Buat mama

Sudah seminggu kami hanya tinggal bertiga. Lelaki pujaan anak-anak sedang bertugas di luar kota. Sebelum berangkat, sang ayah sibuk mendelegasikan tugas merawat hewan-hewan peliharaannya pada anak-anak. Kebetulan beliau kembali menggeluti hobi memelihara burung seperti semasa lajang dahulu. Khas orang Jawa. Kali ini ada banyak jenisnya: kenari, pentet, branjangan, dan srigunting. Jangan tanya ini itu sama saya. Saya cuma tau burung kenari yang warnanya kuning. Itu saja.

“Ka, burungnya nanti dikasih makan terus dijemur sebentar ya!”

“De, kasih makan ikannya sedikit aja!”

(Ia tak akan bilang apapun pada saya, karena tau persis bahwa saya tidak hobi sama sekali)

Jadi sementara ini, anak-anaklah yang sibuk mengurusi para hewan peliharaan itu. Sementara koleksi berbagai tanaman pun hanya mengandalkan guyuran air hujan atau siraman si teteh saat sore hari. Saya benar-benar tidak punya sense of keeping sama sekali. Benar-benar I don’t like it. I just like to enjoy it. Karena tiap tanaman yang berada di tangan saya selalu berakhir tragis. Tapi biar begitu saya hobi membeli tanaman bunga dan buah-buahan lho..  Haha, sebuah pembagian tugas yang adil bukan?

Kembali ke masalah bocah, saya melihat mereka jauh lebih mandiri tanpa kehadiran ayahnya. Lebih tertib dan mau diajak kompromi, meski kadang disertai pelototan emaknya :D. Sebenarnya saya juga tidak ingin jika predikat ‘ibu tiri yang galak’ itu selalu saya sandang setiap saat. Tapi kadangkala mereka selalu mengabaikan kelembutan sapaan seorang mama yang mencoba jadi ibu peri. Huuft.. perjuangan berat banget.

Sejujurnya saya mengira bahwa mereka jauh lebih nyaman jika saya yang kebagian tugas luar kota. Saya kira mereka juga lebih sayang pada ayahnya. Jika mereka saya tanya dengan pertanyaan konyol yang kekanak-kanakan, “kalian sayang sama mama nggak?”. Mereka hanya senyum-senyum sambil bilang sayang tak jelas. Saya bertanya pada banyak teman, ternyata kebanyakan anak-anak memang cenderung lebih ‘bebas’ bila bersama sang bapak. Apa memang tipikal ibu-ibu selalu cerewet dalam berbagai hal ya? *hihi.. nyari temen*

Tetapi tadi pagi, tiba-tiba saya mendapati rangkaian bunga melati yang kebetulan sedang bermekaran di meja kompi saya. Rupanya si kaka sedari tadi sedang asyik merangkai bunga yang ditusukkan pada sebatang lidi, sambil menunggu jemputan ke sekolah.

Sebelum berangkat, ia berikan kepada saya sambil tersenyum manis. “Buat mama..”

Iklan

20 thoughts on “Buat mama

  1. Senangnya, dikasih bunga. Akupun luar biasa senang dibuatkan puisi di hari ibu. Ada di I love mom. Btw tugas memberi makan burung juga tak dilimpahkan padaku, karena takut dipatok pentet.

  2. Ah…so sweet 😀
    Kalo saya sih lebih cenderung dekat ke nyokap mbak.
    Justru gak begitu dekat dengan bokap 😀
    Kalo anak cowok katanya sih gitu, dekat ke mamanya daripada papanya.
    Kebalikannya sama anak cewek 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s