Cinta berbalas tipuan

Hmm.. sebuah judul yang agak didramatisir, tapi nyata. (Tadinya) dimulai dari  kisah cinta biasa yang akhirnya berujung dengan tindakan tak berbudi dalam level tingkat kriminal yang masih bisa “dimaafkan”.

Berawal dari sebuah perkenalan jejaring sosial anak muda, akhirnya muncul komitmen berpacaran antara lelaki A dan wanita P. Hubungan mereka berlangsung cukup serius dengan saling memperkenalkan keluarga masing-masing bahkan menjurus ke arah pernikahan.

Konflik dimulai ketika keluarga sang wanita mulai curiga, bahwa A mendominasi pemakaian barang maupun uang milik P dan kakak sulungnya, Y. Sang kakak memang mempercayakan pengaturan uangnya pada P sementara ia tinggal di luar negeri. Ketika pulang, Y kaget mendapati tabungannya ludes dan barang-barangnya lenyap gara-gara dipinjam oleh A. Y begitu kesal karena P seperti kerbau dicocok hidungnya, mau saja menuruti permintaan A.

‘Pengeretan’ A terhadap P dan Y lebih menjadi-jadi, setelah ayah si A meninggal dunia.  A berkata bahwa sang ayah meninggalkan hutang usaha yang cukup banyak sehingga ia harus bertanggung jawab untuk melunasinya. Semula keluarga sang wanita memaklumi jika niat A hanya meminjam sementara, karena berpikir toh A akan menjadi bagian dari hidup mereka.

Tapi sepertinya A jadi orang yang tak tahu diuntung. Sudah ditolong malah menikam dari belakang, dan orang yang jadi sasaran empuk adalah Y (orang yang paling ‘kaya’ di antara mereka) melalui kelemahan rasa cinta sang adik kepadanya. P seperti tersihir oleh segala request A. Meski properti itu bukan milik pribadinya, dengan suka rela ia serahkan. Y marah besar.

Gemas dengan sikap P yang bergitu penurut, pihak keluarga membawa P kepada ‘orang pintar’. Intinya si orang pintar berkata bahwa P memang berada di bawah pengaruh ‘sihir’ A, lalu dilakukan ‘pencucian’ sampai akhirnya pernikahan yang direncanakan tahun lalu dibatalkan. P berangsur-angsur bisa menjauh dan dijauhkan dari A. Namun banyak properti Y yang masih berada di tangan A.

Tapi apakah setelah itu masalah selesai? Ternyata seperti judul di atas, tak sesuai janjinya yang ingin melunasi hutang dengan tempo yang sudah ditentukan, A malah melakukan penipuan. Ia membawa kabur puluhan juta rupiah, motor baru, dan mobil Mazda matic. Ia memberikan alamat palsu pada calon kakak iparnya, mematikan no handphone-nya, dan menghilang.  A tak bisa dilacak. Pengejaran masih dilakukan dan semoga A segera tertangkap. Sedangkan bagi Y semoga ia bisa lebih bersabar dalam hal ini, dan Allah menggantinya dengan rezeki yang lebih baik.

Hikmah utama dari cerita ini adalah masalah kepercayaan. Kita tak bisa begitu saja mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Rasa cinta memang bisa membutakan apapun di depan mata, tapi ini memang keterlaluan. Beruntung *pasti yang ngomong orang Indonesia* hal ini terjadi sebelum pernikahan dilaksanakan. Semua sudah ‘dibukakan’ dari awal dengan jelas agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s