Malang Part 3 : Coban Rondo – Songgoriti


Setelah hom pimpah untuk melanjutkan perjalanan akhirnya diputuskan pergi ke air terjun (Coban) Rondo. Sebenarnya asli ini ide pribadi saya yang berhasil memperdaya teman-teman secara halus untuk ikutan pergi juga, hihi.. Obyek wisata ini terletak di desa Pandesari, kecamatan Pujon, Malang.  Jarak antara Batu dan Coban Rondo sekitar 7 km. Dalam perjalanan, kami melewati kawasan wisata Payung yang ramai pada malam hari – semacam Puncak Pass-. Di pinggir jalan terdapat warung-warung yang menjajakan sate kelinci/sate ayam maupun jagung bakar. Sate kelinci? Oh.. meski katanya enak, tetep aja tuh ga tega buat makan daging kelinci. Di sebelah kanan jalan menuju Pujon terdapat perbukitan yang digunakan untuk olahraga paralayang. Kabarnya artis Ahmad Dhani sering mengunjungi daerah ini *duh, kok gosip banget yak?*

Tidak berapa lama, tiba juga kami di kawasan wana wisata. Harga karcis masuk 8 rb per orang, mobilnya lupa berapa. Yang jelas total jendral 45 ribu satu mobil isi 6 orang (tapi supir ga ikut bayar kayaknya).  Jarak dari pintu masuk ke tempat parkir air terjun sekitar 1,8 km dan masih bisa ditempuh dengan mobil. Fasilitas pendukungnya bagus, pengunjung malas macam saya ga perlu repot-repot trekking. Di pepohonan banyak monyet-monyet yang berkejar-kejaran meski tidak segarang monyet Sangeh yang hobi merebut apapun. Sekitar 100 m menyusuri jalan plesteran, kami disuguhkan dengan pemandangan menakjubkan.     

 jaka tarub.. adakah kau lihat bidadarimu sedang bermain air? pelangi itulah jalan tuk kembali  *lebaay*

Informasi tentang Coban Rondo (sumber : plang informasi di lokasi wisata)

  1. Ketinggian air terjun 84 meter
  2. Ketinggian di atas permukaan laut  1.135 m
  3. Suhu rata-rata +/- 22 C
  4. Curah hujan rata-rata per tahun 1721 mm
  5. Asal sumber mata air Cemoro Dudo

Air terjun Coban Rondo berasal dari air hujan yang ditampung oleh  daerah aliran sungai (DAS) Coban Rondo yang berada di lereng gunung Kawi . Luas DAS Coban Rondo diperkirakan 1252,6 Ha dan curah hujannya sekitar 1721 mm/tahun. Sehingga diperkirakan DAS C0ban Rondo menampung 21,6 milyar L air hujan per tahun dan dialirkan melalui sungai Coban Rondo dengan debit terendah 150 L/detik.

Fluktuasi debit air terjun Coban Rondo sangat tergantung pada curah hujan dan kondisi vegetasi/hutan di dalam DAS. Apabila hutannya gundul maka saat musim hujan debit air terjun sangat tinggi dan airnya coklat (karena erosi)  sedangkan pada musim kering airnya sedikit. Karena curam, sifat tanahnya mudah erosi dan curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya tanah longsor pada bagian yang lemah.

Di plang informasi dalam kawasan juga terdapat legenda yang menceritakan asal usul Coban Rondo.  Alkisah sepasang pengantin baru yang bernama Dewi Anjarwati dari gunung Kawi berniat untuk mengunjungi gunung Anjasmoro -tempat suaminya Raden Baron Kusumo berasal-  setelah melewati 36 hari pernikahan (selapan). Orang tua Dewi Anjarwati melarang keduanya pergi, namun mereka bersikeras dengan segala resiko. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Joko Lelono yang terpikat pada kecantikan sang dewi dan berniat untuk merebutnya. Raden Baron menyuruh para punakawan penjaga untuk menyembunyikan sang istri di suatu tempat yang terdapat coban (air terjun). Pertempuran berlangsung sehingga menewaskan keduanya, sehingga Dewi Anjarwati menjadi janda (dalam bahasa jawa : rondo).

Masih inget cerita jalan-jalan saya waktu ke fairy stream di Mui Ne? Meski pemandangan kiri kanannya sangat cantik tapi disana ternyata destinasi kami adalah air terjun yang cuma seuprit. Makanya saat melihat ketinggian Coban Rondo, kami terkagum-kagum. Sangat-sangat sepadan. Sebenarnya ada pilihan lain yaitu Coban Talun yang searah dengan tempat kami bekerja. Namun terpaksa dilewat dengan berat hati mengingat pekerjaan lainnya belum selesai. Di samping itu rute menuju Coban Talun kabarnya cukup berat. Seperti biasa emak-emak ini maunya kan serba yang gampang dan enak aja.

Setelah puas jeprat-jepret sebagai bukti keeksisan diri pernah ke Coban Rondo, kami bergegas segera turun ke Batu. Saat itu tanpa sengaja mata saya tertuju pada banyaknya rumah-rumah cantik di atas bukit dengan posisi yang ‘mengerikan’.  Sebagai seseorang yang mengaku cukup cinta dengan lingkungan, saya sangat tidak setuju dengan pembangunan kawasan rumah boutique tersebut. Rentan dan berpotensi mengganggu kestabilan lingkungan sekitar. Tapi sudahlah, itu kan hanya opini pribadi. Moga-moga sang pemilik punya kesadaran lebih untuk tidak hanya mementingkan materi namun turut serta menjaga kelestarian alam.

Lanjut turun ke bawah, searah dengan perjalanan pulang saya ‘memaksa’ untuk singgah sebentar di Songgoriti. Saya sangat ingin tahu ada apa saja di sana. Meski sudah diberitahu bahwa itu hanya tempat pemandian, namun tidak afdol rasanya jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Maka akhirnya saya dipersilakan turun, sementara yang lainnya memilih menunggu di dalam mobil. 

                                 

Dengan sedikit katabelece karena hanya ingin mengambil gambar, akhirnya saya diperbolehkan masuk ke kawasan kolam renang Tirta Nirwana tanpa harus membayar karcis masuk sebesar 9000 per orang. Saya berlari ke dalam untuk sedikit bereksplorasi. Ternyata menurut bapak satpam yang saya ajak ngobrol, luas kawasan ini sekitar 5 hektar. Terbagi menjadi area kolam renang, taman bermain, kios kerajinan dan oleh-oleh, taman besar, wisata sepeda air, dan lain-lain.   Haha.. ngga deh, kalo disuruh muter-muter.  Sedikit berbagi informasi saja, sudah cukup memuaskan bagi saya. Jika boleh diambil kesimpulan,  bagi saya kawasan wisata Songgoriti ini hampir serupa dengan Salabintana di Sukabumi.

Setelah puas akan rasa ingin tahu, akhirnya kami bersegera untuk pulang. Tadinya kami akan melanjutkan perjalanan untuk melihat Selekta, namun niat itu diurungkan. Demikian pula dengan Jatim Park 1 & 2. Wah..kalo semua dituruti bisa-bisa sepanjang perjalanan isinya cuma puter-puter tempat wisata di daerah Batu aja. Ya sudah, lain kali disambung lagi. Kami pun meluncur, pindah menuju kota Malang.  Bersambung yaaa….

                                                                    

39 thoughts on “Malang Part 3 : Coban Rondo – Songgoriti

  1. Huwaaaa,, subhanallah.. Gila mbak keren banget air terjunnya, dan tinggi banget gitu! Jadi inget pernah baca di buku Trinity yg bilang dia pernah ke amerika selatan dan tempat wisatanya adalah pohon pisang dan air terjun 5 meter!

    Indonesia bener2 punya banyak tempat indah yang menabjupkan ya >.<

  2. uwaaa… saya malah belom pernah kesini. cuman kalo liat debit airnya nggak terlalu besar yah efek musim kemarau kali??..

    hemm, soal coban rondo (coban = air terjun, rondo = janda), ternyata emang ada kisah janda yang menyertainya yaa…

  3. jaman kuliah dulu,daerah cuban2 tuh jadi tempat favorit para mahasiswa lama untuk ‘membaiat’ para mahasiswa baru:p
    sayangnya waktu jurusanku camp disana,aku ga dapet permit dari ortu.hehehe:D

    • iya, momennya pas..

      ngga tuh Tia.. hihihi.. mereka biasa liat ibu bapaknya gantian pergi.. tapi Syafiq pengen diajak ke Singapura katanya.. walaah.. tau darimana itu kosakata ya?

  4. selalu suka lihat air terjun, apalagi punya kisah unik gitu ya….,
    lucu deh penasarannya ke Sonngoriti, naluri bloggernya ternyata tajam banget ya..he..he..
    kalau bisa semua hal harus diliput kan mbak

  5. Hmmmmmm….Cuban rondo mengingatkanku pada masa ospek dikampus..kita camp..tapi tidak di cuban rondonya..tapi di Cuban talun-nya…ngeri..dingin banget kalo malam..mana namanya camp kan tidurnya di tenda..dan biasalah saking ndesitnya..nggak suka dingin bo’…Kalo songgoriti mengingatkan saya akan masa kecil saya..berwisata dengan bapak ibu dan mas ke songgoriti dan selecta..dulu di alun alun kota batu masih ada taman kotanya batu batu gitu..kayaknya sekarang dah nggak ada…wah jadi kangen malang dan batu ..ngebaca tulisan bunda hilsya…Hmm….:(

    • iya.. tadinya kita mau ke coban talun, tapi kerjaan masih nunggu..

      alun-alun batu udah jadi amusement park..bagus sih kalo malam hari, lampunya keren.. ada bianglala mini kalo mau naik bayar 3000

  6. bagi q coban rondo adalah tempat wisata yang takkan pernah terlupakan,
    di sana aku dan teman teman kelas 3 smk, sma, dan aliyah darul hikmah berkumpul dan bercanda tawa bersama, kita berenang bersama tanpa kenal dingin.,..,., HIDUP DARUL HIKMAH.,.,.,.,.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s