Ikan lele

 gambar diambil dari sini

Ide postingan ini berasal dari rutinitas pagi anak-anak.  Berhubung si kaka dijemput ke sekolah jam 6.30  maka biasanya makanan instan seadanya disiapkan demi membiasakan anak-anak untuk sarapan. Menunya simpel, nasi + lauk + segelas susu. Memang sih saya akui itu saja tidak memenuhi standar kelengkapan gizi. Saya hanya tidak ingin ia pergi ke sekolah dengan perut kosong. Ia akan pulang ke rumah antara jam 2 – 3 sore. Di waktu istirahat, biasanya anak-anak jajan makanan yang ga jelas. Sementara untuk makan siang telah disediakan makanan katering di sekolah.

Jika isi kulkas kosong melompong, mungkin hanya telor ceplok ditambah kecap yang disajikan dengan nasi hangat. Jika freezer masih berisi, biasanya ada ayam/ikan bumbu yang siap digoreng. Bukan jenis nugget, sosis, atau kentang beku. Anak-anak tidak terlalu suka. Heran deh.. rasanya kalo beli apa-apa di rumah habisnya lama banget. Satu-satunya mahluk omnivora yang mau melahap apa saja di rumah ya cuma si ayah itu.

Semenjak kecil, saya jarang sekali makan ikan sementara si ayah sebaliknya. Saya tau banget betapa bergizinya ikan ini itu. Tapi gimana dong, wong jarang makan.. jadi rasanya aneh aja. Belum lagi kalo kebagian menggoreng ikan yang hobinya bikin ciprat-cipratan minyak panas, walaah! Sampai sekarang saya ga berani tuh ngebalik gorengan ikan kalo kompornya masih nyala. Pasti apinya dimatikan dulu, didiamkan sebentar sampai tidak ada bunyi letusan minyak, tutup penggorengan dibuka, lalu baru ikannya dibalik dan kompor dinyalakan lagi. Sebuah tata cara menggoreng ikan yang bikin ribet. Dan biasanya kalo penggorengan ditutup, kita suka susah memprediksi kapan ikan itu mateng welldone, seringnya sih kematengan a.k.a gosong..hihi. Duh, nyerah deh!

Namun demi bersikap konsisten akan aturan rajin makan ikan di rumah, saya harus susah payah menelan daging ikan itu supaya melewati tenggorokan. Aturan makan ikan itu memang diberlakukan guna meminimalkan pembelian daging merah yang harganya melangit. Hehe, emak-emak itungan banget! Sementara daging ayam pun tidak terlalu sering dikonsumsi, karena miris dengan begitu maraknya proses pembesaran ayam yang tidak natural. Pokoknya less meat is better deh.

Tapi yang paling bikin saya tersiksa adalah makan ikan lele dalam berbagai versi. Entah kenapa ya, rasanya kok ga bisa tertelan. Sementara semua anggota keluarga bersuka ria melahap ikan berkumis itu. Kyaaa.. membayangkan dia menggelepar-gelepar dengan kumis dan patilnya yang menakutkan. Belum lagi proses pembunuhannya yang sadis itu, pake acara getok kepala segala.  Oh, tidak!

gambar diambil dari sini

Mau berkenalan lebih jauh dengan si pemilik nama cantik, Clarias batrachus? Lele adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Tubuhnya yang licin tanpa sisik, agak pipih memanjang, serta memiliki kumis  panjang yang mencuat dari sekitar bagian mulut. Kepalanya keras seperti batok. Ikan ini aktif mencari makan di malam hari, sementara di siang hari ia berlindung di tempat gelap.

Lele dikembangbiakkan untuk dikonsumsi dan menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran. Lele yang ditaruh di tempat kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok artinya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya. Kadangkala lele juga ditaruh di sawah karena memakan hama yang berada di sawah. Lele sering pula ditaruh di kolam atau tempat air tergenang lainnya untuk menanggulangi tumbuhnya jentik-jentik nyamuk (sumber copas : wiki). Atau bahkan dalam septic tank? Dulu tetangga saya pernah melakukannya, tapi ga dimakan deh kayaknya.

Lele adalah ikan budidaya air tawar yang sangat populer dengan pangsa pasar yang luas. Lele disukai konsumen karena dagingnya lunak dan gurih, sedikit tulang, juga murah.  Intinya berbudidaya lele itu relatif menguntungkan karena tidak memerlukan banyak perawatan dan memiliki masa tunggu panen yang singkat.

Pengolahan lele paling populer adalah digoreng dan disajikan sebagai pecel lele. Atau diberi bumbu mangut. Atau diolah menjadi olahan ikan seperti pempek, kerupuk ikan, dan bakso. Baru-baru ini saya mendapati liputan teve yang menyiarkan tentang pengolahan ikan lele secara menyeluruh. Artinya sampai tulangnya pun dimanfaatkan untuk pembuatan kerupuk tulang. Caranya gampang, tulang-tulang ikan tadi dipresto sampai lunak lalu dicampur dengan kanji dan bumbu lainnya untuk dibuat kerupuk. Katanya sih enak.

Mm, boleh deh nyoba.. tapi jangan bilang-bilang itu lele ya? Apalagi tulangnya 😀

Iklan

46 thoughts on “Ikan lele

  1. Walaaah, ikan lele sih kesukaan saya! 😀
    Tentu selain lele saya suka gurame, bandeng (tanpa tulang), dan nila. 😛

    Hmmm perihal penangkaran lele di septic tank, kata guru saya SMA itu benar. 😆 Jadi karena diberi makan kotoran manusia, lele bisa sebesar lengan orang dewasa. Tapi saya sih gak masalah, saya tetap suka lele. 😀

  2. Hehehe….tos dulu..seringnya kematengan soal goreng menggoreng ikan A.k.a Gosong hiks..
    terus kalo aku jurus membalik saat mengoreng pake tameng…nah biasanya ambil tutup panci yang besar dipegang pegangannya untuk nutupin muka atau daerah lain jika minyak meletus dan menyiprat..jadi harus ekstra melihat kearah mana letusan itu…ataupun kalo tidak yangpenting muka udah tetutupi tameng itu..perna punya history melepuh kulit tangan karena keciprat saat goreng ayam hiks…
    soal lele dulu sempat idem dengan bunda hilsya..tapi alasannya bukan karena nggak suka,tapi lebih karena ngefans dengan guru biologi saya jaman SMP yang nggak suka lele, katanya jijay…nah saat itulah mulai nggak suka, tapi begitu kuliah nge kos..mbak kos banyak yang suka beli pecel lele akhirnya oh akhirnya mencoba dan suka..dan jadi pemakan lele sejati …* mengindahkan ego rasa kasihan karena matiinnya di timpuk hehehe..bismilah bun…they deserve for us from Allah SWT..* pembenaran hehehe…

  3. Tetep aja namanya kerupuk tulang lele, jeng.

    Pecel lele.. Saya sangat suka  dengan sambal yang pedas ditambah daun kemangi. Yummi..
    Kalah dech rasanya membayangkan bagaimana ia menggelepar, hehe..

  4. pernah makan lele filet atau lele goreng tepung?.. sate lele juga pernah?.. enak loh!.
    namanya ikan lele, itu memang ikan yang merakyat dan bisa dengan mudah ditemui dan dibudidayakan sendiri.. selain bermanfaat juga kandungan proteinnya cukup tinggi.

    satu info lagi, ternyata sungut di ikan lele itu nama ilmiahnya : barbel!

  5. Masa’ sih Mba gak doyan ikan? waaah,,.. kalo aku ajak wisata kuliner ke kampung Mamaku di Sulawesi Utara tersiksa dong… hihihi…

    disana ikan2nya enak sekali loh Mba… makanya disepanjang pantai skrg bnyk dibangun pabrik ikan… wah sedih jg…

    anyway, ngomongin lele jd inget restoran lele lela… lumayan enak loh mba,.. skrg ada dmn2 hihihi 😀

  6. Saya belum pernah mengolah ikan ini… palingan pas lagi makan di warung aja, itu pun jarang banget 😀
    Hmm… Mbak, ayahnya termasuk “papasaurus” ya… :mrgreen:

  7. waduh…lele???
    sampai saat ini sih belum pernah masak lele mba…
    agak agak horor liat bentuknya…hihihi…

    Lagian aku punya banyak sejarah tidak mengenakkan dengan mahluk bernama ikan ituh…kena kutuk kayaknya mba…*sudah mulai lebay..hihihi…*

  8. mbak, esok chat yuk…
    Susi sudah ke beberapa pengrajin dan perusahaan menengah, smua sudah tidak lagi memakai briket. Tinggal 1 harapan, nih. milik orang Kanada, tapi musti mondar-mandir nunggu dia nongkrng di depan gudang karena ga ada channel ke sana.

  9. hihihi,, lucu amat mbak cara goreng ikannya sampe perlu dimatikan apinya dulu, hehehe…

    Aku makan seh ikan walaupun gak suka2 amat. Tapi klo lele aku anti deh,, jijik gitu lihat bentuknya >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s