Tipuu…

Begitulah, hidup butuh modal yang tidak sedikit (baca: uang). Saking kepepet akan kebutuhan ini itu, kadang orang berubah jadi tidak rasional, nekat, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Saya tak akan bercerita tentang tindak kriminal yang ekstrim, cukup yang ‘sederhana’ dan banyak terjadi menimpa sekitar kita. Penipuan…

Modus operandi penipuan banyak jenisnya. Yang sedang marak saat ini adalah via sms atau telpon. Kemarin-kemarin yang sedang naik daun adalah sms tentang ‘mama’ yang butuh uang/pulsa dan minta ditransfer via nomor tertentu. Ada juga orang yang mengaku-ngaku dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa anggota keluarga kita terjerat masalah narkoba atau mengalami musibah kecelakaan dan meminta sejumlah uang tebusan melalui nomor rekening bank tertentu. Masih ada lagi muslihat lama yaitu berita pemberitahuan pemenang undian berhadiah dari suatu produk yang ujung-ujungnya juga dimintai sejumlah uang pengganti. Penjualan barang secara setengah memaksa dan mengiba-iba dengan alasan keluarga sedang butuh uang atau sakit keras. Atau yang sedang marak di pusat perbelanjaan, ‘hipnotisasi’ calon konsumen yang mendapatkan hadiah kejutan melalui produk-produk yang dijual. Apa lagi ya? Yang jelas.. banyak sekali ide kreatif orang-orang kita ini demi meraih cita-citanya..

Kenapa saya jadi menceritakan hal ini? Mungkin hanya sekedar tersenyum pada diri sendiri saja, saat membaca status facebook seorang teman bahwa dia ditelepon orang dari pihak kepolisian bahwa anak laki-lakinya terkena masalah, padahal ia tak punya anak lelaki. Atau cerita teman lain yang dikirimi  sms bahwa sang ibu minta dikirim pulsa, padahal ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Atau ketika suatu pagi, saya mendapati sebuah kupon berhadiah dari sebuah produk makanan kecil yang memberitakan bahwa saya memenangkan mobil Toyota Yaris, hihi… tipu banget deh!

Tapi saat bebenah berkas-berkas lama tadi,  saya tidak tersenyum saat mendapati sebuah nota pembelian yang dibeli si dia sebelum menikah. Di situ tertulis harga untuk sebuah jam tangan berwarna kuning kinclong yang kabarnya berlapis emas made in Makkah (emang ada ya?) pada tahun 1997 seharga Rp1,8 juta. Apaa? 1,8 ? Saya ingat-ingat rasanya pendapatan saya saat itu hanya Rp 300ribu. Whoaa.. penghinaan, njomplang banget.

Meski sudah terjadi tapi tetep sebel banget liatnya.. iih! Tapi ya begitulah.. senyumnya.. seuri koneng aja deh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s