Mencicip makanan ala Vietnam

Menyambung tulisan sebelumnya, selama perjalanan kami pun ‘terpaksa’ menerima makanan apa adanya. Biasanya tiap pagi selalu kebagian 3 potong roti beserta dadar telur, selai, dan pisang cavendish. Tapi berhubung orang Indonesia apalagi wong ndeso, perut saya kurang cocok diisi sarapan yang demikian. Masalah halal atau tidak pastinya jadi keutamaan pemilihan menu, tapi kesulitannya makanan halal lumayan sulit ditemui di tempat-tempat selain yang dihuni kaum muslim minoritas.

Di perjalanan pertama menuju Mui Ne, kami singgah di sebuah restoran sederhana di tepi laut. Namanya Lam Tong Quan, di Phan Thiet. Resto ini menyediakan berbagai jenis fresh seafood seperti ikan, udang, lobster, cumi,  dan kepiting tetapi menu daging pun tetap tak terlewatkan. Maka pilihan saya adalah nasi plus tumis udang dan sayuran seharga 40rb VND (semoga alat masaknya aman) ditambah teh vietnam  seharga 1000 VND yang rasanya setengah-setengah. Mungkin teh hijau encer. Berhubung terjadi keributan saat memesan minuman antara teman seperjalanan dan pelayan, maka segelas banana shake yang sudah jadi dan kelebihan pesanpun saya minum. Walhasil saya batuk tak berhenti dan kehabisan  suara *lagian.. sok gaya*

Setelah berkelana di Mui Ne, dalam perjalanan menuju pulang kami singgah di restoran Hung Phat 1 di Chi Nhanh, Mui Ne. Lagi-lagi kami bingung, karena tidak ada label halal di sana. Ada pilihan sweet & sour soup with fish (canh chua ca) seharga 30rb VND dan seafood noodle soup (hu tiu hai san) seharga 40rb VND. Setelah makan, saya baru ngeh.. semoga kuah mie-nya bukan dari kaldu daging babi. Dan tiba-tiba saya langsung ga enak ati, waswas.. Duh, perkara model inilah yang suka bikin stres di perjalanan. Oh, iya.. tissue yang disediakan di meja saji rata-rata tidak gratis, dihargai 2000 VND.

Perkara kebingungan masih berlanjut saat kami keliling HCMC. Sebenarnya ada tempat makan murmer di pojokan seberang War Remnants Museum, tapi agak meragukan. Jadi kami memilih resto Nha Toi yang persis terletak di sebelah museum dengan harga yang relatif lebih mahal. Tapi dipikir-pikir yang ini juga masih meragukan. Meski yang dipilih akhirnya hanya egg fried rice seharga 45rb VND dan seporsi salad letuce+bawang bombay+tomat seharga 39rb VND. Bismillah, ga jauh-jauh dari nasi goreng deh kayaknya 😀

Urusan makanan yang ga jelas  dan bikin khawatir ini diakhiri saat kami mengikuti full day tour ke Cu Chi tunnel. Sang pemandu mengarahkan rombongan menuju salah satu resto menuju Cu Chi, namanya Kieu. Pilihannya kembali ke fried fish with steamed rice dan sweet & sour fish soup. Dalam asumsi kami itulah yang paling aman, karena minyak hewan jika dicampur ikan pasti rasanya ga akan enak. Soal rasa sih standar. Kuliner Vietnam bisa dibilang tidak berasa sama sekali. Modal bumbu ikan goreng mungkin hanya cocolan sambal rajangan rawit dan kecap ikan. Sementara untuk sop ikannya, hmm.. masih kalah jauh sama gangan belitung atau sop ikan batam. Pokoknya Indonesia is still the best!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s