The beauty of Mui Ne

Mui Ne adalah kota semenanjung dengan pantai cantik di propinsi Binh Thuan, jaraknya sekitar 223 km dari HCMC. Ditempuh selama 4,5 jam dengan kendaraan. Informasi selengkapnya bisa diakses ke http://www.muinebeach.net/general.htm#whymuineisunique (seperti biasa  web tersebut lebih dapat dipercaya dibanding ocehan saya :D). Mui Ne menjadi salah satu destinasi para turis yang ingin menikmati keindahan alam secara lengkap. Kami adalah salah satunya.

Perjalanan ke Mui Ne ini tergolong singkat dan padat berisi, kalo ga bisa dibilang maksain. Berangkat dari HCMC jam 8 pagi dan tiba kembali jam 12 malam. Haha.. mantep! Ditambah laju kendaraan yang alot banget, paling kencang sekitar 50 km/jam. Waktu kami protes kenapa kendaraan tidak melaju dengan cepat, sang tour guide menjelaskan bahwa batas maksimum dalam kota memang hanya segitu. Berani ngebut bisa berujung dengan ditilang dan pencabutan SIM selama sebulan.  Kendaraan baru yang kami sewa seharga Rp 600rb untuk bepergian hari itu membawa kami menyusuri perjalanan lengkap dengan itinerary-nya. Menuju Mui Ne kami disuguhi perkebunan buah naga yang tersebar di pinggir jalan.

 

Persinggahan pertama adalah Posahinu Temple atau Thap Poshanu (bingung ah nulisnya), yang terletak di atas bukit gersang. Dari candi dapat dilihat pemandangan indah menuju laut lepas yang biru. Dibangun pada abad ke 8, oleh para penganut Brahmans. Karcis masuknya murah, 5rb VND. Sebelum masuk ada sebuah bangunan Cham Traditional Profession Service and Souvenir Shopping Mall untuk para pengunjung.  Seperti in jalan menuju candi yang terlihat gersang. Sumpah, puanaas banget!

  

Bangunan candi tersebut tergolong sangat sederhana dan tidak tinggi. Ada 2 bangunan yang masih kokoh, hasil renovasi. Sisanya berupa batuan sisa pondasi. Lengkapnya bisa dibaca di http://www.muinebeach.net/thapposhanu.htm. Saya yang baru saja mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan terkagum-kagum dengan promosi pariwisata Vietnam.

Setelah makan siang di Lam Tong Quan, kami menuju destinasi berikutnya yaitu  Fairy Stream. Tidak ada biaya masuk ke dalam lokasi. Awalnya sih ga menarik sama sekali. Kami berjalan kaki menyusuri kali kecil dengan air berwarna coklat, orang Sunda biasa bilang bebecekan dina gawir. Di sisi rerumputan tak jarang ditemui kotoran sapi😦. Tak lama kami disuguhi pemandangan menarik. Di bagian kiri terdapat red canyon, campuran pasir putih dan merah yang memberi efek sensasional. Sebuah pemandangan yang cantik meski rawan longsor.  Di bagian kanan, ada beberapa tempat singgah yang menawarkan minuman dan pengalaman untuk mengendarai ostrich. Kami berjalan selama sekitar 20-30 menit menuju air terjun. Saya menebak, jangan-jangan air terjunnya cuma seuprit seperti di Thailand, ga taunya.. bener, hahaha… Tapi gapapa deh, itung-itung olahraga di jam 3 sore😀

  

Lanjut menyusuri jalanan kota Mui Ne yang difasilitasi resort mewah. Bersih, asri, dan hijau. Hampir sama dengan Bali, bedanya tidak ada pedagang asongan yang memaksa untuk membeli dagangan. Benar-benar tempat yang indah untuk relaksasi.  Di tengah perjalanan, para anggota banci kamera menyempatkan diri dengan foto pelabuhan ikan dari pinggir jalan. Bentuk perahu nelayan mereka lucu, agak membulat beda dengan bentuk perahu secara umum.

   

Tidak lengkap berkunjung ke Mui Ne tanpa menyempatkan singgah ke Red Sand Dunes yang lebih kecil luasannya. Tetapi tetap merupakan site yang patut dikunjungi walau sejenak karena terletak di pinggir jalan dan tidak ada biaya restribusi. Kami kembali berolahraga mendaki gurun demi eksis di depan kamera *kapan lagi soalnya?*. Banyak anak-anak yang menawarkan perosotan plastik supaya bisa meluncur, tapi malu ah.. udah tua😀. Setelah berpose sesaat , kami pindah lokasi menuju White Sand Dunes yang terletak kurang lebih 20 menit perjalanan dengan kendaraan untuk menikmati sunset.

White Sand Dunes atau Bao Trang (White Lake) merupakan site paling top selain pantai di Mui Ne. Lengkapnya bisa diakses ke http://www.muinebeach.net/whitesanddunes.htm. Kali ini tidak ada biaya masuk juga. Letaknya agak masuk dari tempat parkir, kurang lebih 200m. Di sekitarnya diapit pepohonan pinus dan danau yang saat itu surut.  Ada 3 danau yaitu Bau Ong, Bau Ba, dan Bau Xoai. Menjelang sore banyak sekumpulan keluarga Vietnam yang piknik di padang pasir. Ada pula penyewaan ATV untuk berputar-putar mengelilingi gurun, kalo jalan kaki.. gempor soalnya. Yang jelas menarik sekali berada di sini, serasa berada di gurun pasir *emang iya*, maksud saya seperti di Timur Tengah.  Mungkin kendala SDM, kamera, dan teknik foto yang kurang canggih tidak dapat merepresentasikan keindahan Mui Ne secara utuh. Yang pasti.. indah!

9 thoughts on “The beauty of Mui Ne

  1. Ping-balik: Malang Part 3 : Coban Rondo – Songgoriti « written minds

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s