Gemeretuk gigi

Sudah agak lama saya terheran-heran akan kebiasaan si bungsu saat tertidur.  Jagoan kecil itu hobi menggemeretukkan giginya (entah, apakah ini bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bukan?) saat tidur .. “kretek..kretek..” , seolah-olah ia mengunyah suatu benda yang keras. Sampai ngilu rasanya kalau didengarkan. Saking kerasnya, saya khawatir jikalau giginya patah? Lama saya perhatikan, ternyata hal itu terjadi cukup sering. Apakah hal itu merupakan suatu kelainan?

Seperti biasa, saya berguru pada mbah google tercinta berharap ada seseorang yang mau berbagi informasi tentang hal ini. Dan ternyata banyak sekali infonya.. saudara-saudara. Terimakasih  atas kesediaannya untuk saling berbagi cerita. Mungkin untuk sebagian orang, hal ini dianggap masalah biasa. Tapi pastinya bagi masyarakat kebanyakan, menjadi hal yang luar biasa. Yuk, mari kita lihat beberapa infonya di…

1. http://www.wartamedika.com/2007/12/bruxism-gemeretak-gigi-dikala-tidur.html

2.http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=727&Itemid=39

3.http://nasional.kompas.com/read/2008/01/11/18561898/Bruxism..Gigi.Gemeretuk.Sewaktu.Tidur

4.http://potooloodental.blog.com/2010/06/10/285/

dan banyak lagi deh dari berbagai sumber, baik yang terang-terangan copas (tanpa ada penjelasan sumbernya darimana) atau langsung dari situs kesehatan baik lokal maupun internasional. Tapi secara gamblang, saya copas artikel di bawah ini dari website wartamedika tahun 2007 (itu, cek TKP di no 1..) supaya bisa langsung dibaca :

=======

“Bruxism adalah istilah medis dari gemeretak atau beradunya gigi-geligi, yang terjadi tanpa sengaja dan terutama timbul disaat tidur. Penderita bruxism disebut bruxers. Ada juga yang menyebutnya bruxomania.

Penyebab bruxism tidak sepenuhnya dimengerti. Pada orang dewasa, faktor psikologi dianggap berperan. Faktor tersebut antara lain (MayoClinic,2007) :

  1. Kecemasan, ketegangan, dan stress.
  2. Kemarahan yang terpendam, atau frustrasi.
  3. Tipe kepribadian agresif, kompetitif, dan hiperaktif.

Sedang pada anak, bruxism dianggap berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi serta rahang. Tetapi, beberapa ahli juga percaya bahwa faktor psikologi mempunyai andil terhadap timbulnya bruxism pada anak.

Walaupun bruxism dilaporkan terjadi pada 30% anak, yang sebagian besar berusia di bawah 5 tahun, kebanyakan diantara mereka akan sembuh setelah gigi susu mereka berganti dengan gigi tetap (MayoClinic,2007).

Pada beberapa kasus, bruxism tidak disebabkan oleh keadaan psikologi atau kondisi gigi dan rahang, tetapi merupakan komplikasi dari kelainan seperti penyakit Huntington dan Parkinson. Beberapa obat antidepresi tertentu juga dapat menimbulkan efek samping bruxism, tetapi hal ini jarang terjadi.

Biasanya, bruxism ringan dan tidak menimbulkan komplikasi serius. Tetapi pada beberapa orang, bruxism bisa berat sehingga menimbulkan :

  1. Kerusakan permukaan gigi akibat seringnya dan kuatnya gesekan.
  2. Gangguan sendi rahang
  3. Sakit kepala
  4. Nyeri wajah
  5. Terganggunya tidur orang di sekitarnya.
  6. dll

Tujuan pengobatan bruxism adalah mencegah kerusakan gigi lebih lanjut, mengurangi nyeri akibat bruxism, dan mengurangi perilaku mengadu gigi semaksimal mungkin (MedlinePlus,2006).

Untuk mengurangi kerusakan gigi biasanya digunakan pelindung gigi. Alat ini terbuat dari bahan yang lunak. Dengan alat ini, gesekan langsung antar gigi atas dan bawah tidak terjadi.

Nyeri akibat bruxism dapat dikurangi antara lain dengan melakukan relaksasi dan pemijatan otot wajah dan rahang, bahu, dan leher, serta menghindari makanan yang keras seperti kacang-kacangan. Kompres dingin atau hangat juga dapat diberikan pada rahang yang membengkak.

Perilaku mengadu gigi atau bruxism kadangkala dapat dikurangi dengan manajemen stres, psikoterapi, mengubah perilaku (agresif, kompetitif, hiperaktif) dengan behaviour modificationbiofeedback, dll.

Referensi :

  1. MayoClinic (2007) : Bruxism/Teeth Grinding. Dikutip pada 18 Des 07. http://www.mayoclinic.com
  2. MedlinePlus (2006) : Bruxism. Dikutip pada 18 Des 07. http://www.nlm.nih.gov

======

Setelah membaca berbagai penjelasan tadi, saya mulai sok-sok beranalisis tentang sebab mengapa si kecil mengidap bruxism sambil mengamati susunan gigi geliginya dengan teliti. Hm.. rasanya tak ada masalah. Berbeda dengan si sulung yang dikaruniai gigi besar-besar dengan rahang yang sempit, yang dipastikan bakal membutuhkan kawat gigi di usia 12 tahunan. Si kecil masih dalam kategori masa pertumbuhan, mungkin ia bisa sembuh saat gigi susunya berganti gigi tetap. Atau jangan-jangan si kecil menderita tekanan psikologis atas ‘kegalakan’ emaknya? Masa sih Nak… mama kan baik hati dan tidak sombong lho 😀

Tapi ternyata.. penderita bruxism di keluarga kami tak hanya satu. Ada lagi mahluk tua yang juga hobi menggemeretukkan giginya ketika tertidur. Dapat dipastikan penyebabnya adalah kelainan pada rahang dan gigi yang berantakan. Di samping juga faktor psikologis antara lain kemarahan terpendam, kecemasan, frustasi, stres, halaaah.. kok banyak banget penyebabnya ya? Dan orang itu adalah.. saya..