Keep dreaming

Saya menerjemahkan quote Paulo Coelho menjadi “keep dreaming”, lebih singkat namun berarti banyak buat saya pribadi.

Di masa lalu walaupun menyandang predikat sebagai anak yang secara fisik serba kekurangan, saya tak pernah berhenti untuk bercita-cita. Mungkin lebih tepatnya tak pernah berhenti bermimpi dan mengkhayal. Kadangkala si tukang mengkhayal ini dengan tidak tahu dirinya membayangkan di masa depan suatu saat ia bisa pergi kesana-kemari melakukan banyak hal.

Sebenarnya impian anak petani ini tidak terlalu muluk-muluk. Seperti lazimnya anak-anak lain, saya hanya ingin suatu saat bisa naik mobil bagus, naik pesawat terbang, atau melihat salju. Sederhana bukan? Di masa itu terasa sekali bahwa probabilitas realisasi impian saya sangat kecil bahkan nihil. Meski termasuk sedikit punya prestasi tapi saya bukan anak orang kaya, jadi statemen bisa memfasilitasi diri sendiri memang terdengar sangat tidak mungkin.

Salah satunya, tiba-tiba saya teringat pada mimik muka almarhum kepala sekolah semasa SMP yang mengernyit ‘meremehkan’ khayalan saya. Sewaktu itu beliau bertanya, siapa di antara murid-murid yang pernah entah naik pesawat atau melihat pesawat? -saya lupa pertanyaannya-. Lalu dengan penuh percaya diri, saya mengacungkan tangan. Bahkan bilang dengan bangganya bahwa saya juga pernah makan di restoran dengan membawa tray  ala self service *haha segitunya*.  Eh ngomong-ngomong pasti jaman dulu bahasa saya tidak secanggih ini. Saya memang belum pernah naik pesawat terbang tapi saat itu saya baru saja mengantar kerabat dan keluarganya ke Halim Perdanakusumah untuk melanjutkan studi di US. Sang kepala sekolah terlihat sedikit tidak percaya dan seperti bilang “you? no way! that’s impossible“. Meski begitu, saya tak ambil peduli. Terserah orang mau bilang apa, yang penting saya yakin suatu saat saya bisa. Entah bagaimana caranya.

Khayalan kedua saya juga dimulai saat SMP. Cerita singkatnya pernah saya re-post di sini. Saat itu saya iseng-iseng menulis request pada kedubes Korea di Jakarta dan dibalas dengan kiriman sebuah handbook singkat tentang Korea. Percaya atau tidak, dengan penuh semangat saya belajar sendiri cara menulis dan membaca Hangul *meski sampai sekarang bacanya tetap sambil mengeja..lama pula, hihi*. Jadi kadangkala jika ingin menulis sesuatu hal yang rahasia *maklum udah abg*,  saya menuliskan perasaan saya dalam bahasa Indonesia dengan aksara Korea.  Di jaman dahulu, genre drama maupun musik Korea sama sekali tidak dikenal. Tapi entah karena alasan apa sejak saat itu, khayalan saya untuk menjejakkan kaki di negeri ginseng sangat kuat. Apapun atau kapanpun terjadi, saya yakin suatu saat saya bisa menggapainya. Dan alhamdulillah, akhirnya rejeki saya sampai juga di sana  setelah hampir 20 tahun kemudian.

Atau di lain waktu, yang paling lucu mungkin cita-cita sederhana ingin melihat guguran salju. Dasar tukang mengkhayal, saat itu saya merasa seolah-olah sedang bermain boneka salju lengkap dengan hidung wortel dan ranting-rantingnya. Dan rupanya belasan tahun kemudian juga, Allah berkenan mengabulkan mimpi wong ndeso ini untuk melihat turunnya salju. Yukiiii.. aah, kirei desu. Cerita ini juga pernah di re-post di sini. Untuk sekedar informasi, turunnya salju di Tokyo terbilang sangat jarang. Memasuki musim dingin ketika berharap melihat salju,  rombongan kami malah pergi meninggalkan daerah Jepang utara menuju selatan. Rupanya saat itu terjadi keajaiban, salju turun cukup deras di Tokyo dan sekitarnya. Suhu di sana mencapai minus 2 derajat. Heuheu.. hebat euy, waktu itu sih badan masih tahan banting soalnya saya masih muda *kedip-kedip*. Sampai sekarang inilah satu-satunya pengalaman saya bertemu salju, dan itu sudah cukup. Ternyata saya tidak tahan dingin. Brrr…

Di lain kesempatan ketika pada suatu waktu masih di masa kanak-kanak juga saya bertanya pada bapak, “Kenapa sih Pak, Ka’bah itu tidak ada di Indonesia?” Saya mau pergi ke Mekkah. Dengan spontan bapak bilang, “Kamu punya uang darimana?” Tapi langsung diralat dengan dilanjutkan, “Ya..moga-moga aja impianmu tercapai, sing bageur.. banyak rejeki, berkah!” Doa bapak pula rupanya yang turut mengantarkan saya berkunjung sejenak ke sana. Moga-moga di lain kesempatan akan ada rejeki untuk menunaikan rukun ke lima. Amiin.

Tapi rupanya keep dreaming itu tidak berlaku untuk cerita cinta pertama saya. Meski banyak berharap namun tak pernah jadi nyata. Btw, baru satu kalimat tapi mulai terasa gejolak hati secara mendalam. Diiringi desakan untuk meneteskan air mata buaya. Pedih, perih, sakit, luka masih kerap terasa hingga detik ini. Heran deh jatuhnya dimana dan sampai bagaimana parahnya sih kok sakit semua gitu? Khusus untuk sesi love story terutama untuk dia -yang tak boleh disebut namanya- *keracunan Harry Potter*, saya memilih diringi soundtrack yang ini.. terutama bagian reff-nya.

Era todo um sonho, ela já não me queriaIt was all a dream, she didn’t want me anymore
Eu tentei mostrar que por ela eu não sofria – I tried to pretend that I wasn’t suffered for her
Hoje vivo triste, mas eu sei que mudarei – Today I live so sad, but I know it will change
Pois eu quero esquecer-me dela de uma vez – Because I want to forget her just once

Note : ela-nya diganti ele untuk he/him

Sumpah.. baca reffrain lagu ini masih terasa bagaikan disayat sembilu deh! Secara.. he didn’t want me anymore. Dia lebih memilih wanita penuh pesona yang lebih rupawan dengan kasta lebih tinggi. Duh.. dibanding saya kan jadi bagai bumi dan langit banget *sadar diri, mundur teratur (halaah.. sebenarnya sih emang ga dipilih aja!)*. Mungkin terdengar sangat berlebihan ya? Tapi entahlah hanya dengan mengatakan mas eu sei que mudarei pada diri sendiri, segala sisa rasa sakit hati itu akan berguguran sedikit demi sedikit. Disertai keyakinan bahwa kita akan selalu diberikan yang terbaik menurutNya,  saya percaya kehidupan yang positif selalu diwarnai hal-hal menggembirakan. Dan itu terbukti. My life’s even better. Andai saja saya dengan dia, mungkin rejeki perjalanan ini tak kan pernah terjadi. Who knows?

Jadi anak-anakku, mulailah bermimpi setiap hari. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Berusahalah sekuat tenaga dan berdoalah. Sisanya pasrahkan padaNya. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehdupan ini. Doa mama selalu menyertai kalian*serius, emak-emak style mode on*.

==================

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway keluarga Dey Fikri yang bertema “Giveaway Angka 100”. Akhirnya, last minute.. lunas juga utang tulisan eike, ya bu.. 🙂

Iklan

44 thoughts on “Keep dreaming

  1. yap…setuju dengan tulisan ini, jangan pernah berhenti tuk bermimpi,..karena saya adalah pemimpi yang sabar hehehehe…
    nice post mbak..semoga menang kontesnya dan salam kenal..:)

  2. Wuih, seru dah impiannya mbak..
    Ah, soal keluar negeri dan melihat salju sepertinya menjadi impian semua anak Indonesia yak! *termasuk aku* hehehe..

  3. Banget mbak,,
    Aku mengalaminya,,
    Ada banyak ketidakmungkinan,, yang kemudian menjadi mungkin,,
    Karena percaya dan terus bermimpi,,
    Mimpi yang kuat adalah doa yg selalu terucap,,
    Dan Allah selalu mendengar doa itu 🙂

  4. wah jadi pengen bermimpi juga.. *tidor lagi*

    haha.. baguus.. ternyata udah nyampe mana-mana tooh.. korea, jepang, mekkah.. itu semua saya pengen berkunjung juga. bagi tipsnya donk, syukur2 dikasih gratisan 😛

  5. Aduh komen saya kok amburadul begituh …

    maksudnya

    Tetaplah Bermimpi …

    Ini memang kalimat yang ampuh Bu …

    Dan jangan lupa … bekerja keraslah untuk meraih mimpimu … plus berdoa

    salam saya
    IniTetaplah Bermimpi …

    Ini memang kalimat yang ampuh Bu …

    Dan jangan lupa … bekerja keraslah untuk meraih mimpimu … plus berdoa

    salam saya memang kalimat yang ampuh Bu …

    Tetaplah bermimpi …
    Dan bekerja keraslah untuk

  6. Keep on dreaming and work hard for it.
    Jadi dapat inspirasi kalimat baru, nih.

    Mbak Bukunya sudah sampai. Waaah.. langsung saya kebut baca hari ini. Jalan2 ke rumah saudara pun kubawa. Hehe…. Makasih, ya.

  7. Waaah bagus banget Mbaaa….

    Memang mimpi itu selalu menjadi motivasi terkuat buat seseorang…
    Tanpa mimpi mungkin seseorang nggak bisa ngerasa hidup…

    Semoga menang di acaranya Ibu Dey… 🙂

  8. walaupun tidak dengan bahasa menulis yang drama tapi aku terharu bacanya.
    ada banyak mimpiku yang juga bisa kuwujudkan satu persatu.
    thanks sharingnya mbak, bikin aku semakin kuat utk mewujudkan mimpi2 yang lain, termasuk membina rumah tangga…

  9. ihh toast dulu ah bagian cinta pertama nya.
    hahahhahahahaha…
    ah he didn’t want me anymore.
    bukan penuh pesona dan dia lebih segalanya mbak,
    hanya saja beda kelas. gemana-gemana gak bisa dibandingin. dia juara satu dikelasnya, Mbak Hil juara satu dikelasnya mbak juga.
    hanya berbeda, mbak…
    *nyemangatindirisendiri*
    ahay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s