. Disebut bakso President karena letaknya berada di belakang bioskop President. Di warung sederhana ini terpampang berbagai foto artis maupun orang terkenal yang datang berkunjung. Banyak banget. Teman saya yang maniak bakwan Malang sampai memesan porsi jumbo.  Sementara isi mangkok saya cuma dua buah pentol (bakso kecil) dan 2 potong paru saja *niat makan ga sih?*.

 

note : saya jadi tukang fotonya 🙂

Porsi di bakso President bisa dipilih sepuas hati. Tentang harga relatif tidak mahal. Kami makan berlima sekaligus dengan minuman dan parkir seharga Rp 50 ribu. Hanya saja kurang memuaskan. Kuahnya kurang panas, jadi ga bikin seger. Mungkin karena udah maghrib kali ya? Lontongnya pun udah habis. Jadi makan malam saya ya cuma itu *kruyuuk..kruyuuk*.

Hari ke dua, saya pun kembali mengikuti selera teman yang mendadak ngidam cwie mie. Halaah.. perasaan di Jakarta banyak deh. Ternyata yang ngetop itu Cwie Mie Malang yang konon pusatnya malah di Batu. Ya kelewatan dong? Akhirnya kami ngangkot ke jalan Kawi. Katanya di sana banyak restoran enak. Sepanjang jalan Kawi ini kebanyakan pengunjung restoran adalah keturunan Cina. Karena ga tau mau berhenti dimana, sang sopir angkot menurunkan kami di warung Bakso Kaget dengan label halal. Pilihan utamanya bakso dengan isi tak terduga, sehingga bisa mengagetkan pengunjung. Waduuh.. bakso deui? Tapi lucu deh promosinya, kreatif. Websitenya juga ada di sini.

Sementara saat lainnya heboh memilih menu cwie mie yang ternyata terasa enak. Saya malah terlunta-lunta mencari menu nasi. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada warung sate Kediri yang terletak beberapa blok. Seporsi isi 10 tusuk seharga Rp 15 ribu. Lho kok larang yo? Cuilik men.. Sate itu turut saya bawa dan dimakan di warung bakso sambil memesan bakso biasa. Ternyata rasanya kurang familiar,  kuahnya malah berasa seperti kuah sop ala padang *kecewa*.

Sementara itu keesokan harinya setelah berpanas-panas dari Balekambang dan kelaparan karena hanya makan siang nasi pecel puedes dan mie goreng kematengan, kami menuju restoran Oen yang cukup dekat lokasinya dari hotel. Harap-harap cemas semoga aja makanannya enak.

Setelah duduk manis di restoran yang bernuansa jaman dahulu kala. Kami mulai membuka menu. Namun ternyata di sana tertera menu non halal. Semula saya sempat mempertanyakan bagaimana cara memasaknya. Sang pelayan bilang, mereka memasak secara terpisah. Karena meragu, akhirnya kami hanya memesan kue-kue basah, sup kepiting asparagus dan es krim banana split andalan toko  Oen.

  

Memang beda ya kalo restoran terkenal yang sudah dibuka sejak tahun 1930. Kebanyakan menu yang ditawarkan adalah menu western dengan bahasa kedua bahasa Belanda. Harganya lumayan juga. Ga sampe beli makanan berat, tapi merogoh kocek hampir Rp 100 ribu. Mungkin nuansa masa lalunya yang turut menjual. Yang jelas tipikal es krimnya home made seperti Ragussa di Jakarta atau Zangrandi di Surabaya.

Sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berburu oleh-oleh khas Malang. Jadilah kami didrop di kawasan Sanan untuk memindahkan isi toko ke dalam kardus-kardus. Waduh.. meni angkaribung! Keripik tempe Sanan berbagai rasa dihargai Rp 6000 sebungkus. Ada pula berbagai jenis keripik buah kering yang harganya relatif lebih mahal. Keripik apel, semangka, lengkeng, kentang, salak, nangka, duren, pisang, telo ungu, ubi manis, singkong, bayam, dan lain-lain semuanya tersebar dimana-mana. Dipilih.. dipilih!

Keesokan harinya dalam perjalanan menuju wisata tiga pantai, saya diajak untuk berburu cemilan di supermarket Lai-lai. Seru rasanya melihat berbagai jenis makanan siap saji di sana. Kebanyakan pengunjung juga keturunan Cina. Saya sempat bingung, jangan-jangan saya salah masuk nih. Tapi hoho.. senangnya ketemu minuman favorit. Ada cha yen (thai tea) dan miruku ti (japanese green tea with milk), lainnya sih cemilan biasa. Sempat terpedaya oleh  penampakan kwee chang. Dikira bacang isi daging, ternyata terbuat dari beras ketan dan ga ada isinya. Aargh…

  

Malam harinya kami beruntung, karena saya bertemu dengan teman satu kantor yang kebetulan sedang berlibur di Batu dan janjian untuk makan malam bersama. Akhirnya saya bertemu nasi dengan berbagai macam pilihan lauk di restoran Ayam Prambanan. Gratis pula 🙂

Menurut saya harga makanan di warung-warung pinggir jalan relatif murah, berkisar Rp 5000-an untuk berbagai jenis pilihan. Ada nasi pecel, nasi soto, nasi rawon, nasi lalap, dan lain-lain. Lebih murah lagi jika makan di warung-warung dekat kampus. Ada juga tempat soto ayam yang katanya paling enak yaitu Soto Lombok, tapi ga sempat mencicipi. Lalu warung lalapan, berupa nasi dengan pilihan lauknya ayam, bebek, ikan, jeroan goreng dengan lalap timun dan daun kemangi. Demikian juga warung tahu telor atau pecel yang tersebar dimana-mana. Sayangnya berhubung saya ga terlalu suka makan, jadi saya kurang lihai dalam memilih tempat makan yang enak.

Ada rekomendasi lain?