On the job to Kudus

Menemukan web  http://wisatademak.wordpress.com/demak/ dan  http://pariwisatadikudus.blogspot.com/2010/01/mesjid-menara-kudus-masjid-menara-kudus.html (foto sebelah ini diambil dari situs no 2), membuat saya jadi terpanggil lagi untuk mereview perjalanan pekerjaan di bulan November 2008.  Kami berdelapan melewatkan 8 hari di kota Kudus yang tak terlalu ramai dalam rangka pemantauan kualitas udara ambien. Titik sampling yang dipantau di desa Loram Kidul (tempat pembuatan bandeng presto Pak Kumis aka Sari Rasa, yang menggunakan briket batubara) dan desa Jepang Pakis sebagai kontrol. Pekerjaan dimulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan tiga kali waktu pengambilan.

Awalnya kami berempat -para junior- mendapatkan fasilitas jalan darat dengan menggunakan mobil kantor. OMG, yang bener aja.. berapa jam yang harus ditempuh? 12 jam? Hehe.. tega bener ya, padahal kami akan berada di lapangan selama 8 hari dan itu membutuhkan ketahanan fisik yang cukup. Jangan sampai, belum sempat kerja sudah tepar duluan. Putar otak  hitung-hitung uang transport, ternyata kami masih bisa menggunakan pesawat menuju Semarang. Jika senior lainnya menggunakan pesawat Garuda, saya berdua dengan kolega perempuan memilih yang paling murah, sementara dua rekan lelaki lainnya tetap menempuh jalan darat. Nanti dari Semarang, kami menyewa mobil untuk menuju Kudus. Sementara satu mobil dari kantor membawa perlengkapan lenong eh  sampling.

Karena memilih penerbangan dengan tiket yang sesuai bujet, otomatis tiba lebih dulu dibanding rekan yang lain. Kami mendarat di Semarang pukul 11.00 WIB  sementara para senior baru take off jam 17.00 WIB ( ternyata malah delay 1 jam). Ditambah janji dengan mobil sewaan yang salah arti, sang guide plus-plus mengira kami baru landing jam 12 .. dan baru benar-benar dijemput jam 13-an. Kami sudah gerat-geret koper kesana kemari di bandara A. Yani yang cuma segitu-gitunya, kayak orang kebingungan. Persis seperti habis diusir mertua..  Baguuus… kebayang ga sih betapa resah dan gelisahnya saya? ..*lebay* Untung berdua, kalau sendiri? “gue amuk deh tuh orang”

Segera setelah sang penjemput datang sambil senyam-senyum minta  maaf, saya langsung nodong minta ditraktir soto semarang. Bodo ah..  Kami lalu singgah untuk have  lunch for a while, lalu mencari ide untuk menghabiskan waktu. Sang guide membawa kami untuk pergi ke Mesjid Agung Jawa Tengah, untuk sholat dan rehat plus foto-foto. Kemudian mengunjungi kelenteng Sam Po Kong di tengah terik matahari Semarang yang aduhai itu sebentar saja, sebelum kembali bergegas ke bandara untuk menjemput tim yang lain. Lumayanlah, pelipur lara atas kelelahan perjalanan dari pagi. Setelah itu bersegera menuju hotel untuk istirahat dan bersiap-siap pergi ke Kudus keesokan harinya

Sesampainya di tempat tujuan, kami langsung berkoordinasi dengan pemda setempat kemudian langsung menuju titik sampling yang dimaksud. Hari pertama hanya perijinan dan survey. Sisa waktunya, look around Kudus lah yaa..  Kami menyempatkan diri pergi ke Jepara berdesak-desakan berdelapan dalam satu mobil sampling (3 di depan, 5 di bagian tengah, dan barang-barang di belakang, haha..) demi berburu furnitur jati. Wah ibu-ibu kalap tuh! Termasuk saya yang akhirnya menghabiskan uang lumpsum untuk dibarter dengan  satu set kursi tamu jati..ckck, bagus! Selain itu kami menyempatkan diri pergi ke desa Troso untuk mencari kain tenun khas Troso, mahal juga ya ternyata.. 2 biji, bungkuus.. Tuh kan, belum apa-apa udah belanja.

Perkara makan di Kudus ini, rasanya dramatis juga buat saya. Saat makan siang kami singgah di RM Sari Rasa yang terkenal enak itu, ternyata perut saya nggak cocok dengan makanan garang asem yang pedes dan asam. Saya juga ga bisa menikmati soto kudus, soto dan sate kerbau, bebek, lhaa.. makan apa dong? Kacau nih..  Apa salah masuk tempat makan ya.. bukan resto yang terkenal, hehe.. gaya. Tapi ya sudahlah yang penting makan untuk mengumpulkan energi  sebagai bekal berhari-hari bekerja di lapangan. Untunglah tidak ada kendala berarti.

Pada sore hari selesai jam kerja biasanya kami berkeliling kota Kudus.  Iseng jalan-jalan di plasa Kudus, nongkrong di GOR Kudus – kebetulan saat itu sedang ada pertandingan sepak bola-.  Setelah keliling Kudus, keesokannya kami menuju kota Demak untuk mengunjungi mesjid agung Demak, berziarah ke makan sunan Demak, berputar-putar melihat ada apa saja di sana. Sempat pula beradu mulut dengan penjual mie yang ga cocok jadi penjual di area lesehan depan mesjid agung Demak (woo..bikin tambah gak nafsu makan).

Setelah Kudus, Demak, dan Jepara kami mengunjungi Colo Muria. Modalnya hanya papan penunjuk jalan dan tanya sana-sini. Ternyata lumayan jauh ya, kita menuju perbukitan ke arah utara. Suasananya dingin, asri, hijau. Kami menyempatkan diri untuk shalat di mesjid sunan muria, sebelum naik ke atas dengan menumpang ojek untuk berziarah ke makam Sunan Muria. Sepertinya perjalanan kami kali ini lebih condong ke wisata religi, sebagai pencerahan.. Meski ternyata setelah diingat-ingat kembali, kami malah belum mengunjungi mesjid menara Kudus dan makam sunan Kudus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s