Mengantar Puk jalan-jalan

Puk itu temannya sahabat saya, si jeng YR yang saya temui di Rangsit. Nama aslinya, Nutcharat Tuntiwigit. Seperti biasa kebanyakan nickname orang Thai suka jauh dari aslinya. Puk tipikal orang serius, bermuka mulus, bisa membaca garis tangan, tidak banyak bicara, tapi baik hati dan helpfull. Kemarin ini dia datang ke Indonesia karena instansinya turut serta dalam suatu pameran di JHCC.  Setelah acara selesai dan ia menginap di rumah YR, kami berencana untuk membawa Puk berwisata rohani ke candi Borobudur dan sekitarnya. Kesempatan .. rasanya ini kali ke dua saya pergi ke Borobudur (dulu pertama kali perginya sewaktu masih SD deh ..)

Kami pergi berombongan. YR membawa serta ayah dan bocil keponakannya. Di Yogya, kami menyewa mobil plus sahabat lama saya yang berfungsi sebagai supir, guide, tukang foto, tukang pijit, dan tidak dibayar, haha… Perjalanan saya dari Jakarta ke Yogya diawali dengan delay-nya Lion Air, dimana seharusnya tiba jam 16 molor sampai jam 18.30.. hm, cakep!  Dilanjutkan dengan menunggu rombongan kedua yang tiba pukul 21, kemudian berputar-putar mencari makan di pinggir jalan yang kurang enak saat rasa lapar dan ngantuk sudah bercampur ga jelas. Sampai di wisma Kunthi jam 22-an, bergegas menggeletak tak berdaya siap-siap recharge tenaga untuk jalan keesokan harinya.

Pagi setelah sarapan dan check out dari penginapan, kami jalan-jalan sebentar ke benteng Vredeburg sambil menunggu seorang kolega yang kami hasut untuk kabur bersama, Bu Nto. Setelah itu meluncur ke alun-alun kidul. Mencoba peruntungan berjalan dengan mata ditutup menembus dua pohon ringin besar. Seperti biasa, nyasar abis.. rasanya udah jalan lurus ternyata miring jauh ke kanan. Jadi kami saling menertawakan satu sama lain. YR yang punya 6th sense bilang, ada kekuatan yang mendorongnya melangkah ke arah yang berbeda. Saya sih ga maulah tutup mata.. curang-curang dikit. Ogah banget dibelokin ama mahluk yang ga keliatan.

Tak lama di tempat itu, kami segera berlalu ke arah selatan menuju pantai Parangtritis. Ya ampun, ini juga udah berapa lama ga pernah saya kunjungi. Karena bukan hari libur, jadi terasa sepi. Biasa aja sih. Kalau dibandingkan dengan Pattaya dan Phuket yang berpasir putih, Parangtritis jadi terlihat tak terawat. Harusnya Puk kami ajak ke Lombok atau Bangka Belitung kali ya. Saya pribadi pengen banget mengunjungi pantai-pantai lain yang jauh lebih indah di DIY, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Setelah jeprat-jepret sebentar kami segera meluncur ke arah Magelang menuju candi Borobudur.

Tiba di obyek wisata candi Borobudur, dan ikut berputar dengan kereta wisata *siapa juga yang mau panas-panas di siang bolong gitu?*, kami bertiga para cewek cemen memutuskan untuk ngaso di pelataran sambil jeprat-jepret aja. Puk diantar sopir plus-plus kami dan si bocil berkeliling naik turun candi *kan mau wisata religi*. Sementara si ayah, memilih untuk duduk di pelataran parkir lantaran ga kuat jika berjalan jauh. Setelah shalat dan makan siang di warung makan khas ikan di daerah Muntilan *namanya lupa* disertai beli oleh-oleh ulekan batu, kami segera meluncur ke arah timur menuju Solo.

Di Solo, mereka langsung menuju pasar Klewer sementara saya,  sopir plus-plus, dan si ayah memilih shalat ashar terlebih dulu di mesjid agung. Masuk ke pasar, ternyata sudah banyak toko yang tutup jadi kami hanya berkeliling di sekitaran pasar, beli sawo dan cari cemilan serabi di pinggir jalan. Meninggalkan jejak sesaat di kraton Solo yang juga sudah sepi untuk foto-foto, lalu beranjak ke rumah bu Nto untuk singgah sebentar. Untuk mengganjal perut, kami pergi ke kedai susu murni yang juga menjual nasi kucing di pinggir jalan. Total makan malam kami bertujuh, tak lebih dari Rp 100ribu. Porsi segitu buat saya sih cukup, tapi kalau untuk cowok kurang nendang kali ye..

Entah karena habis didopping segelas STMJ, tiba-tiba sang sopir melajukan mobilnya dengan sangat kencang sampai tidak mengenal rem. Saya yang sudah mengenal keahlian menyupirnya sih tenang dan senang aja karena artinya kami akan sampai di Yogya dalam waktu lebih singkat. Kami tidak kembali ke penginapan semula, tapi memilih hotel Kumbokarno yang kebetulan family roomnya tersedia. Setelah check in, YR dan Puk memilih berburu batik di Malioboro, sementara saya menyerah teler. Kali ini pak sopir mentreatment si ayah dengan pijatan menyeluruh  sehingga tertidur pulas. Ga kebayang deh capeknya si plus-plus ini, saya aja yang dari tadi duduk manis udah remuk redam ga keruan.

Paginya setelah bersegera packing, kami segera menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya sempat berputar-putar untuk mencari oleh-oleh bakpia dan menunjukkan spot-spot wisata  di tengah kota yang terlewat seharian kemarin. Kami juga menunjukkan gunung Merapi  kepada Puk yang sebulan kemudian mengalami erupsi. Sayang sekali tidak banyak waktu yang tersedia untuk menjelajahi banyak tempat. Selain mengantar turis asing berjalan-jalan ternyata saya juga bisa ikut menikmati perjalanan yang selama ini belum pernah saya lakukan. Hehe, woii.. kemana aja?

Iklan

2 thoughts on “Mengantar Puk jalan-jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s