Kapan lagi (masih) bilang I Love You

Gambar diambil  dari sini

Boleh tanya, kapan terakhir kali bilang I love you kepada orang terkasih?

Sewaktu habis dapet jatah belanja bulanan? Atau saat merayu minta dibelikan barang idaman? Haha..

Tapi jangan tanya sama orang yang lagi jatuh cinta. Pasti setiap detik rasanya I love you terus. Sampe bikin ngiri orang yang ada di deketnya. Aargh, bete! *sirik tanda tak mampu mode ON*

Tanya deh sama orang yang sudah menikah. Seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau lebih dari itu. Ditarik dari semua pengalaman teman-teman sekitar saya yang rata-rata usia pernikahannya di atas lima atau sepuluh tahun, jawabannya idem. Jarang. Tentu saja ini adalah survey yang sangat tidak representatif  dalam kisaran yang terlalu sempit.

Meski pernyataan cinta untuk saat ini bisa dianggap ‘diabaikan’, bukan sesuatu yang nomer satu dan bukan yang terpenting. Tetapi percayalah mendengarnya sesekali saja di sela-sela mencuci piring atau menyapu lantai terasa sangat menyenangkan.

Lalu kapan mau mulai bilang I love you lagi?

Jangan sampai seperti Dewi Sandra yang mempertanyakan cinta Glenn Fredly (deuh.. sok tau banget) yang dipadu dalam komposisi lirih dan mengiris hati di bawah ini. Duh, serasa pengen nangis bombay di balik pohon. Mendadak saat itu saya turut merasakan kepedihan Dewi sampai tercabik-cabik. *Heran deh.. kalo bagian yang melankolis gini kok saya jago banget penjiwaannya, padahal ga pas banget ama penampakannya, hihi..*

“Kekasih, sesungguhnya hati ini berbunga saat kau masih tetap mengatakan I love you sampai hari ini. Entah itu dari lubuk hati atau sekedar kata-kata rayuan gombalmu yang dengan bodohnya kutelan mentah-mentah. Percayalah, suara sembermu yang sangat tidak merdu itu masih mampu mengubah warna duniaku menjadi lebih cerah *jiaaah…*. Prok.. prok prok. Tepuk tangan semuanya!”

Oh iya, semenjak bikin postingan curcol kemarin, ternyata banyak pihak di balik layar yang mengira diri ini dilanda patah hati tahap kronis. Mungkin akibat pengaruh penghayatan yang amat sangat dalam melantunkan lagu pilihan Hati yang Luka, maka saya dinyatakan lulus casting jadi Betharia. Namun karena dikhawatirkan akan adanya syak wasangka, maka pada sesi ini akan ada klarifikasi ga penting. Saya ga patah hati, tapi masih sakit hati. Lha.. ??

Haha, udah ah.. ga penting beneran.

Tapi sungguh saya berterimakasih akan support dan kehadiran para sahabat di kolom komen. Semuanya sangat berarti. Meski tetap disertai ledekan haha hihi dari oknum yang enggan disebutkan namanya *iya.. diam-diam postingan saya suka dipantau*. Nah, saya kan jadi malu. Entar kalo gara-gara ngeblog efeknya disuruh bikin jurnal ama si bos, gimana coba?

=======

Ah, jadi inget bunda mahes yang bikin analisa spektakuler tentang pernikahan dilihat dari cara order makanan. Ada-ada aja idenya. Lalu apakah karena itu saya jadi sok-sok mencari celah dari celotehan penyampaian rasa cinta? Hihi…nggak Bun, tapi karena tiba-tiba inget Dewi Sandra aja.

Lalu bagaimana dengan having the right person says “I love you” cand send tingles through your wholebody .. *btw, keren ya statemennya?*  Hehe, ini copas asli dari orang bule sono kok!

See the point, guys? The right person.. please bold and underline it!

Yuk..  mulai sekarang sering-sering bilang I love you!