Menginjak bumi Kalimantan

Sebenarnya posisi hati saya sedang kecewa mode ON. Pasalnya impian saya untuk mengeksplorasi Banjarmasin harus ditunda dalam jangka waktu yang tidak jelas. Dibalik rasa kecewa yang dibawa hingga mimpi, saya berbaik sangka atas semua ketentuan tadi. Yup.. Banjarmasin adalah salah satu kota destinasi yang ingin saya singgahi sejak bertahun-tahun lalu. Hanya sekedar kebetulan jika orang terdekat saya lahir dan besar di sana, how do I know before I met him? Dan mungkin sebuah kebetulan juga kalau sahabat dekat saya yang lain sekarang bekerja di Kalsel. Itulah, akhirnya putaran tali tak jauh-jauh dari genggaman, hehe.. Niat semula, saya ingin menikmati perjalanan ala kadarnya *bilang aja ga punya duit lebih..*, naik turun angkot, menikmati kuliner khas, atau aktivitas apapun yang menyenangkan dengan bujet ditekan setipis mungkin.

Demi menyenangkan hati yang luka, akhirnya saya temukan tulisan lama per 21 April 2008 tentang perjalanan saya sebelumnya ke Kalimantan dengan beberapa bagian yang ditambah maupun diedit.. Sayang sekali, waktu itu saya tak menuliskan info perjalanan secara lengkap. Kalau sekarang ditanya kemana dan apa namanya, pastinya sudah tak ingat…

“Beberapa waktu lalu, setelah biasanya cukup dengan jaga kandang di kantor aja… saya dapat kehormatan untuk ikut serta sampling sungai dan sedimen dalam rangka pemantauan tambang emas tanpa ijin di Palangkaraya

Pertama ke Kalimantan, dimulai saat awal puasa tahun 2006. Di bawah terik panas di bulan Ramadhan kami bertujuh harus bertugas di Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur untuk uji udara emisi dan ambien. Alhamdulillah, cukup sehat untuk bertahan .. meski sempat batal puasa karena masuk angin akibat tubuh ga kuat menahan beban kerja (duh..).  Pengalaman pertama ini sempat membuat kapok, rasanya ga mau balik lagi karena waktu itu kami dalam posisi ‘hired’ dan tidak difasilitasi dengan akomodasi yang layak.. mentang-mentang kuli kali yee.. *sedih*

Tapi rasanya kekapokan itu segera berakhir, dengan tujuan pekerjaan yang berbeda akhirnya saya menginjakkan kaki  di Banjarbaru, Kalimantan Selatan tahun 2007. Saat itu pekerjaan saya cukup ringan hanya site survey dan koordinasi dengan kantor BMG . Sebelum pulang kami diantar menikmati keindahan batu alam di Martapura, jadi walaupun pulang pergi 2 hari cukup berkesan tapi sayang kurang lama, ga sempat bereksplorasi. Belum nemu makanan yang enak, belum pergi ke pasar terapung.

Kali ketiga adalah Kalimantan Tengah. Sebuah pengalaman mengasyikkan menyusuri sungai Kahayan. Tadinya kami berencana untuk naik speedboat, tapi berhubung biaya yang dikeluarkan mencapai 4 jt untuk rute Palangkaraya-Desa Sepang Simin di kabupaten Gunung Mas  maka terpaksa dibatalkan. Due to the budget restriction akhirnya kami memilih lewat jalan darat, suatu pengalaman baru!

Jangan dibayangkan jalan trans Kalimantan saat itu mulus. Sepanjang perjalanan darat, kami terombang-ambing dicampur deg-degan diguncang jalanan berpasir yang rusak dan menyeramkan. Walhasil keesokan harinya kami merasa sekujur tubuh menjadi rontok setelah menempuh perjalanan 12 jam non stop, harus diakui pengemudi mobil kami disana hebat! Itu baru perjalanan darat menuju lokasi sampling kami di sepanjang sungai Kahayan. Karena saat itu kami berfokus pada penambangan emas tanpa ijin, maka kami harus mempunyai data sebelum, mendekati sumber pencemaran, dan setelahnya. Kami menyusuri sungai naik klotok sampai menemukan titik yang tepat sesuai GPS  untuk mengambil sampel air sungai dan sedimen sambil membawa-bawa ice box berat dan perlengkapannya. Hal ini dilakukan dari satu titik ke titik lainnya yang mewakili daerah hulu sampai ke hilir,  sampai posisi terakhir di pelabuhan..

Tapi sesungguhnya, saya sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki di bumi Kalimantan gersang nan kaya-raya. Bisa menikmati ikan khas sungai Kahayan yang terasa lezat, memunguti batu-batu alam yang indah di tepian sungai, naik perahu klotok lengkap dengan life jacket sambil nervous karena ga bisa berenang, hehe.. memandangi sisa pohon-pohon yang terbakar, mendengar cerita mistis masyarakat Dayak, atau tentang putri junjung buih. Pokoknya saat itu saya jatuh cinta pada Palangkaraya, suka banget dengan kulinernya.

Kalau ada kesempatan, insya Allah pengen balik lagi…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s