Fluktuasi rasa

Asli, ini postingan emosional.

Banyak banget hal-hal yang ga nggenah dalam seminggu ini. Pun diperburuk secara emosional karena efek PMS dan banyak pikiran. Kebetulan banyak hal-hal ga enak yang terjadi berbarengan. Nyinggung dikit aja, bawaannya bikin bete. Ga pengen marah-marah sih, cuma ngebatin aja. Ada beberapa hal sepele yang diributin seolah jadi masalah besar. Atau mungkin menurut saya sepele, tapi tidak buat orang lain? Tuh kan, beda persepsi.

Sedikit gambaran yang paling mengganggu adalah tentang pembagian pekerjaan. Masalah gender yang disfungsi. Tepatnya yang bersangkutan tidak mau berfungsi secara maksimal. Kasarnya sih beberapa oknum yang cuma numpang tanda tangan untuk absen doang. Okelah, banyak orang yang begitu juga. Tapi mbok, ya.. pas lagi dibutuhkan itu bisa bersikap kooperatif, cepat tanggap, dan mau berbagi informasi meski bawaannya males komunikasi. Biar bagaimanapun pekerjaan ini sifatnya bukan individual tapi grup. Bayangkan, dalam waktu mepet karena sudah menjelang puasa segala kegiatan dituntut untuk selesai secepatnya. Tapi kenapa kok pihak yang diandalkan sepertinya lambat bereaksi. Padahal banyak sekali kebutuhan bahan atau barang yang indent sampai 3 bulan. Kalo ga segera, mau kapan lagi?

Then, ketika saatnya harus berdiskusi dengan pihak lain. Sisa lelaki di tempat kami malah berhamburan ga jelas. Padahal sudah diberitahukan sebelumnya, bahwa kita harus koordinasi dulu supaya bisa mendapatkan rencana yang matang. Lalu saya geret oknum yang lebih muda. Bagaimanapun, suatu saat dia harus mengerti dan bisa jadi leader. Di lokasi kejadian sih, dia aman-aman saja karena bagian saya yang harus banyak bicara. Tapi begitu kembali ke tempat, orang itu bersikap pura-pura ga ngerti saat ditanya senior lain. *ih, bikin bete  ga sih?*

Mau ga mau, akhirnya semua harus diambil alih biar ga terlalu ngeblank banget. Sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab, saya harus menghabiskan waktu berjam-jam menelpon sana-sini untuk -tanpa tahu malu dan pasang muka jujur ga tau apa-apa- bertanya secara detil agar mendapatkan sedikit gambaran. Kebetulan saya punya banyak channel di sana-sini, maka link-nya segera terbuka. Dan beruntung pula mereka bersedia menerima cerocosan panjang lebar saya. Akhirnya kontak yang diinginkan berhasil ditemukan. Lega banget!

Hal lainnya, kayaknya saya harus sedikit sensitif untuk masalah yang bersangkutan dengan uang. Ga enak banget rasanya kalo saya melihat sendiri bisik-bisik tetangga tentang bisnis sampingan tim kami yang saya kelola. Padahal uang itu juga bukan uang saya pribadi, tapi uang teman-teman. Saya hanya mengaktifkan simpanan kami supaya bisa sedikit menghasilkan. Apa mereka kira untungnya banyak banget? Salah besar. Untuk 1 pc itu paling 2-5 rb aja, belum dikurangi biaya transaksi. Kadangkala sisanya cuma recehan. Tapi ya sudahlah daripada ribet kasak-kusuk di belakang. Toh.. kalo akun atas nama saya dapat keuntungan sedikit lebih besar, dapat dipastikan itu terjadi bukan karena transaksi pribadi. Jadi saat ini saya bilang sama para pemodal kecil-kecilan kami, usaha itu semua buat keperluan kami pribadi aja.

Satu lagi yang paling gres.. *beuh, banyak banget* tentang masalah bahasa tulisan. Sekali lagi, masalah bahasa tulisan memang agak sedikit sensitif karena kita ga tau suasana hati seseorang saat menulis. Tapi ngebayangin orang nulis reply pake beberapa tulisan capslock, rasanya buat saya ga sopan banget. Ya, saya tau kalo itu terjadi karena miskomunikasi dalam tulisan. Ia ingin menekankan sesuatu. Maksudnya tidak A tapi terasa ditanggapi A. Rada tersinggung juga sih, mengingat usianya jauh di bawah saya. Saya mencoba mengerti karena saat itu dia sedang hectic. Saya mencoba menulis reply dengan baik (sambil menyabar-nyabarkan diri untuk menjaga status ‘ketuaan’ saya dibanding dia) disertai permohonan maaf karena telah merepotkan dia dengan bertanya ini itu. Tapi tetep aja rasa ini ga plong. Lalu mulailah keluar uneg-uneg di blog butut saya ini *kasian banget nasib si blog*. Semata-mata ditulis untuk mengurangi rasa tidak enak saya.

Lalu kenapa ya saya kasih judul fluktuasi? Padahal dari paragraf atas isinya ga enak semua. Ternyata ga semua begitu. Pertama, saya sudah mendapatkan pengganti bibi yang baru. Moga-moga si ibu betah. Hubungan saya dengan teteh yang lama juga baik, ia ingin istirahat. Wajahnya sempat berbinar saat saya bilang ia boleh ambil semua sisa cicilan dagangannya, sebagai ‘pesangon’ kecil-kecilan. Kedua, saya berhasil mendapatkan teman bicara untuk sekedar sharing uneg-uneg. Lega rasanya saat saya bisa sejenak tertawa, bertanya kabar, saling meledek, kangen-kangenan, pengen cerita-cerita, mengucapkan selamat ulang tahun, menelepon sambil bercucuran air mata karena sedih atau kesal amat sangat, dan minta tolong lainnya. Untung masih punya satu sahabat baik. Tambah lega lagi, ketika saya dengan suara diriang-riangkan berbicara dengan sahabat lainnya just to say hello atau saling melepas rindu. Wah, suaranya bikin melayang!

Dari semua itu nyata sekali, bahwa kita selalu butuh seseorang untuk diajak bicara.

Dan nyata sekali, bahwa blog ini juga berguna untuk menetralkan fluktuasi rasa saya. Terbukti di akhir paragraf ini, dada saya sudah tak terlalu sesak seperti di awal.

NB : mohon maaf buat teman-teman yang kesasar di postingan ini, dan berpikir saya nyampah. Tenang! Nanti sampahnya saya bersihin dan dipilah deh sesuai jenisnya 😀