Kuliner halal di Ho Chi Minh City

Menemukan makanan halal di negara non muslim ibarat berjumpa oase di padang pasir. Suatu kebutuhan mutlak yang sensasinya melambungkan hati dan mengenyangkan perut sampai ke awang-awang. Bagi sebagian muslim yang bertipe all you can eat atau dalam kondisi darurat mungkin bisa memilih menu vegetarian, ikan, ayam atau yang penting bukan daging babi. Hanya saja pasti kita dicemaskan dengan proses memasak dan peralatan dapur yang digunakan. Di Vietnam, akan sulit menemukan resto 100% halal kecuali di beberapa tempat.

Kepergian ke Vietnam yang serba dadakan dan buru-buru membuat saya tidak sempat untuk browsing kuliner di sana.  Saya hanya mengandalkan info dari seorang trip organizer yang memang terbiasa berkelana, bahwa makanan halal banyak berada di sekitar area district 1, yang utama di dekat mesjid. So far, moga-moga aman selanjutnya.

Hari pertama sesaat setelah tiba di penginapan, kami langsung keluar lagi untuk makan malam yang terlambat. Dari hasil menyusuri  Duong (jalan) Bui Vien, ada beberapa pilihan yaitu resto Little India, Istambul, dan satu lagi di ujung jalan yaitu Akbar Ali. Setelah sempat salah kira (komunikasi ga nyambung) dengan pelayan resto kebab ala Vietnam -tidak bisa diprediksi daging apa yang digunakan-, akhirnya kami memilih  Little India yang terletak agak masuk ke dalam gang kecil. Posisinya di sebelah kiri jalan Bui Vien dari arah resto Saigon di pojok jalan.

Pelayan resto yang muda, ramah, hitam manis dan berwajah ganteng itu menyambut kami dengan gaya Indianya yang khas. Faisal yang asli Kalkuta mempersilakan kami untuk makan berbarengan (baca: ngirit).  Ada seporsi besar fried rice with egg (waktu itu bisa dimakan berempat) seharga 50rb VND, vegetable biryani (porsinya agak kecil) seharga 40rb VND, dan chicken curry (isinya hanya 4 potong kecil daging ayam) seharga 62rb VND. Over all, makanan India buat yang lidahnya cocok dijamin enak. Sementara lainnya memesan air mineral, saya memilih secangkir kecil Indian masala tea (chai)  –brewed with ginger, cinnamon, and green cardamon– seharga 15rb VND. Rasanya lebih hambar dibanding Thai tea, manis jambu tapi rempahnya terasa.

Di hari ketiga di sela-sela keliling HCMC dengan berjalan kaki di bawah panas terik (kan ceritanya backpacker..), sendiri saya menyempatkan diri untuk mencari mesjid di Duong Dong Du. Saya berpisah dengan rombongan di Opera House. Modalnya hanya peta dan info bahwa mesjid terletak di sebelah hotel Sheraton, dan voila.. ketemu! Duong Dong Khoi dan Dong Du merupakan area highclass-nya HCMC.

Sejujurnya sebelum berada di mesjid, saya tidak tahu bahwa banyak restoran halal yang bertebaran di sekitarnya. Salah satu yang paling mencolok berseberangan dengan mesjid adalah resto bercat merah yang bertuliskan Halal@saigon, kolaborasi masakan Vietnam & Malaysia. Liputannya banyak dimuat di berbagai web, antara lain…

  1. http://ranselkecil.com/makanan/mencari-santapan-halal-di-ho-chi-minh-city
  2. http://www.sendokgarpu.com/articles/yang-halal-di-saigon/391/
  3. http://kokifrustasi.wordpress.com/2010/03/23/makanan-halal-di-ho-chi-minh-city/
  4. http://food.detik.com/read/2011/02/09/115110/1567620/1021/ho-chi-minh-city-di-

Selain Halal@saigon, di sebelahnya juga ada restoran Bombay, Indian halal food, resto Mi Nhat Dragon Noodle, Pizza, dan Malee Thai (yang ini saya kurang tau infonya). Sementara persis di sebelah mesjid ada juga resto Malaysia lainnya, Nyonya.

Menurut info ada juga Restoran D’Anjung Malaysia terletak di tingkat tiga mall Parkson di Jalan Le Than Thon dan tidak jauh dari  Opera. Restoran Bon Mua yang terletak di Jalan Thi Sach, di ujung persimpangan Jalan Dong Du. Restoran VN Halal  terletak di Jalan Pham Hong Thai dan tidak jauh dari Pasar Ben Thanh. Tapi semua yang disebutkan tadi tidak berhasil saya temukan… 😦

Keesokan harinya di Halal@saigon, setelah shalat jama’ dzuhur dan ashar saya dan seorang teman menyempatkan diri untuk bersantap di sana.  Saya semangat untuk menikmati kuliner khas Vietnam, pho bo  seharga 60rb VND setelah bolak-balik ngiler melihat restoran Pho2000 (Pho for President) di pojokan Ben Tanh. Rasanya? Menurut versi saya yang tergolong ga suka bumbu sih hambar. Porsinya cukup besar buat orang yang ga doyan makan, hehe.. tapi tetep harus habis, mubadzir nantinya..

Menu lainnya adalah fresh shrimp spring roll (gui cuon tom) seharga 80rb VND untuk 4 potong. Rasanya? Wah.. ngga lagi-lagi deh. Panik bagi saya buat menelan satu potong spring roll sepanjang kurang lebih 12 cm. Meski dicocol bumbu, tetep aja penuh perjuangan untuk menelan karena isinya -yang terdiri dari vermicelli, tauge, daun mint, fresh basil- mentah semua kecuali udang rebusnya. Akhirnya saya menyerah dan sisa 3 pcs  saya berikan kepada resepsionis hotel. Mendadak saya rindu orang loenpia Semarang :D.

Makan siang terakhir di HCMC saya sempatkan di resto Istambul, sebuah Turkish restaurant yang menyediakan kebab dan teman-temannya. Sang pemilik  yang berpostur tinggi besar ternyata baru tinggal di HCMC selama setahun lebih. Meski menunya tidak banyak variasi, saya memilih rice doner seharga 80rb VND yang dimakan berdua karena porsinya banyak (bilang aja udah ga punya dong lagi) dan hot coffee milk vietnam seharga 15rb VND. Pilihan ngupi ini tergolong maksa banget, karena saya ga doyan kopi tapi ngotot mencoba. Meski akhirnya bolak-balik minta ditambah air panas karena terlalu kental dan diminum bertiga. Pojok kopi yang terkenal ada di warung Trung Nguyen dengan skala (pahit atau kental?) 1-5, secangkir seharga 30rb VND.  Tapi yang ini ga saya jajal, takut ga bisa tidur..hehe

Saya jadi ingat, sempat berkelakar dengan atasan yang jago masak bahwa jika ia tersesat dan kehabisan uang di negeri orang, ia akan membuka warung makanan dan dipastikan bakal laris karena masakannya enak. Saya boleh melamar jadi tukang cuci piring atau kasir, hehe.. Rasanya masih terbuka kesempatan lebar untuk merintis restoran masakan Indonesia di HCMC. Ayo siapa yang mau mulai? Dijamin laris. Banyak orang Indonesia yang melancong ke Vietnam kok…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s