Malang Part 5 : Tiga pantai selatan

Ini memang lanjutan cerita postingan sebelumnya..

Entah mengapa beberapa waktu ini tiba-tiba saya sangat antusias dengan segala hal yang berbau pantai. Padahal saya tidak bisa berenang apalagi snorkling atau diving. Tidak juga ingin bermalam untuk menikmati suasana kemping di tepi pantai. Hanya sekedar duduk santai sebentar di atas pasir, apapun warnanya asal bersih. Ga perlu lama-lama *takut tambah gosong soalnya*. Menikmati warna air laut yang bergradasi dari biru-hijau tosca-hijau. Atau sekedar memandangi gulungan ombak yang berlarian menuju bibir pantai. Damai sekali melihatnya.

Karena itulah saya bersemangat menerima ajakan teman CS saya untuk mengeksplorasi pantai di Malang selatan. Jujur saya ga nyangka jika perempuan pendiam ini sedikit nekat dalam berpetualang. Maka extend hari pertama, setelah ia terkena jaga shift malam sampai pagi dimana pasien ICU cukup banyak dan tidak sempat tidur, ia mengantar saya bepergian. Sempat ga enak juga, karena saya tau ia lelah. Tapi ia bersikeras, tidur bisa dimana saja katanya.

Jadilah kami berdua berangkat dari rumah jam 9.30 untuk mencari bekal cemilan di supermarket Lai-lai. Lanjut ke terminal Gadang dengan naik angkot dengan membayar Rp 2500 per orang. Tiba di Gadang, kami langsung dikerubungi calo-calo terminal. Lalu kami naik bus 3/4 jurusan Gadang – Dampit dengan membayar Rp 5000 per orang dan turun di pasar Turen jam 11. Sampai Turen, masih tetap jadi incaran para tukang ojek. Dengan negosiasi akhirnya kami bersedia membayar sebesar Rp 85 ribu PP untuk naik ojek sepanjang kurang lebih 62 km menuju pantai Bajul mati dan Goa cino. Yakin ga yakin, bisa ga ya? Tapi sudahlah. Hahay… lumayan. Pengalaman baru.

Saya naik ojek dengan pengendara yang cukup nekat karena tidak mau pake helm dan tidak memakai jaket. Waduh, biasanya saya naik motor itu lengkap dengan jaket, helm, masker, dan kacamata. Tampangnya rada menyeramkan. Tapi saya percaya dia baik. Untuk menghindari rasa khawatir berlebihan, saya mengajaknya bercakap-cakap sepanjang perjalanan.

Kami melewati Druju, sebuah kawasan sentra Gamping pada saat dzuhur. Lalu lanjut ke dusun Sitiarjo yang punya pemandangan bagus. Setelah itu kami melewati jalan berkelok-kelok di kecamatan Sumber manjing wetan yang luasnya minta ampun. Saya hampir tidak menemukan angkot sepanjang perjalanan. Yang ada hanya motor dan kendaraan pribadi atau carter. Kecepatan motor kami lumayan santai, tidak terlalu ngebut. Lalu akhirnya tiba di pantai Bajul mati jam 13, kami segera sholat di mushola lalu istirahat sejenak setelah duduk manis di atas motor selama 2 jam.

Dengan sekali pandang, saya lihat bahwa pantai Bajul (beberapa menyebutnya Bajol) mati ternyata lebih bagus dari Balekambang. Mungkin karena pengunjungnya lebih sedikit. Dan tak lupa, ombak hari ini pun besar. Lebih besar dari hari sebelumnya di pantai selatan. Saya sedikit bingung..kenapa disebut bajul mati? Batu karang yang mana ya yang merepresentasikan bentuk bajul? Halaaah.. mulai berkhayal.

  

Pasir pantai di Bajul mati berwarna hitam.  Di area wisata, terdapat berbagai fasilitas sederhana. Mushola, toilet, warung jajanan dan tempat parkir yang dikelola warga. Menurut teman saya, tahun lalu pantai ini masih relatif sepi. Kami membayar retribusi sebesar Rp 15 ribu untuk 2 ojek dan 4 pengunjung. Seperti biasa, pengunjung yang tak tertib seenaknya saja membuang sampah sembarangan. Uh.. gemes!

Setelah puas foto-foto sampai menguasai tembok batu bolong tempat abg berpacaran, akhirnya kami bersegera ke tempat kedua. Teman saya dan tukang ojeknya kaget. “Hah.. udahan?” Hehe.. bukan apa-apa, jarak tempuh ke sini sangat jauh. Kami bertekad pulang ke Malang sebelum maghrib. Lagian kasihan juga kalau si tukang ojeknya kelamaan mengantar kami berdua. Tambah-tambah nanti bingung bayarnya *sambil ngintip isi dompet*. Kan saya yang bayarin perjalanan ini berdua. Dia ga minta dibayarin sih tapi saya ga enak aja. Karena udah bikin teman saya ini ga bisa istirahat di rumah ditambah nebeng gratis di rumahnya untuk numpang tidur. Padahal kami baru bertemu pertama kali dan sebelumnya hanya berkomunikasi via hape.

Pantai Goa (guwo) cino terletak di sebelah kiri sebelum Bajul mati. Jika jalanan menuju pantai Bajul mati beraspal bagus, maka akses menuju pantai Goa cino lumayan bikin sport jantung. Jalanan sepanjang 600 m itu masih berupa makadam, jalanan bebatuan. Deg-degan juga naik motornya karena saya khawatir jatuh. Namun ketakutan itu dibayar dengan keindahan terselubung di dalamnya. Yihaaa….

  

  

Setelah melihat view Goa cino, saya langsung pindah ke lain hati. Pasir di sini relatif putih.  Ombaknya tidak terlalu besar, karena terhalang batu karang. Disebut goa cino karena ada lubang gua yang terletak di sebelah kanan pantai di batu besar itu. Kabarnya sih dipakai sebagai tempat bertapa atau persembahan, tapi kurang tau juga ya. Saya ga sempat menggali informasi sana-sini. Saya keburu asyik mencari kerang dan batu-batuan cantik yang terserak di pinggir pantai. Tapi keasyikan itu sedikit terganggu dengan banyaknya anjing yang berkeliaran. Bikin serem aja tuh. Di pantai ini ada beberapa orang yang berjualan dan tempat parkir motor, tapi  saat itu kami tidak dimintai uang parkir.

Setelah puas di sini, kami merayu mas-mas tukang ojek untuk pulang lewat pantai Sendang biru. Harusnya belok kiri tapi kami ke kanan, jadi perjalanan pulangnya sedikit memutar. Kadung penasaran, tinggal selangkah lagi. Sendang biru memang relatif lebih dekat dibanding dua pantai yang tadi. Ditambah sangat ngetop, karena banyak pengunjung yang menyebrang ke pulau Sempu untuk trekking menuju Segara Anakan. Di pintu masuk, ada tiket restribusi seharga Rp 5500, tapi kami tidak dipungut bayaran dan langsung melaju ke pinggir pantai. Dan.. inilah pantai yang terkenal itu!

  

Hm.. puas rasanya berhasil menjejakkan kaki di Sendang biru meski hanya sesaat. Saat itu suasana pantai lumayan ramai. Banyak perahu nelayan yang disewa penumpang untuk melintas ke pulau Sempu. Ngobrol-ngobrol biaya sewanya 100 ribu PP, tapi ga jelas tuh  satu orang apa satu perahu. Saya ga terlalu detil, malah sibuk jeprat-jepret sana-sini. Hm.. tadinya saya bayangkan jika pulau itu letaknya lumayan jauh. Ga taunya cuma di seberang doang. Diniatin ah..suatu saat bisa trekking menerabas pepohonan di Sempu. Hanya saja sayang, pantainya lumayan kotor! Duh.. tolong dong kalo mau bersenang-senang, sampahnya jangan ditinggalan begitu aja. Please.. ya?

Note : mohon dimaklumi jika hasil bidikan saya ga bisa mewakili keindahan alam yang sesungguhnya. Saya ga jago ngambil foto, ga tau trik kamera, kameranya pun seadanya. Lagian saya juga gagal berjodoh ama tukang foto..*curcol*

Iklan

31 thoughts on “Malang Part 5 : Tiga pantai selatan

  1. Dari poto sih pantainya kelihatan indah banget terutama yang Guwo Citro. Saya kan anak pantai (hihihi ngaku2), jd seneng liat pantai. Jd kangen parangtritis deh 🙂

  2. Wahhhhhh makkkkkkkkk….begitu dibilang photonya nggak bagus..gimana yang bagusnya yakkkkkkkkkkk…walah mbak..cantik sekali pantai pantainya…saya juga pecinta dan penyuka pantai soalnya…wah mantap mantap jiwa petualangannya teruji ….:) bunda hilsya ini termasuk nekad yah orangnya…sip sip..

  3. Foto2nya baguuus Mbaaa… Tp difotonya gak keliatan sampah ya… *apa aku liat pake hp jd gak keliatan? Hehe*
    Bersih dan cantik bangeeet… Pasirnya putih pula… Gak nyesel deh cape2 pulang jaga diajak maen kamari.. Hehehe…

  4. Jadi tambah kangen Malang, disini dulu saya ngadain acara dengan temen-temen kuliah, nekat banget deh, nyupir sendiri dari Malang, padahal kita ber-enam, nggak ada yang tau persis dimana letaknya Balekambang…hihi, bener-bener nekad!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s