Ibu mertua

Pagi sebelum subuh, telpon berdering. Suami membangunkan saya dan minta dicarikan tiket pulang ke Yogya. Saya sedikit curiga, karena keluarga besar hanya mengharuskan kami untuk segera pulang tanpa memberi alasan.  Saya kira ada sesuatu dengan Bapak yang memang dari kemarin bolak-balik masuk rumah sakit. Tak lama kami mendapat kabar duka, Ibu mertua *tapi saya lebih suka memanggilnya Ibu saja* berpulang.

Ibu  yang saya kenal  sekitar 10 tahun lebih ini, dengan frekwensi pertemuan yang bisa dihitung jari -mungkin  hanya 30 kali kami menginap di kampung halaman- adalah seseorang yang paling bisa saya ajak bicara. Mungkin karena Ibulah satu-satunya penghuni keluarga yang tidak pendiam. Waktu pertama berjumpa, saya terkejut karena pembawaan dan wajah Ibu paling berbeda sendiri di antara anggota keluarga lainnya. Ternyata ibu adalah ibu tiri kami.

Meski kami bukan anak-anak kandungnya, tapi cinta Ibu kepada kami terlihat tulus. Ibu merawat anak-anaknya semenjak adik bungsu suami yang seumuran saya masih berusia 7 tahun. Ibu juga terlihat sangat mencintai bapak, lelaki pendiam berwajah ganteng, seorang duda 4 anak yang ditinggal istrinya karena sakit. Begitupun cinta ibu terhadap para cucunya. Alami sekali.

Ibu dan pihak keluarga besarnya membawa warna tersendiri dalam keheningan keluarga inti Bapak. Saya begitu takjub melihat adik-adik Ibu dan keluarganya yang tiap tahun saat lebaran selalu mengunjungi kami di kampung bermobil-mobil dengan suasana keakraban yang terlihat seperti apa adanya. Sebuah nuansa yang menggambarkan bahwa dengan hanya berbekal ikatan perkawinan, kami *termasuk saya yang orang luar* saling mendekat satu sama lain.

Ibu adalah seseorang yang selama ini membuat saya nyaman dalam suasana asing. Ibu yang suka membantu saya menerjemahkan bahasa Jawa saat saya kebingungan don’t know what to say. Dengan Ibu saya tos-tosan karena sama-sama tidak bisa mengendarai sepeda motor, suka tarik ulur jika harus mandi dengan air yang super dingin atau biasanya mandi kilat, ledek-ledekan daster butut, dan tukang masuk angin sampai mengeluarkan bunyi sendawa yang keras.

Saya tahu rasanya mungkin Ibu sedikit kecewa karena saya menantu perempuan yang tinggal satu ini tidak mengerti unggah-ungguh khas Jawa, tidak bisa berbahasa Jawa baik ngoko ataupun boso, dan hadir dengan tipikal tidak seperti perempuan Jawa umumnya. Saya mengecewakan ya, Bu? Maafkan saya, Bu… Saya sayang Ibu.

Sejujurnya tanpa Ibu, saya merasa tambah kesepian di tengah keasingan & kesunyian suasana pulang kampung. Saya tahu juga, bahwa sebenarnya Ibu tidak sehat tapi ingin selalu menjaga Bapak yang sudah tambah sepuh. Tapi ternyata, Allah lebih sayang Ibu. Dan Bapak juga terlihat sangat tegar dan ikhlas. Ibu tak perlu khawatir.. masih ada kami.

Selamat jalan, Ibu tersayang. Semoga Allah memberi pengampunan atas segala kesalahan, menerima segala amal kebaikan, dan melapangkan jalan Ibu menuju Sang Khalik..

Iklan

6 thoughts on “Ibu mertua

  1. Innalillahi … semoga almarhumah diterima di sisi-Nya. Jika teringat ibu, hati ini meleleh. Ibu, apapun status mereka (kandung dan tiri) tetaplah perempuan yang luarbiasa. Salam kenal, Teh …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s