Hujan turun hanya sesaat

Seumur-umur, baru kemarin ini saya menyaksikan ‘keganasan’ alam. Hari senin, tanggal 14 Februari suasana kampung halaman di Cangkringan awalnya cerah saat pagi hari. Menjelang siang, langit berubah mendung. Saya sedikit waswas karena sore jam 17.25 adalah jadwal penerbangan saya untuk kembali ke Jakarta. Artinya saya harus keluar rumah paling telat pas ashar.

Tiba-tiba jam 14.00-an hujan turun dengan derasnya, disertai angin kencang yang meliuk-meliuk di atas kami.  Putaran angin itu mendorong gugusan pohon salak yang berada di depan rumah, seperti diterjangkan ke arah kami. Tetesan air hujan mulai membasahi isi rumah, genting rumah bocor. Guyuran air hujan seperti ditumpahkan dari langit, halaman mulai banjir meski tak terlalu tinggi. Teringat mobil yang sedang diparkir di halaman yang dipenuhi pepohonan, kami segera memindahkan ke tempat yang lebih lapang. Anak-anak yang semula sedang bermain ceria, mendadak terdiam dan berkumpul di tengah rumah. Kami berdoa memohon perlindungan. Saya pasrah.

Sekitar 20 menit kemudian, angin puting beliung itu berangsur menghilang. Menyisakan pohon-pohon yang bertumbangan di banyak lokasi. Di tempat kami semula memarkir mobil ada 3 pohon yang tumbang. Untunglah mobil sudah dipindahkan. Hujan masih turun tapi tinggal rintik-rintik, kami mulai berbenah.

Menjelang pukul 15.00 hujan mereda. Sang putra sulung menengok kondisi makam ibu yang dikhawatirkan amblas karena masih baru. Ia kembali dengan mengabarkan kondisi makam yang baik-baik saja. Tetapi  di sisi lain ada sebuah mobil sedan yang terbawa arus sungai saat hujan deras tadi. Tidak diketahui apakah sang pengemudi selamat atau tidak, tapi mungkin hanya mobil saja yang terhanyutkan. Kabarnya mobil berada di pinggir aliran saat terjadi banjir lahar dingin yang membawa bebatuan besar dan pasir dari arah gunung Merapi.

Setelah dirasa cukup aman, saya bergegas untuk berangkat ke bandara dengan mengendarai motor. Alasannya efisiensi waktu dan dikhawatirkan jika banyak pohon tumbang, mobil malah tidak bisa lewat. Saya masih berharap bisa terbang tepat waktu karena alasan kesehatan.

Dalam perjalanan, kami melewati rangka rumah shelter (hunian sementara) bagi para pengungsi yang terletak tak jauh dari tempat kami. Ternyata huntara itu terkena banjir akibat luapan kali kecil yang terletak di sekitar rangka rumah. Rasanya tata letak rumah shelter tersebut harus dipertimbangkan kembali agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan yang berkelanjutan bagi para pengungsi.

Hujan itu  hanya turun sesaat, tapi cukup banyak kerusakan yang ditimbulkan. Ciut hati rasanya jika menyaksikan keganasan alam. Manusia yang kecil dan kerdil ini tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya memohon keselamatan pada Sang Maha Pencipta. Dan semoga orang-orang yang ditimpa bencana diberi kesabaran dan kelapangan hati untuk menerima ujian ini. Insya Allah segalanya pasti yang terbaik.

Iklan

5 thoughts on “Hujan turun hanya sesaat

  1. Subhanallah…
    Hanya sebentuk kecil geliat alam, sudah mampu memporak-porandakan kehidupan… Semoga manusia bisa mengambil hikmah atas kejadian yang telah ditetapkan Allah Ta’ala 🙂

    =>Saya juga sudah memasang link blog ini di blog saya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s