Berbagi bahagia

Rasanya baru kemarin saya menumpahkan rasa dan keinginan untuk bertemu kepada seorang teman yang sedang dilanda depresi, si A. Kangen sekali ingin bersamanya. Saya sudah berancang-ancang untuk menemuinya dalam waktu dekat, meski dilanda perasaan ga enak karena harus menjenguknya dalam keadaan yang tidak sehat. Do you know what I mean kan? Tapi kali ini saya mendapat berita bahagia tentangnya. Mumpung masih hangat, jadi harus segera diekspresikan..

Ia telah membaik. Dan satu lagi kabar bahagia adalah ia baru saja dikaruniai seorang bayi di awal Desember, anak ketiga. Rupanya itu alasan mengapa ia terlihat sedikit gemuk, loyo, dan pucat saat kami bertemu dahulu. Menggembirakan karena akhirnya ia sendiri yang datang mengunjungi B yang saat ini kebetulan sedang sakit. B gembira sekaligus terheran-heran melihat ia hadir dengan keceriaan dan senyumnya dahulu. Mereka berbagi cerita, bertanya kabar tentang teman-temannya termasuk tentang saya. Bahkan A bilang, ia ingin sekali bisa mengunjungi saya di sini.

A bercerita, ia kembali punya semangat untuk menyelamatkan hidupnya dan anaknya saat si kecil lahir. Sejak saat itu kondisinya berangsur pulih dan lebih sehat. Meski statusnya masih tak jelas, belum bisa bertemu kedua buah hatinya, dan sang suami pun belum menengok si kecil, ia tetap optimis. Kami bersyukur, Allah memberinya anak ke tiga yang menjadi pelipur lara, tonggak pembalik kehidupan di balik posisi ‘menggantung’nya. Ia juga jadi lebih semangat untuk mencari kejelasan statusnya, lanjut atau selesai.

B berharap agar A bisa melanjutkan hidupnya kembali dengan sang suami.  A sadar bahwa ternyata banyak anggota keluarga sang suami yang tidak suka dengan kesuksesan usaha yang mereka rintis (mungkin ini juga salah satu penyebab masalah). Kalau pilihan saya, siapapun yang terbaik. Tak perlu memaksa kembali ke semula jika memang tak mungkin. A masih cantik dan menarik, pasti masih banyak yang bersedia bersamanya. B bilang, kalau A punya stok calon suami, maka lelaki itu harus dikenalkan lebih dulu pada kami, biar bisa diterawang, haha.. Tapi apapun pilihannya, semoga A bisa melewati dengan baik.

Ah, saya jadi tambah rindu pada A.. ingin melihat senyumnya lagi (B bilang dari kemarin ia hanya tersenyum saat kami bilang kami menghawatirkannya), ingin menengok keponakan baru saya, ingin bertemu ibunya yang saya sayang dari dulu (ibu selalu welcome pada kami), ingin mendengar suaranya yang kecil seperti  cericitan tikus, hihi.. Entahlah, yang jelas saya bahagia sekali. Alhamdulillah, sudah dua cerita bahagia di bulan kedua ini..

*Girls, jangan-jangan giliran saya yang harus dijenguk kali ini?… main, dong!*

Iklan

2 thoughts on “Berbagi bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s