Malang Part 4 : Pantai Balekambang

Sesampainya di Malang, kami memutuskan untuk tidak melungker di bawah selimut. Harus eksplorasi. Oh, iya kami menginap di hotel penuh sejarah di kawasan alun-alun yaitu hotel Pelangi (dulu semasa perang dikenal sebagai hotel Palace). Sebuah hotel yang masih  kental dengan arsitektur Belanda dan berada di kawasan strategis. Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan tak tentu arah mengitari alun-alun baik berjalan kaki maupun naik angkot (len). Kesimpulannya ternyata tempat kami sangat dekat dengan mal-mal, gereja, mesjid, toko buku, restoran, kantor pemerintahan, pasar, dan sekolah.

Pagi hari setelah sarapan, kami berdiskusi akan kemana tujuan hari ini. Pilihannya pantai Sendang biru lanjut Sempu atau ke Balekambang saja. Bernego sana-sini kami diberi pilihan jika menyewa kendaraan sehari Rp 250 ribu belum ditambah BBM, atau menyewa angkot yang kebetulan lewat Rp 150 ribu satu kali jalan, atau nyicil naik angkot sampai Bantur lalu ngojek sampai pantai. Wah.. opsi terakhir langsung ditolak mentah-mentah oleh semua anggota tim. Takut masuk angin katanya.

Ya sudah.. daripada lama berdebat di pinggir jalan, akhirnya kami naik angkot GL yang kebetulan lewat depan hotel untuk menuju ke terminal Gadang. Sisanya lihat nanti. Namun di tengah perjalanan sang supir menanyakan kami hendak kemana dan langsung ditawari carter angkot Rp 275 ribu sampai Balekambang PP. Kabarnya sih jika hari libur, harga carterannya Rp 350 ribu. Ya lumayan deh. Dan ternyata kami punya tambahan penumpang di depan, yaitu istri sang supir yang turut dibawa serta. Tadinya sempat bingung, kenapa istrinya ngikut ya? Kok dia terlihat ga terlihat sewelcome sang suami sih? Tiba-tiba saja dia request untuk tidak pulang sore-sore. Halaah.. ngapain juga ikut kalo ga mau lama-lama. Apa khawatir dengan penumpang yang manis-manis ini? Hihi.. setelah sempat rada berburuk sangka, ternyata si papinya yang pengen ditemenin. Pun sepanjang perjalanan ngobrol ngalor ngidul, ternyata sang istri adalah guru STM dan sedang kuliah lagi. Hehe.. cerita ga penting yah?

Yup, perjalanan dimulai. Dari terminal Gadang – Krebet (tempat pabrik gula) – Gondanglegi – Bantur – Balekambang. Total perjalanan 2 jam  ngebut dari hotel jam 9 sampai pantai jam 11. Angkot hanya ada sampai Bantur. Setelah itu kami melihat tukang ojek berhamburan mengejar penumpang angkot kuning yang akan pergi ke pantai atau melanjutkan perjalanan. Dari terminal Gadang sampai Bantur sendiri lumayan jauh, saya kurang tahu harganya berapa tapi menurut pak sopir sekitar 15 – 20 ribu. Nah sisanya, naik ojek  sampai pantai berkisar 40 – 50 ribu PP tergantung nego. Perjalanan dari Bantur ke Balekambangnya itu lho, hmm.. ga kebayang kalo pake ojek. Jalan beraspal, hanya saja kebetulan banyak yang rusak dan berlubang. Belum lagi aura di sepanjang jalan. Sepi. Hanya ditemani hutan jati ataupun tanaman tebu. Sinyal telepon berbagai provider jangan harap ada. Benar-benar terisolasi. Masuk ke dalam pantai ada biaya restribusi. Tiket masuk 35 ribu untuk 6 orang dan mobil. Di pintu masuk ada tanda untuk arah kanan bisa langsung ke pantai Kondang merak, namun jalannya masih berbatu.

Dan, voila.. inilah pantai Balekambang!

  

  

  

Seperti umumnya pantai laut selatan, ombak di Balekambang cukup besar. Ada berbagai papan peringatan dilarang berenang. Walaupun bukan Sabtu Minggu, namun karena saat kami ke sana sudah waktunya liburan sekolah. Lumayan banyak juga pengunjungnya. Yang khas dari Balekambang adalah adanya pura di pulau seberang pantai. Namanya pura Ismoyo.  Pagar jembatan menuju pura dicat biru. Di bagian awal jembatan ada bagian beton yang roboh, tapi masih bisa dilewati untuk menyeberang.

Di kawasan pantai juga tersedia berbagai macam fasilitas. Mushola, toilet, tempat beristirahat, gerobak jajanan, selain warung makanan dan toko suvenir. Hanya saja tidak disediakan tempat sampah yang memadai, sehingga masih banyak pengunjung yang seenaknya membuang sampah sembarangan. Harga makanan di warung relatif cukup murah, rata-rata hanya 5000 rupiah per porsi.

Karena ingin melihat pantai Kondang merak, maka sesi pemotretan di Balekambang *halaah.. berasa model terkenal* selesai jam 12 siang. Itupun juga karena ga enak sama istri sang supir yang minta pulang tidak terlalu sore. Tapi begitu berkumpul di meeting point (baca: depan angkot biru) ternyata yang bersangkutan tidak ditemukan. Saya dan seorang teman sampai balik lagi mendekati pura untuk mencari mereka. Duh.. mana panas, capek, makanan terkunci di angkot pula. Akhirnya, kami memutuskan makan nasi pecel di warung paling dekat. Harganya 3ooo seporsi, saudara-saudara.  Karena ga selera dan takut ga habis, saya minta sepiring berdua saja. *romantis kan?* Dan ternyata begitu dicicipi, pedasnya aje gile. Pas dicek di dalam pecel, irisan cabe rawit kuning berukuran agak besar teridentifikasi dijeburkan langsung dalam ramuan sayuran dan bumbu pecel. Pantesan pedasnya sampai kuping. Akhirnya kami memesan mie goreng saja. Itupun ga habis dimakan berdua karena mie-nya terlalu lembek, dan sang sopir sudah berada di lokasi. Sementara kalo saya sih sudah ga enak hati buat makan. Ga mood.  Dan makanan minuman es kelapa yang dimakan untuk maksi berempat kali ini hanya 18 ribu saja. *prok..prok*

Begitu bertemu sang sopir, kami sempat kecewa karena ia tidak sesuai janji.  Tadinya saya pikir mereka ingin berduaan saja, karena dicari kesana kemari tidak ketemu. Apalagi awalnya sang istri juga melarang si bapak untuk ikut serta dengan kami. Ternyata beliau kehilangan dompet berisi surat-surat penting untuk trayek angkotnya saat di toilet. Jadi sibuklah ia mencari. Untunglah dompet itu ditemukan dan disimpan seseorang. Kalo ngga ketemu, kasihan juga. Kabarnya cukup banyak biaya yang harus digelontorkan untuk mengurus ijin trayek angkot. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja, tidak jadi pergi ke pantai Kondang merak. Lain kali mungkin. Lagian rasanya capek banget. Bahkan dalam perjalanan pulang, teman saya sampai berpose menjungkir karena ketiduran di angkot.. zzz.