Depresi teman..

Kemarin-kemarin sepanjang kawasan industri di Cilegon, rasanya saya banyak menemukan orang tidak waras berkeliaran di jalan. Menyedihkan sekali melihat mereka berjalan tanpa pakaian lengkap bahkan telanjang, berpanas-panasan di terik matahari menyengat, kotor, acak-acakan.. yah, seperti lazimnya deskripsi orang tidak waras.. dan kebanyakan dari mereka adalah lelaki muda. Saya menduga dalam hati, kemungkinan mereka adalah orang-orang yang tak kuat mental saat harus bersaing mencari sumber kehidupan di industri-industri yang terletak di kampung halaman mereka. Sekali lagi, ini cuma prasangka saya pribadi..

Melihat mereka kemarin, saya seperti diingatkan kembali untuk menjenguk salah seorang teman sekolah yang kebetulan menderita depresi. Teman saya itu, sebut saja si A dahulu adalah gadis favorit di sekolah kami. Siapapun pasti mengenalnya. Wajahnya antik cantik menarik. Bukan cantik luar biasa, tapi karena mukanya unik dia terlihat berbeda. Perawakannya kurus, tinggi, rambut ikal, mata belo, bibir tebal.. keturunan timur tengah. Dengannya saya pertama kali saling mengenal saat ujian tes masuk sekolah. Dia juga baik hati, suka mentraktir dan meminjamkan barang-barangnya pada saya (tau banget kalau saya orang kampung yang kere)

Beberapa waktu lalu saya dikabari oleh teman lain, B yang tinggal satu kota dengannya.. bahwa  si A masuk rumah sakit, dan sempat dirawat karena depresi selama 2 minggu. Beritanya cukup mengagetkan. Ternyata menurut B, cerita tentang sakitnya A sudah menyebar ke seantero almamater. Jelaslah mereka semua mengenal perempuan favorit itu. A kabarnya seperti orang linglung. Berhari-hari murung, diam tanpa kata. Pernah bermain basket sambil tertawa-tawa sendiri di lapangan SMP-nya. Atau menghilang dengan alasan ingin menjemput si bungsunya ke sekolah, menunggu tanpa harapan. Jika diajak bicara, meski menjawab dengan benar matanya tak fokus. Dia seperti sedang asyik dengan pikirannya sendiri. Sok malaweung.. kata orang Sunda.

Ketika saya bersama B dan seorang teman mengunjunginya, setelah 17 tahunan tidak bertemu. Ia masih mengenali saya. Meski pucat dan sedikit gemuk serta tak mengurus badannya, ia tetap seperti A yang dulu saya kenal. Saya berpura-pura tak mengetahui apa yang terjadi. Kami mengobrol ini itu tapi sepertinya menjadi obrolan yang ga nyambung, ia kadang masih asik melamun sendiri. Saya jadi bingung untuk memulai pembicaraan. Untung ada ibu si A yang juga menemui kami saat itu.

Sang ibu yang terlihat masih segar di usia senja itu bercerita singkat mengenai kondisi anaknya. A mulai terlihat berbeda setelah pulang berhaji. A adalah prototipe orang tertutup yang jarang berbagi cerita. Rasanya ia memiliki masa remaja yang agak berwarna. Dalam versi sang ibu, ada sedikit ketidaksukaan dari pihak suami A yang menginginkan mereka terpisah. Akhirnya A  dipisahkan begitu saja dari suami dan kedua anak lelakinya, dikembalikan ke rumah orangtuanya dalam posisi tidak jelas dan tidak diberi nafkah. Kondisinya diperburuk setelah kepergian ayah tercinta sehingga A depresi berat dan harus minum obat penenang, dirawat sementara di rumah sakit. Keluarga besar A telah mengupayakan pengobatan medis dan alternatif agar A dapat pulih kembali.

Saya melihat A mengalami  depresi akibat kejadian kehilangan orang-orang yang dicintainya secara berturut-turut. Yang paling berat, pasti saat A tidak dapat menemui kedua anaknya lagi. Inginnya, kami sebagai teman masih bisa menolongnya. Sekedar menghadirkan wajah di depannya, agar ia tau masih banyak orang lain yang mendukungnya. Tetapi masalahnya hal ini  berkaitan dengan kondisi kejiwaaan seseorang. Kami tak ingin banyak orang yang tau tentang hal ini, dan A menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Bahkan kami juga mendapat statemen yang intinya bahwa “A yang dulu digila-gilai banyak lelaki, sekarang jadi gila..”

Bagi saya A tidak gila.. ia hanya mengalami tekanan batin yang dahsyat, yang suatu saat pasti akan berangsur baik seperti sediakala. Jika ia benar tak waras, dia pasti akan seperti orang-orang yang saya temukan kemarin. Dan saya sangat tidak mengharapkan hal itu.

Iklan

2 thoughts on “Depresi teman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s