Site survey : Situ Sangiang

Guna melengkapi informasi mengenai pengaruh deposisi asam terhadap pemantauan inland aquatic, anggota jaringan ACAP di Indonesia berusaha mendapatkan site yang masih masuk ke dalam kategori danau alami. Awalnya pemantauan ini dirintis oleh instansi Balai Lingkungan Keairan Bandung, yang mempunyai data komposisi kimia berbagai danau di Indonesia. Sampai saat ini kami memiliki 2 titik sampling yang disertakan dalam pemantauan di Indonesia yaitu Situ Patengan, Ciwidey dan Situ Gunung, Sukabumi. Setelah dilakukan rapat anggota, maka kami memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan site survey ini. Buat saya cuma satu kalimat ; …akhirnya, saya bisa sampai di Majalengka… ahaay

Perjalanan kami dimulai dari Jalan Pasteur, Bandung. Pukul 8 teng, mobil meluncur ke arah Sumedang guna melanjutkan jalan ke Majalengka. Menurut info, lamanya perjalanan  akan berlangsung selama 4 jam namun yang terjadi ternyata kami tiba di tempat lokasi jam 14 WIB. Tentu saja, selain dipotong  waktu shalat Jum’at untuk pak supir di daerah Tonjong, sementara kami asyik menikmati makan siang di warung sederhana dan murah depan masjid, kemacetan juga terjadi akibat adanya perbaikan jembatan. Saya tak akan melupakan betapa banyaknya porsi sup dengkil sapi yang enak (tapi lama-lama saya blenger, ga kuat juga karena kebanyakan dan gurih sekali) di tempat itu.  Warungnya direkomendasikan deh.. *soalnya juga karena ga sempet makan di tempat lain.. :)*

Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami menemukan lokasi yang dimaksud. Situ Sangiang terletak di kawasan hutan lindung gunung Ciremai, termasuk dalam kategori kawasan wisata dan ziarah. Info lengkapnya bisa diakses ke http://www.majalengkakab.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=44&Itemid=67

sedangkan cerita historikalnya bisa diakses langsung ke http://tatangmanguny.wordpress.com/kontroversi/melacak-jejak-kerajaan-talaga-toponomi-area-sekitar-situ-sangiang/ . Blog Bapak Tatang M.A ini banyak sekali mengulik  sejarah Majalengka di masa lalu. *Hatur nuhun nya Pak..*

Masuk ke area situ, pengunjung dimintai tiket masuk ‘setengah resmi’. Ada juga para pedagang roti/ makanan untuk ikan, selebihnya di tiap pintu gerbang, ada kotak amal yang diharapkan diisi suka rela oleh pengunjung biasanya diperuntukkan bagi para juru kunci. Menurut pengalaman pribadi, saya cuma merasa ada ‘sesuatu’ saat memasuki area wisata ini. Hening, lembab, dingin, dan sedikit mistis.. jadi membuat bulu kuduk sedikit merinding. Sebagai pendatang, tentunya kita hanya bisa bersikap hati-hati dan bertingkah santun. Tujuan kami ke lokasi ini, bukan untuk berziarah seperti pengunjung lain. Kami datang untuk mengambil sampel, mengecek air Situ.

Memandangi Situ ini, suasananya terasa amat tenang dan sepi, masih murni. Menurut info, tidak ada outlet dari Situ Sangiang jadi bentuk danaunya seperti mangkok, volume airnya tetap. Saya takjub melihat ikan mas dalam ukuran yang luar biasa besar dan banyak, bergerombolan menanti jatuhan remah-remah roti yang disebarkan pengunjung. Ikan-ikan tersebut dikeramatkan dan tidak pernah ada yang berani mengkonsumsinya. Ikan-ikan yang mati dikuburkan di pinggir situ. Sayangnya para pengunjung kurang menjaga kebersihan di sekitar situ, sampah-sampah plastik bekas pembungkus roti dibiarkan mengambang di permukaan air. Jadi amat sangat  mengurangi keindahan..

Rupanya di saat bersamaan, selain kami ada juga pengunjung yang berdatangan untuk berziarah. Orang-orang yang akan mandi diharuskan mengganti bajunya dengan kain putih di tempat ganti pakaian yang sederhana. Sebelumnya mereka berjongkok di pinggir situ, berdoa sambil dipimpin sang juru doa lalu masuk ke dalam air, membilas badannya sambil memberi makan ikan. Adapula yang mencoba peruntungan dengan menangkap dan menggendong ikan tersebut, hanya saja saya tak memahami artinya. Kami berfokus pada tujuan semula, namun juru kunci tak mengijinkan kami untuk ke tengah situ ataupun mereka juga tak berani jauh-jauh dari pinggiran karena alasan kekeramatan tadi. Maka sampel air hanya diambil di tempat yang agak jauh sedikit dari tepian, supaya tak tercemar makanan ikan.

Di atas segalanya, ke Majalengka adalah pengalaman berharga saya ke tempat yang tak pernah terpikir sebelumnya. Bahkan ketika akhirnya takdir tidak  menggariskan saya bersama dengan orang setempat. Berada di sini, membuat saya akhirnya bisa memahami perjuangan cukup jauhnya mendatangi kediaman saya di Sukabumi belasan tahun lalu. Saat ini kami sudah berbaikan dengan sebaik-baiknya dan saling berharap agar bahagia dengan jalan kehidupannya..

ps.  Ka SH.. akhirnya sampe sini juga, euy…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s