Dua buku Indi

.

gambar diambil dari sini

Sewaktu berjalan ke toko buku, saya sedikit penasaran dengan buku kecil bersampul kartun dengan judul yang terbilang ‘biasa’.. “Waktu Aku Sama Mika“. Mengapa saya bilang ‘biasa’? Karena judulnya tidak seperti kebanyakan judul novel lain yang menggunakan berbagai kata-kata kategori sastra guna mendapatkan sense of title yang indah. Karena buku itu berada sejajar dalam satu rak dan sepertinya ‘kisah nyata dan bersambung’ dengan “Karena Cinta begitu Sempurna“, maka dua-duanya saya ambil. Bukan kenapa-kenapa. Penasaran. Sebuah tindakan yang sangat tidak lazim karena saya bukan orang yang pandai mencari buku asyik untuk dibaca. Mungkin karena sudah ‘tua’ selera saya agak ‘ajaib’ sehingga agak sulit untuk mendefinisikan sendiri seperti apa selera bacaan saya. Dalam hati, saya ngebatin.. yang bener aje, masa emak-emak baca buku cover kartun ama cinta-cintaan remaja? Halaah.. ga jelas banget! Tapi begitu lihat rewiew singkat di  sampul belakangnya yang masih dibungkus plastik, akhirnya jadi juga masuk kantong belanjaan.

Saya melihat “Waktu Aku Sama Mika” sebagai tulisan yang memang benar-benar apa adanya. Dari hati. Cara penulisan, pengungkapan dan kesederhanaannya persis seperti tulisan dalam buku harian kita. Buku itu memang berisi kumpulan tulisannya, yang kadang hanya terdiri dari beberapa kalimat. Lebih terlihat seperti puisi. Tulisan biasa namun bermakna luar biasa. Indi seperti remaja belasan tahun lainnya mendeskripsikan kisah cinta luar biasanya dengan Mika sepenuh hati. Kenapa disebut luar biasa? Karena Mika bukan seseorang yang biasa-biasa saja, karena ia ODHA. Dari Mika, Indi remaja belajar untuk merasakan banyak hal, terutama perasaan kehilangan yang akhirnya membuatnya menjadi pribadi lebih tangguh. Saya jadi flashback, seandainya saya saat itu juga mengalami kisah cinta yang sama dengan Indi di masa remaja.. mengira-ngira bakalan seperti apa bentuk tulisan saya ya? Pasti penuh cucuran air mata. Wong, putus aja rasanya masih kerasa sampe sekarang! *aduh, jeng.. sadar! sekarang udah abad milenium lho! *

Setelah keduanya selesai dibaca kalau boleh memilih, saya lebih suka buku kedua. Meski sama-sama berdasarkan kisah nyata, tetapi saya dapat merasakan sebuah tahap pendewasaan Indi saat ia menulis buku keduanya. Mungkin juga hal itu disebabkan karena masalah selera dan usia bagi saya. Ehm..lagi-lagi faktor angka.

Jika pada buku pertama ia lebih mengarahkan segala sesuatunya tentang Mika, kepada Mika, dan hanya Mika, maka pada buku keduanya ia menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Dari semenjak lahir, masa-masa sekolah, saat bertemu dan kehilangan Mika, saat  menyadari bahwa ia scolioser, proses terapi, pencinta hewan peliharaan, dunia kuliah, kesukaannya pada fashion, sahabat-sahabat, dan kisah cintanya dengan Ray. Semuanya ditulis dalam tutur kata yang tidak bertele-tele namun menjadi bacaan ringan dan menarik. Saya tak akan menceritakan apa yang ada di dalam buku, karena isinya akan lebih mengena bila langsung dibaca sendiri. Trust me!

Fakta bahwa ia adalah penderita skolioser dengan derajat lumayan berat tidak terlihat dari penampilan sehari-harinya yang fresh dan modis. Lihat saja berbagai pose Indi dalam blognya. Ceria, girly, penuh warna, meski ia bilang it’s my forever style. Tak heran, jika saya awalnya mengira ia masih berusia belasan tahun. Jujur saja keberadaan penyakit skoliosis ini baru saya dengar sekitar 3 tahun lalu, saat seorang kawan semasa SMA saya menjadi penggiat skoliosis di Komunitas Skoliosis Indonesia. Putri sulungnya penderita skoliosis. Dan ia turut serta menulis pendapat positifnya tentang Indi seperti tertulis pada kalimat pertama di paragraf ini di buku kedua Indi.

Indi mengatakan bahwa Tuhan telah membantunya untuk menguraikan uraian benang kusut dalam perjalanan hidup agar menghasilkan reaksi berantai dengan efek luar biasa. Hal itulah yang dapat membuat inspirasi bagi banyak orang untuk tetap semangat dan yakin pada hari esok yang lebih baik. Jadi seperti teman saya bilang.. keep shinning, girl!  Tetaplah berkarya.

================

Ditulis untuk memberikan apresiasi kepada Indi yang telah berbagi semangat dan inspirasi. By the way.. Best wishes on your birthday!

Iklan

30 thoughts on “Dua buku Indi

  1. udah lama gak menyentuh novel. jadi pengen main ke gramed..
    dan juga anis suka style Mbak Indi. so cutee
    salam kenal Mama Hilsya..

    lots people call u like that..:P

  2. waaah… reviewnya komplit dua-duanya di bahas.. saya juga kenal Indi, dan wanita stau itu memang banyak menginspirasi orang. entah dari tulisannya atau dari kesehariannya.. salut euy, semoga sukses yaa ^_^

  3. cover bukunya lucu! Dari judulnya sepertinya ringan yak ceritanya, tapi aku paling gak suka kalau beli buku yang tipis, berasa rugi gitu kalau berli buku berpuluh ribu hanya dihabiskan dalam waktu 2 jam! hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s